Pemain Tewas di Lapangan Sehari Setelah Ungkap Penyakitnya ke Media

Oleh Marco Tampubolon pada 26 Apr 2019, 18:00 WIB
Ilustrasi Sepak Bola

Liputan6.com, Jakarta Nasib tragis menimpa salah seorang pesepak bola asal Burundi, Faty Papy. Pemain berusia 28 tahun tersebut tewas di tengah lapangan akibat penyakit yang dideritanya. 

Seperti dilansir Marca, Papy mengalami serangan jantung saat memperkuat Malanti Chiefs menghadapi Green Mamba di Stadion Killarney, Kamis waktu setempat. Di tengah laga, Papy tiba-tiba terjatuh dan petugas medis dengan peralatan seadanya gagal menyelamatkannya.

Insiden ini sebenarnya bisa dicegah. Sebab sehari sebelum pertandingan, Papy telah mengungkapkan masalah jantung yang tengah dihadapinya kepada salah satu surat kabar lokal. Papy bahkan mengaku telah mendapat peringatan dokter terkait penyakitnya.

Kondisi ini menjadi judul dalam salah satu artikel yang diterbitkan usai wawancara itu. Namun entah kenapa Papy tetap memaksakan diri untuk tampil saat bertemu Green Mamba.

"Siang rekan-rekan pecinta sepak bola. Saya sedang membaca wawancara Papy Faty dan itu benar-benar membuat saya khawatir. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk resiko yang tidak perlu. Ya, dia mencintai sepak bola tapi kesehatan seharusnya yang utama teman-teman," tulis salah pengguna Twitter, @isothamlilo saat mengunggah artikel mengenai Papy.

 

 

Meski tidak pernah bermain di Liga Super Turki, Papy sempat menjalani kareir sebagai pemain Trabzonspor, sejak 2008 hingga 2011. Dia kemudian kembali ke Afrika dan bermain dengan beberapa klub, termasuk APR FC dan Bidvest Wits. Papy juga merupakan bagian dari timnas Burundi dan sempat tampil pada babak kualifikasi Piala Afrika di Mesir.

 

2 of 2

Dikenal Sosok yang Baik

Papy bermain di posisi gelandang. Pria kelahiran 18 September 1990 itu dikenal sebagai pemain tak kenal kompromi di lapangan. Namun di luar laga, Papy adalah sosok yang baik. 

"Papy Faty adalah orang yang secara tidak sengaja mencederai saya saat pertama kali menderita cedera lutut saat Telkom QF vs Wits. Saat itu saya berusia 23 tahun. Saya ingat dia mengirim pesan setelah laga dan meminta maaf. Dia berharap saya sukses dan berkata akan selalu mendoakan saya," tulis salah seorang pemain, Keagan Buchanan. 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓