Pria Inggris Ingin Sulap Maladewa Jadi Negara Sepak Bola

Oleh Marco Tampubolon pada 16 Jan 2020, 20:30 WIB
Diperbarui 16 Jan 2020, 20:30 WIB
Maldives

Liputan6.com, Jakarta Maladewa bukan negara yang bakal terlintas di kepala saat membicarakan sepak bola. Maladewa lebih lekat dengan pasir putih, laut bening, dan langit yang biru.

Tempat berlibur para pesohor dan kaum berduit. Negara yang sempat menghebohkan Indonesia saat Aburizal Bakrie memboyong kakak-adik Marcella Zalianty dan Olivia Zalianty berlibur jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang lalu. 

Maladewa, negara kecil yang berada di Asia Selatan itu memang tersohor oleh alamnya yang indah. Beragam resor mewah berdiri di sana menawarkan berbagai paket wisata berkelas dunia.

Tidak aneh bila selebritis sekelas David dan Victoria Beckham tertarik berkunjung ke sana. Prince William dan Kate Middleton juga pernah berlibur ke Maladewa. Begitu juga dengan model cantik Kate Moss.

Namun pria asal Inggris, Judan Ali, punya mimpi berbeda. Sosok yang ditunjuk sebagai Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Maladewa sejak November 2019 ingin mengubah 'surga tersembunyi' itu menjadi negara sepak bola. Dan mimpi terdekat mereka adalah lolos ke Piala Dunia Qatar 2022. 

Judan Ali berusia 46 tahun. Berasal London Timur, Inggris dan pernah menjadi pelatih di akademi sepak bola Barcelona, La Masia. Judan Ali diberi waktu selama 10 tahun untuk membenahi sepak bola Maladewa. Mulai dari tataran akar rumput hingga level senior untuk tim putra maupun tim putri. 

 

"Tugas saya yang paling pertama adalah mencari pelatih untuk tim utama, sebab kontrak pelatih saat ini akan berakhir pada bulan Maret mendatang," kata Judan Ali kepada media asal Inggris, The Sun. 

Tugas ini memang penting. Sebab Maladewa berpeluang melaju ke Piala Dunia Qatar 2022 bila berhasil mengalahkan China, Suriah, dan Filipina. Saat ini, timnas Maladewa masih berada di urutan keempat klasemen Grup A babak kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia dengan total 6 poin dari lima laga.  

Beragam pelatih sudah dihubungi Ali. Mulai dari Rivaldo yang baru saja meraih lisensi pelatih kategori A dari UEFA hingga Peter Raid. Judan Ali juga berniat menghubungi legenda Inggris, Bryan Robson. 

"Julio Cesar, Maniche, Nolberto Solano juga masuk pertimbangan kami. Merekalah yang antusias berbicara kepada saya," kata Judan Ali menambahkan. "Yang berminat sangat banyak. Saya sudah menerima sekitar 150 CV. Tapi saya tidak menjual kemewahan liburan kepada mereka," katanya.

 

2 of 3

Yaya Toure Sampai Kagum

pemain terbaik Benua Afrika
2012, 2013, 2014 : Yaya Toure - Gelandang kelahiran Pantai Gading ini meraih penghargaan pemain terbaik Benua Afrika tiga kali berturut-turut saat berseragam Manchester City.(AFP/Oli Scarff)

Mengubah Maladewa menjadi negara sepak bola tentu bukan perkara mudah. Cuaca yang panas menjadi tantangan bagi para pemain. Suhu yang bisa meningkat hingga 30 derajat Celcius pada siang hari tidak jarang membuat para pemain di Maladewa hanya bisa berlatih di sore hari saja. 

Selain itu, penduduk Maladewa juga tidak banyak. Selain itu rata-rata pemain sudah punya pekerjaan tetap, termasuk sebagai nelayan. Bagi mereka sepak bola hanyalah sampingan, bukan profesi utama. 

Namun Judan Ali optimistis tidak sedang menggarami lautan. Menurut Judan Ali, potensi memajukan sepak bola di Maladewa justru sangat besar karena kaya dengan talenta-talenta berbakat.

"Saya telah memonitor para pemain ini dalam empat sampai lima tahun terakhir. Teknik mereka natural, sangat bergaya Spanyol, hampir seperti Barcelona-esque," kata Judan Ali.

Anak-anak baik pria maupun wanita juga mencintai sepak bola. Mereka tumbuh dan besar bersama kompetisi Premier League Maladewa dan bermimpi suatu saat bisa seperti pemain-pemain idolanya.   

"Bagi saya itulah yang menjual dari pekerjaan ini. Kultur sepak bola sangat besar di sini. Kami akan buka pusat pembinaan pada bulan Maret yang akan dihuni sekitar 100 orang anak dan mendapat pasokan makanan dan latihan dengan standar yang tinggi," kata Judan Ali. 

"Yaya Toure mengunjungi kami bulan lalu dan dia kagum. Jika kami bisa memiliki delapan pusat pelatihan seperti ini di sekitar pulau, siapa yang tahu apa yang akan terjadi lima atau enam tahun ke depan?. Bukan tidak mungkin Maladewa jadi sangat kuat di masa depan," kata Ali.

3 of 3

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓