5 Tips Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Tengah Pandemi Corona Covid-19

Oleh Liputan6.com pada 22 Apr 2020, 13:40 WIB
Diperbarui 22 Apr 2020, 13:40 WIB
Ilustrasi remaja muda malu (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi remaja muda (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta- Fase remaja bisa dikatakan fase yang cukup sulit dalam pertumbuhan sesorang. Pada fase ini, sebagian besar orang akan mengalami krisis mental yang kurang stabil.

Apalagi, para remaja bisa mengalami situasi yang semakin sulit akibat pandemi virus corona covid-19. Dengan ditutupnya sekolah dan pembatalan berbagai acara, banyak remaja yang akan kehilangan beberapa momen penting dalam hidupnya.

Hal ini sangat berpengaruh dalam perkembangan remaja. Mereka bisa mengalami perubahan hidup karena merasa cemas, terisolasi dan kecewa karena wabah virus corona-19 ini.

Oleh karena itu, Unicef bersama Dr. Lisa Damour (psikolog) menjelaskan beberapa hal yang bisa dilakukan para remaja dalam menjaga kesehatan mentalnya di tengah pandemi corona covid-19.

 

2 dari 6 halaman

1. Menyadari Kecesamasan Diri

Seorang Ibu di Inggris Ikut Anaknya Kelas Agar Tidak Berlaku Kasar pada Guru
Perbesar
Ilustrasi remaja putra dan ibunya. (dok. psychologies.co.uk/Novi Thedora)

Perlu diketahui, bila seorang remaja cemas akibat penutupan sekolah merupakan hal yang wajar. Menurut para psikolog, hal itu merupakan fungsi normal dan sehat seseorang dalam mewaspadai sebuah ancaman.

”Perasaan-perasaan tersebut tidak hanya membantu menjaga dirimu, tapi juga orang lain. Hal inilah yang mencerminkan bagaimana kita ikut menjaga anggota masyarakat. Kita juga memikirkan orang-orang di sekitar kita, lho.” terang Dr. Damour melalui unicef.org.

 

3 dari 6 halaman

2. Cari Pengalihan

Dalam situasi cemas, seorang remaja harus menghadapinya dengan mencari pengalihan diri.

Banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk melampiaskan rasa cemas seorang remaja, seperti menonton film, mendengarkan musik, atau membaca novel.

 

4 dari 6 halaman

3. Manjaga Komunikasi Dengan Teman

Kelompok remaja (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi kelompok remaja (iStockphoto)

Situasi saat ini memang membuat para remaja kesulitan dalam bersosialasi. Namun, media sosal bisa menjadi solusi untuk menjaga komunikasi di tengah perintah physical distancing. 

“Menurut saya, remaja akan menemukan cara untuk [terhubung] dengan satu sama lain secara online melalui cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.” jelas Dr. Damour.

Namun, penggunaan ponsel dan gadget juga bisa menambah kecemasan seorang remaja apabila tidak digunakan dengan bijak. Oleh karena itu, peran orangtua sangat diperlukan dalam situasi ini. 

“[Tetapi] memiliki akses tanpa batas ke layar kaca atau media sosial itu bukan hal yang bagus. Itu hal yang tidak sehat dan tidak cerdas, dan bahkan bisa menambah rasa cemasmu,” tambahnya.

 

5 dari 6 halaman

4. Fokus Pada Diri Sendiri

Dr. Damour menjelaskan, cara yang paling efektif dalam menghilangkan kecemasan adalah dengan fokus pada diri sendiri.

Melakukan hal-hal produktif atau mencoba hal baru seperti membaca buku atau memainkan alat musik bisa membantu remaja dalam menjaga kesehatan diri.

6 dari 6 halaman

5. Pahami Perasaan 

Ilustrasi remaja
Perbesar
Ilustrasi remaja. Sumber foto: unsplash.com/Matheus Ferrero.

Seorang remaja harus bisa mengetahui perasaan yang sedang dialami. Merasakan perasaan sedih atau kecewa merupakan hal yang wajar. Jika seorang remaja bisa membiarkan dirinya merasa sedih, ia akan lebih cepat merasa lebih baik.

Setiap remaja memiliki cara berbeda dalam megolah perasaan. Hal yang terpenting adalah, cara seorang remaja dalam mengatasinya dengan hal yang benar.

(Balwa Ramadhan/Mg)

Lanjutkan Membaca ↓