Jadi Sopir Ambulans, Begini Suka Duka Relawan Gugus Tugas Corona Covid-19

Oleh Liputan6.com pada 17 Apr 2020, 19:20 WIB
Diperbarui 17 Apr 2020, 19:20 WIB
Ika Dewi Maharani
Perbesar
Ika Dewi Maharani Relawan Medis Sopir Ambulan khusus Covid-19. Foto: Tangkapan layar Youtube BNPB Indonesia

Liputan6.com, Jakarta- Menjadi satu satunya relawan perempuan tidak melunturkan semangat Ika Dewi Maharani menjadi sopir ambluans di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Covid-19.

Angka kasus positif Corona Covid-19 yang semakin melunjak membuat dirinya terpanggil untuk membantu sesama. Selain itu, jumlah pertugas ambulans yang kurang memadai membulatkan tekat Ika menjadi supir ambluans.

“Dengan keahlian yang saya miliki, saya bisa menyetir, saya basic perawat, jadi pas saya sesuai dengan panggilan hati, dengan kemampuan yang saya punya, saya harus melayani,” terang Ika dikutip dari covid19.go.id.

Ika sendiri merupakan salah satu anggota Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI). Gadis asal Maluku Utara itu kini tinggal di mess yang disediakan BNPB dan bertugas di rumah sakit Universitas Indonesia.

Dalam hal merawat pasien Corona Covid-19 di rumah sakit, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ika. Namun, menjadi supir ambulans merupakan pengalaman pertama selama hidupnya.

“Untuk ambulans baru pertama kali di dalam hidup saya, tapi ya gitu, ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangin,” papar Ika.

“Sudah bunyikan sirine, tapi kadang orang-orang di sekitar kita tidak peka untuk memberikan jalan buat kita karena kita mengangkut pasien, ya untung ada orang dengan kesadaran memberikan jalan, jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk,” tambahnya.

2 dari 3 halaman

Risiko Tinggi

Negatif Corona, Satu WNA Dipulangkan dari RSPI Sulianti Saroso
Perbesar
Petugas menyiapkan mobil ambulans untuk membawa pasien terduga virus corona di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (5/3/2020). Satu WNA terindikasi virus corona diizinkan pulang setelah hasil pemeriksaan, WNA itu negatif corona. (merdeka.com/Imam Buhori)

Berhubungan langsung dengan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pasien positif corona membuat Ika memiliki resiko tinggi.  Baginya, keamaan merupakan kunci utama dalam menjalankan tugasnya.

Meski telah menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, Ika masih merasa takut terhadap pandemi asal Wuhan, Cina tersebut. Namun, rasa takutnya tidak sebanding dengan semangat kemanusiaan yang dimiliki Ika.

“Rasa takut ada pasti, cuma ini harus kita lihat lagi, ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis, kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir pasien itu kita harus tangani,” terang Ika.

 

3 dari 3 halaman

Segera Berakhir

Berusaha dengan mengabdikan diri sebagai relawan Covid-19, Ika berharap pendemi satu ini bisa segera berakhir dan situasi kembali menjadi normal.

“Dengan kita mengabdikan diri sebagai relawan kita harap penanggulangannya ini semakin cepat, jadi bencana ini cepat akan berakhir,” tutupnya.

(Balwa Ramadhan/Mg)

Lanjutkan Membaca ↓