Soal Asupan Buka Puasa dan Sahur yang Tepat, Ini Saran Pakar Gizi

Oleh Liputan6.com pada 25 Apr 2020, 13:41 WIB
Diperbarui 25 Apr 2020, 13:41 WIB
Ilustrasi berbuka puasa
Perbesar
Ilustrasi berbuka puasa (Foto:Shutterstok)

Liputan6.com, Jakarta- Menerapkan gizi seimbang saat sahur dan buka puasa merupakan kunci tubuh tetap sehat selama menjalani bulan Ramadan. Namun, masih ada beberapa hal kesalahan yang kerap dilakukan dalam memilih menu sahur dan buka puasa.

Sahur bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi serta menjaga energi bertahan lama hingga nanti waktu buka puasa. Menurut ahli gizi Rita Ramayulis, pastikan terdapat protein dan karbohidrat kompleks dalam menu sahur.

Buka puasa dengan nasi jugatak masalah."Silakan asalkan sayur dikonsumsi sebanyak nasi, lebih banyak sayur lebih baik,' kata Rita dalam webinar bersama Kementerian Kesehatan 'Sehat dan Bugar Selama Puasa dan Bahagia Tanpa Mudik'.

Untuk buka puasa dan sahur, ada catatan khusus mengenai protein. Ada banyak pilihan mulai dari telur hingga daging sapi. Namun, pastikan pilih yang tidak berlemak. "Rendang? Itu jangan buat sahur karena memperberat kerja tubuh, bukannya bertenaga tapi lelah," katanya.

Saat buka puasa dan sahur, hindari juga mengonsumsi minuman diuretik seperti teh kental dan kopi. Minuman seperti ini justru membuat cepat haus. Lebih baik minum air putih sekitar empat gelas saat sahur.

Jangan yang Manis

"Berbuka puasa dengan yang manis-manis," begitu kata orang. Hal tersebut tidak salah, tapi bukan berarti mengasup minuman terlalu tinggi gula saat buka puasa.

"Ketika buka puasa tujuannya mengembalikan kadar glukosa darah, tentu perlu yang manis untuk menormalkannya tapi manisnya jangan lebai, justru kalau terlalu berlebihan malah menurunkan imunitas," kata Rita.

Lebih baik pilih menu buka puasa yang mengandung gula dengan zat mikronutrien di dalamnya. "Jadi, bukalah dengan aneka buah. Buka dengan pisang, kurma, semangka, itu sangat saya sarankan," tuturnya.

 

2 dari 2 halaman

Satu Sendok Makan Gula

Jika terbiasa minum teh manis, boleh saja. Asal ingat hanya boleh menambahkan satu sendok makan gula untuk satu gelas air.

"Jangan lebih dari itu, kalau lebih dari itu akan menstimulasi insulin yang ketika diproduksi berlebihan menurunka kadar glukosa darah. Bukannya bertenaga tapi lemas," tuturnya.

Mengenai asupan makan usai berbuka, pastikan menerapkan konsep gizi seimbang.

(Benedikta Desideria/Dyah Puspita Wisnuwardani)

Lanjutkan Membaca ↓