4 Pemain yang Pernah Sampaikan Sikap Politik Selain Mesut Ozil

Oleh Hanif Sri Yulianto pada 23 Des 2019, 14:25 WIB
Diperbarui 23 Des 2019, 14:25 WIB
Pesepakbola Gaji Tertinggi
Perbesar
10. Mesut Ozil (Arsenal) - 1,4 juta pound (Rp 25,2 miliar).(AP/Kirsty Wigglesworth)

London - Pekan lalu Mesut Ozil menjadi sorotan di seluruh dunia. Bukan karena aksinya di lapangan, tapi karena komentarnya soal kebijakan pemerintah China terhadap minoritas Muslim Uighur.

Atas komentar tersebut, stasiun televisi China menghapus pertandingan Arsenal melawan Manchester City dari jadwal penyiaran. Mereka juga menghapus karakter Ozil dari gim Pro Evolution Soccer edisi China.

Namun, ini bukan pertama kalinya Ozil tersangkut masalah terkait sikap politiknya. Pada medio 2018, ia juga mendapat masalah ketika berpose dengan Recep Tayyip Erdogan.

Foto tersebut memicu perdebatan besar bagi fans sepak bola Jerman yang berakhibat Ozil keluar dari Timnas Jerman. Ia pun kemudian mengeluarkan pernyataan panjang dan keras di Twitter.

Mesut Ozil menuduh Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) fanatik dan diskriminasi kerena nenek moyangnya yang berasal dari Turki. "Saya seorang Jerman ketika kami menang, tapi saya seorang imigran ketika kami kalah," tulis Ozil di media sosial Twitter.

Namun, Mesut Ozil bukan pemain sepak bola pertama yang blak-blakan terkait sikap politiknya di depan umum. Bola.com merangkum empat pemain bola lainnya yang dikutip dari Sportskeeda, Minggu (22/12/2019).

2 dari 5 halaman

1. Pep Guardiola

Manajer Manchester City, Pep Guardiola
Perbesar
Manajer Manchester City, Pep Guardiola. (AP Photo/Rui Vieira)

Pep Guardiola merupakan pemain yang besar di Barcelona dan kini sukses menjadi seorang pelatih. Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City menjadi klub yang telah sukses berkat tangan dinginnya.

Namun, ternyata Pep Guardiola juga memiliki sikap politik terkait kemerdekaan Catalonia. "Kami telah mencoba 18 kali untuk mencapai kesepatan tentang referendum dan jawabanya selalu tidak ada," kata Guardiola.

"Kami tidak punya pilihan selain memilih. Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung kami dan para demokrat di seluruh dunia untuk membantu kami mempertahankan hak-hak yang terancam di Catalonia, seperti ha kebebasan bereskpresi dan hak untuk memilih," ucapnya.

3 dari 5 halaman

2. Diego Maradona

Pelatih Hebat yang Kecanduan Merokok
Perbesar
3. Diego Maradona - Maradona memang akrab dengan rokok, bahkan legenda asal Argentina ini tertangkap kamera tengah merokok cerutu saat menyaksikan laga Argentina vs Islandia di Spartak Stadium. (AFP/Pedro Pardo)

Diego Maradona merupakan pemain sepak bola yang blak-blakan terkait sikap politiknya selama kariernya. Ia vokal sebagai pendukung gerakan kiri seperti Fidel Castro dan kritikus Amerika Serikat.

Ia pun pernah melayangkan protes saat mantan presiden Amerika Serikat, George W. Bush saat berkunjung ke Argentina.

"Saya pikir Bush adalah seorang pembunuh. Saya akan memimpin pawai ketika ia menginjakkan kaki di tanah Argentina," kata Maradona.

"Saya percaya kepada Chavez. Segala sesuatu yang Fidel lakukan, semua Chavez lakukan, karena saya adalah yang terbaik," imbuhnya.

Maradona pun mempunyai tato Fidel Castro dan Che Guevara di tubuhnya.

4 dari 5 halaman

3. Javier Zanetti

Javier Zanetti
Perbesar
Javier Zanetti ikut berkomentar soal masa depan Diego Simeone. (MARCO BERTORELLO / AFP)

Javier Zanetti merupakan mantan pemain Argentina yang berkiprah di Inter Milan. Saat masih bermain ia terlihat aktif dalam masalah sosial di Amerika Latin.

Berkat Zanetti, Inter milan bersedia menyumbang sebagian uangnya, ambulans, pakaian serta peralatan olahraga untuk mendukung gerakan pemberontak Zapatista.

"Kami percaya kepada dunia yang lebih baik, di dunia yang tidak terglobalisasi, diperkaya oleh perbedaan dan kebiasaan semua orang. Inilah mengapa kami ingin mendukung Anda dalam perjuangan ini untuk mempertahankan Anda dan memperjuangkan cita-cita Anda," ujarnya.

5 dari 5 halaman

4. Socrates

Socrates
Perbesar
Mantan kapten timnas Brasil, Socrates, ternyata memiliki gelar akademik Dokter dan Ph.D Filsafat.

Socrates saat masih bermain turut berjuang untuk memulihkan demokrasi selama kediktatoran militer Brasil (1964-1985). Dengan melakukan itu, ia memperkenalkan konsep demokrasi dan kebebasan berbicara kepada generasi Brasil yang hanya tahu penindasan.

"Sepak bola datang secara tidak sengaja. Saya lebih tertarik kepada politik. Mata saya selalu tertuju pada ketidakadilan sosial di negara ini. Saya kebetulan pandai sepak bola yang memberi jalan masuk ke lingkungan yang sangat berbeda dan istimewa," kata Socrates.

"Jika orang tidak memiliki kekuatan untuk mengatakan sesuatu, dan kemudian saya akan mengatakannya untuk mereka. Sementara saya adalah seorang pemain bola, kaki saya diperkuat oleh suara," imbuhnya.

Disadur dari: Bola.com (penulis Hanif, editor Benediktus, published 23/12/2019)

Lanjutkan Membaca ↓