Penerapan Social Distancing yang Tepat pada Anak di Tengah Pandemi Corona Covid-19

Oleh Aning Jati pada 28 Mar 2020, 17:10 WIB
Diperbarui 28 Mar 2020, 17:10 WIB
Anak bermain di luar
Perbesar
Ilustrasi anak bermain (iStockphoto)

Jakarta - Pemerintah Indonesia menerapkan beberapa kebijakan untuk mengendalikan penyebaran virus Corona penyebab COVID-19, seperti mengimbau siswa tidak ke sekolah, namun belajar dari rumah masing-masing.

Selain itu, ada juga kebijakan menjaga jarak fisik (social/physical distancing). Hal ini menjadi tantangan tidak hanya bagi orang tua, melainkan juga sang anak sendiri. Pasalnya, mereka diminta untuk mengubah rutinitas mereka.

Kedisplinan baik dari orang tua maupun anak itu sendiri, menjadi kunci kebijakan ini berjalan baik. Tentu tidak mudah, melakukan proses belajar di rumah.

Ada banyak "godaan" untuk tetap fokus pada mata pelajaran yang sedang dipelajari, mulai televisi, telepon seluler, hingga keinginan bermain karena merasa sedang menjalani masa libur.

Perlu diingat, sekolah diliburkan bukan berarti kegiatan belajar dan mengajar ikut libur. Anak-anak tetap harus belajar, dan mengerjakan tugas yang diberikan para guru, serta mematuhi "aturan" saat masa karantina mandiri di rumah.

Secara khusus, Psikolog, Rose Mini, mengingatkan para orangtua supaya tidak membiarkan anak-anaknya bermain ke rumah tetangga.

Wanita bergelar Magister Psikologi itu berujar bahwa di rumah, bukan berarti orang tua mengizinkan anak-anak mereka bermain ke rumah tetangga.

Sebaiknya, anak harus tetap berada di dalam rumah mengingat tujuan mereka diminta belajar di rumah dan tidak di sekolah adalah untuk meminimalisasi risiko mereka tertular virus Corona, khususnya dari orang dewasa yang ada di sekitar mereka.

"Kalau anak dibiarkan main ke rumah tetangga, lantas memegang barang-barang lalu belum sempat mencuci tangan sudah memegang mata, mulut, dan telinga, risiko yang seharusnya dapat dihindari bisa-bisa malah menghampiri," ujar Rose Mini.

"Segala pegang sesuatu yang umum, anak harus cepat-cepat cuci tangan. Orang tua harus mengajarkan itu ke anak," lanjutnya.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Pentingnya Pemahaman

Liputan 6 default 2
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan6

Dengan para orang tua memahami bahwa situasi sekarang bukan masa liburan, sebaiknya rencana-rencana meninggalkan rumah bersama anak juga ditunda, seperti membawa anak ke mal

"Karena beberapa terlihat ada orangtua karena mumpung sepi, membawa anaknya ke mal," kata Rose Mini.

Tantangan lain orang tua adalah bagaimana menciptakan kondisi di mana anak tidak muda merasa bosan karena melakukan aktivitas di dalam rumah. Orang tua dituntut bisa menciptakan kegiatan agar anak senang di rumah.

"Selama dua pekan ini, orangtua harus mengedukasi anak tentang Virus Corona. Orang tua harus memberikan pengertian tentang pentingnya berada di rumah selama 14 hari," kata Rose Mini.

 

 

3 dari 3 halaman

Tetap Belajar dari Rumah

Orang tua pun harus memberikan pemahaman bahwa sekolah sebenarnya ada, tetapi sekarang dipindahkan ke rumah. Itu menjadi alasan tidak boleh ke mana-mana dan harus tetap belajar di rumah.

"Berikan pemahaman secara bertahap sebelum akhir pekan sehingga saat akhir pekan, anak tahu tidak boleh jalan-jalan ke luar rumah," tandasnya.

Sumber Asli: Liputan6.com

Disadur dari: Merdeka.com (Penulis: Rizky Wahyu Permana. Published: 21/3/2020)

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus Corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.

Lanjutkan Membaca ↓