Hanya Fabio Capello yang Bikin Zlatan Ibrahimovic Gemetar dan Mati Kutu

Oleh Yus Mei Sawitri pada 20 Apr 2020, 19:50 WIB
Diperbarui 20 Apr 2020, 19:50 WIB
Zlatan Ibrahimovic
Perbesar
Fabio Capello mengatakan Zlatan Ibrahimovic harus menghabiskan banyak waktu untuk melatih tendangannya ketika awal tiba di Juventus. (AFP/Filippo Monteforte)

Malmo- Zlatan Ibrahimovic tipikal pemain yang kenyang dengan sentuhan banyak pelatih berkelas dunia. Diawal saat membela Malmo FC hingga kini kembali ke AC Milan.

Kisah Zlatan dan pelatihnya yang paling fenomenal tentu saja di Barcelona. Pemain asal Swedia tersebut terang-terangan mengaku tidak suka dengan Pep Guardiola. Saking tidak sukanya, cerita konflik dirinya dengan Guardiola saat di Barcelona ditempatkan pada bab pertama otobiografinya berjudul "I Am Zlatan, My Story on and of the Field". 

Jika terang-terangan mengaku tak akur dengan Guardiola, Zlatan Ibrahimovic dengan terbuka juga memuji Jose Mourinho. Hubungan keduanya cukup hangat, saat bekerja sama di Inter Milan dan Manchester United. Bahkan, Zlatan pernah bilang "siap mati di lapangan" untuk Mourinho. 

Selain dua sosok tersebut, Zlatan Ibrahimovic juga mengungkap cerita menarik tentang pelatihnya saat membela Juventus selama dua musim, pada 2004-2006. Saat itu, Juventus diarsiteki pelatih kharismatik Fabio Capello. 

Ternyata Capello merupakan sosok pelatih yang mampu membuat Zlatan mati kutu. Menurut Zlatan, tak ada pemain yang berani membantah atau beradu argumen dengan Capello. Aura Capello membuat pemain mengkerut, setidaknya menurut Zlatan. 

Fabio Capello bisa dibilang mampu membikin Zlatan Ibrahimovic gemetar. Seperti yang dituangkan pada otobiografinya. Dia bercerita suatu hari dipanggil Capello. 

"Fabio Capello, mungkin pelatih tersukses di Eropa dalam 10 tahun terakhir saat itu. Dia memanggil saya dan saya berpikir, apa yang saya lakukan sekarang? Seluruh ketakutan saya waktu masih bocah tentang pertemuan langsung kembali, dan Capello bisa bikin setiap orang grogi," urai Zlatan. 

"Wayne Rooney pernah bilang ketika Capello (saat menjadi pelatih Timnas Inggris) berjalan melintasi koridor, sesaat terasa Anda seperti mati. Itulah kenyataannya. Dia biasanya hanya mengambil kopi dan melewati Anda tanpa memperhatikan. Rasanya nyaris mengerikan," ujar Zlatan Ibrahimovic.

2 dari 3 halaman

Tak Berani Menatap Mata Capello

Fabio Capello
Perbesar
Fabio Capello. (AFP/Kirill Kudryavtsev)

Zlatan Ibrahimovic pernah mendapat cerita bahwa pemain-pemain Italia terkadang tak patuh dengan instruksi pelatih. Mereka tak mau melompat begitu saja karena pelatih menginstruksikan seperti itu. Namun, mengabaikan pelatih tidak berlaku untuk Capello. 

"Orang-orang bersikap baik di sekelilingnya," kata Zlatan. 

Ibrahomovic juga menceritakan betapa mengerikan saat melihat Fabio Capello marah. Para pemain hanya bisa tertunduk dan berusaha memberikan yang terbaik di lapangan, jika tak ingin mendapat konsekuensi yang buruk.  

"Ketika Capello marah, sulit mendapati pemain yang berani menatap matanya. Jika dia memberi Anda kesempatan dan Anda tak memanfaatkannya, Anda sebaiknya menjual hot dog di luar stadion," ujar Zlatan.

"Anda tak bisa menemui Capello untuk menceritakan masalah. Dia bukan temanmu. Dia tidak mengobrol dengan pemain, bukan yang tipenya seperti itu. Bukan tanda-tanda yang baik jika ia memanggilmu," imbuh Zlatan, yang pernah memperkuat PSG, Real Madrid, Inter Milan, AC Milan, Manchester United hingga LA Galaxy. 

  

3 dari 3 halaman

Respek Tinggi untuk Capello

Zlatan Ibrahimovic
Perbesar
Petarungan sesungguhnya dimulai saat Zlatan Ibrahimovic merumput di Serie A Italia dengan bergabung bersama Juventus. Hanya dua musim membela Si Nyonya Tua, Ibra memilih untuk pindah ke Inter Milan karena tidak cocok dengan Luciano Moggi. (AFP/Patrick Hertzog)

Meskipun kerap mati kutu dan gemetar di depan Capello, Zlatan Ibrahimovic sama sekali tak membencinya. Pemain yang memakai gaya rambut kuncir tersebut mengaku sangat respek terhadap Capello. 

Menurutnya, Capello sosok pelatih yang bisa memporak-porandakan pemainnya, kemudian membangunnya lagi menjadi lebih kuat. 

Zlatan mengenang suatu hari dalam sebuah sesi latihan Capello memberi instruksi singkat. "Dia bilang 'Masuk ke dalam, di luar lapangan'. Saat itu, tak ada seorang pun yang mengerti maksud Capello," ungkap Ibrahimovic. 

"Setelah itu tak ada sesi latihan lagi pada hari tersebut. Tentu rasanya membingungkan. Tapi, tentu saja dia memikirkan sesuatu di benaknya. Dia ingin kami kembali keesokan harinya, bersemangat seperti prajurit." 

"Saya suka gayanya itu, karena saya tak dibesarkan dengan banyak pelukan. Saya suka sosok yang punya kekuatan dan kelakuan yang baik. Selain itu Capello memercayai saya," sambung Zlatan. 

Zalatan mengatakan ada perkataan Capello yang terus melekat di benaknya, bahkan setelah sekian lama. Kata-kata itu diucapkan Capello saat hari pertama Zlatan Ibrahimovic tiba di Turin.

"Dia bilang bahwa saya tak perlu membuktikan apa pun. Dia tahu siapa saya dan apa yang bisa saya lakukan. Kata-kata itu membuat saya merasa aman," kata Zlatan. 

Selama dua musim di Juventus, Ibra ikut mengantarkan Bianconeri meraih dua gelar Serie A. Sayangnya, dua gelar tersebut kemudian dicopot karena Juventus terbukti terlibat skandal pengaturan skor, yang dikenal sebagai calciopoli. Bianconeri juga dihukum degradasi ke Serie B.

Zlatan Ibrahimovic memilih hengkang ketika Juventus tergusur ke Serie B. Pemain Swedia itu menerima pinangan dari Inter Milan. 

Sumber: Otobiografi I Am Zlatan 

Disadur dari Bola.com (Yus Mei Sawitri,published 20/4/2020)

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓