Luis Milla Ungkap Penyebab Hijrah ke Real Madrid dari Barcelona

Oleh Aning Jati pada 24 Apr 2020, 05:45 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 05:45 WIB
PSSI Ketemu Luis Milla
Perbesar
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla, usai bertemu dengan PSSI di New World Manila Bay Hotel, Jumat malam (29/11). Pelatih asal Spanyol itu memberikan presentasi tentang rencananya untuk Timnas Indonesia. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap)

Madrid- Jauh sebelum menukangi Timnas Indonesia, pada awal Januari 2017 hingga Oktober 2018, Luis Milla merupakan pemain andal. Pria asal Spanyol ini bahkan pernah membela dua tim elite Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. 

Luis Milla bisa dibilang produk Barcelona. Dia mencicipi tim usia muda di Barcelona sejak 1983. Kemudian, pada 1984 dia melakoni debut di La Liga.

Ia mengalami pasang surut karier semasa di Barcelona. Pria kelahiran Teruel, 12 Maret 1966 ini, mencoba bertahan, namun pada Juli 1990, dia resmi meninggalkan Blaugrana, menyeberang ke tim rival abadi; Real Madrid.

Luis Milla jadi bagian Real Madrid sejak 1 Juli 1990. El Real memboyongnya tanpa mengeluarkan uang alias free transfer. Saat itu, usia Luis Milla 24 tahun.

Dia menjadi satu dari sedikit pemain yang berani pindah ke klub rival. Seperti diketahui, pemain yang pindah dari Barcelona ke Real Madrid, dan sebaliknya, kerap jadi gunjingan dan bahkan mendapat cap pengkhianat.

Luis Milla mengaku merasakan itu semua. Ia juga mengungkapkan proses kepindahannya ke Real Madrid, bukan sesuatu yang mudah.

"Saat itu media ramai membicarakan kepindahan saya," kata Luis Milla dalam wawancara, dilansir dari Mundo Deportivo.

"Saya punya kenangan berharga, yang bagus maupun tidak. Ketika itu, situasinya sulit dan pada akhirnya, saya merasa seperti dipaksa untuk pergi ke Madrid," lanjutnya.

"Memang benar ada momen kontroversial dan keraguan, untuk mencapai kesepakatan dengan Barca. Situasi ini yang membuat Madrid tertarik pada saya, dan saya pun pergi," imbuh mantan gelandang bertahan itu.

Pada 1988, saat sudah dipastikan promosi ke tim utama, Luis Milla yang semestinya mendapat perpanjangan kontrak justru terlibat dalam situasi tak menyenangkan dengan manajemen klub dan pelatih Barcelona saat itu, Johan Cruyff.

Dan pergi dari Camp Nou menjadi keputusan terbaik yang diambil Luis Milla.

2 dari 2 halaman

Berbulan-bulan Tak Dimainkan Barcelona

Luis Milla
Perbesar
Pelatih Indonesia, Luis Milla, saat melawan Uni Emirat Arab (UEA) pada laga Asian Games di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Jumat (24/8/2018). Indonesia kalah adu penalti dari UEA. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Luis Milla mengaku masih ingat benar momen-momen terakhirnya di Barcelona.

"Saya melewati lima atau enam bulan yang rumit, berbulan-bulan tak dimainkan. Pelatih lebih mementingkan kepentingan klub ketimbang saya. Jadi, saya akhirnya berujung di Real Madrid. Saya berlabuh di klub besar dan saya di sana selama tujuh tahun," tuturnya.

Pada awal gabung, Luis Milla sempat dihantam cedera. Namun, dia berhasil bangkit dan berhasil masuk skuad inti serta berkontribusi atas raihan dua gelar La Liga dan satu trofi Copa Del Rey.

Di sisi lain, bisa bermain buat dua klub raksasa di La Liga jelas pengalaman luar biasa bagi seorang pemain. Luis Milla memiliki pandangan tersendiri terkait Real Madrid dan Barcelona.

Pria yang kini berusia 54 tahun ini menganggap Real Madrid memiliki sistem pencarian bakat yang bagus, namun Barcelona lebih tersistem dalam hal konsep dan ide dasar bermain sepak bola. Sistem ini membuat seluruh pemain Blaugrana memiliki kesamaan konsep bermain dengan tim utama, sehingga memudahkan pemain yang promosi.

Sumber: Mundo Deportivo

Disadur dari Bola.com (penulis Aning Jati, Published 23/2/2020)

Lanjutkan Membaca ↓