Di Ambang Juara Dunia MotoGP 2019, Ini 4 Fakta Unik Marc Marquez di Masa Kecil

Oleh Hesti Puji Lestari pada 04 Okt 2019, 08:15 WIB

Diperbarui 04 Okt 2019, 09:17 WIB

Marc Marquez, MotoGP Aragon 2019

Jakarta - Rider Repsol Honda Marc Marquez tampil dominan pada MotoGP 2019. Sudah mengoleksi 300 poin, dia mantap duduk di puncak klasemen dan hampir pasti mempertahankan gelar juara dunia.

Rider berjuluk Baby Alien tersebut sudah unggul 98 poin atas Andrea Dovizioso yang kini bercokol di posisi kedua klasemen sementara. Padahal perhelatan MotoGP 2019 tingal menyisakan lima seri lagi.

Itu artinya, peluang Dovizioso dan sederet rider MotoGP lainnya tipis untuk menjegal laju Marquez menuju gelar juara dunia. Sejumlah pengamat menilai, hanya insiden besar dan mengejutkan yang bisa memupus gelar juara dunia Marc Marquez musim ini.

Marc Marquez hanya butuh meraup dua poin lebih banyak daripada Andrea Dovizioso di MotoGP Thailand, Minggu (6/9/2019), untuk menjadi juara dunia untuk kali kedelapan atau yang keenam di kelas premier. 

Marc Marquez disebut sangat diuntungkan dengan sederet komponen Honda RC213V. Motor tim Repsol Honda itu dikabarkan sengaja dibuat untuk mengakomodasi gaya membalap Baby Alien.

Di balik garangnya Marquez di lintasan balap, tim Bola.com menemukan sederet fakta unik dari peraih tujuh gelar juara dunia MotoGP itu. Nah, untuk kamu yang penasaran, berikut rangkuman lima fakta unik tentang Marc Marquez.

2 of 5

1. Meminta Motor pada Usia 4 Tahun

Marc Marquez
Pembalap Repsol Honda, Marc Marquez. (AFP/Jean-Francois Monier)

Marquez tumbuh besar di Cavera, Spanyol. Cavera dikenal sebagai salah satu kota yang sangat dekat dengan budaya balap.

Oleh sebab itu, dunia balap bukan hal yang asing bagi Marquez kecil. Apalagi, ayah, ibu, dan pamannya menjadi volunter dari sebuah klub balap lokal bernama Moto Club Segre.

Marc Marquez sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia balap sejak usia 4 tahun. Pada usia tersebut, ia telah meminta sebuah motor balap pada orang tuanya.

Ayah Marc Marquez, Julia Marquez, lantas membelikan Marqiez kecil motor balap khusus untuk anak-anak. Menariknya, motor milik Marc Marquez punya penyangga ala sepeda anak-anak yang berfungsi untuk menjaga posisi motor agar tetap seimbang.

3 of 5

2. Asupan Bergizi untuk Pertumbuhan

Marc Marquez
Marc Marquez. (Gabriel Buoys/AFP)

Saat berusia 5 tahun, Marquez sudah memiliki cita-cita menjadi pembalap. Sayangnya, Marquez mengalami proses pertumbuhan yang cenderung lebih lambat daripada kawan-kawannya.

Sang ibu, Roser Alenta, lantas memberikan asupan gizi yang cukup untuk mengoptimalkan pertumbuhan Marquez dengan kerap memberinya jus buah. 

Usaha sang bunda tak sia-sia. Marquez akhirnya bisa menekuni hobinya dan menjadi pembalap besar seperti sekarang ini. 

4 of 5

3. Ikut Kompetisi Balap pada Usia 6 Tahun

Marc Marquez Kecil
Ternyata motor pertama Marc Marquez bukanlah Honda, melainkan sang kompetitor abadi, si garputala, Yamaha (Foto: Twitter.com/@marcmarquez93).

Kecintaan Marquez terhadap dunia balap sudah terbentuk sejak kecil. Buktinya, Marc Marquez mulai ikut kompetisi balap pertamanya di usia 6 tahun.

Saat itu, Baby Alien turut berkompetisi pada perhelatan Spanich Enduro for Youngsters kategori 500cc. Setelah itu, ia menjadi salah satu kontestan pada perhelatan Catalan Motocorss and Enduro Championship pada 1999.

Sisanya adalah sejarah. Baby Alien tak pernah berhenti menorehkan prestasi di lintasan balap. 

5 of 5

4. Karier Cemerlang Sejak Kecil

Marquez berhasil menjadi runner-up pada perhelatan Catalan Motocorss Championship yang diadakan pada 2000. Pada 2001, ia menjadi pemenang pada kompetisi yang sama dan duduk di peringkat tiga pada ajang Catalan Speed Championship 2002.

Selanjutnya pada 2004, Marc Marquez mulai menjajaki kelas 125cc. Luar biasanya, ia berhasil merebut juara di tahun pertamanya dalam kelas tersebut.

Marquez bahkan menjadi pemenang dalam kompetisi yang sama pada tahun 2005 dan 2006 pada Catalan Speed Championship kelas 125cc. Memang sudah berbakat sejak muda ya?

 

Disadur dari: Bola.com (Penulis: Hesti Puji Lestari/Editor: Yus Mei Sawitri, published 3/10/2019)

Lanjutkan Membaca ↓