Diejek Fans Inter Milan, Bek Napoli: Saya Bangga Berkulit Hitam

Oleh Cakrayuri Nuralam pada 28 Des 2018, 20:20 WIB
Diperbarui 28 Des 2018, 21:16 WIB
Juventus-Napoli

Liputan6.com, Milan - Bek Napoli, Kalidou Koulibaly menjadi korban rasisme fans Inter Milan di Stadion San Siro pada Rabu (26/12/2018) atau Kamis dini hari WIB dalam lanjutan Liga Italia.

Dalam pertandingan yang dimenangkan Inter Milan dengan skor 1-0 itu, Koulibaly mendapat nyanyian dengan nada rasisme. Kejadian itu berlangsung usai dia mendapat kartu merah dari wasit Paolo Silvio Mazzoleni di menit ke-80.

Usai pertandingan, pemain berusia 27 tahun tersebut mengatakan, dia tak pernah minder terlahir sebagi orang kulit hitam. Namun, dia kecewa dengan kekalahan yang dialaminya.

"Saya bangga dengan warna kulit saya. Menjadi seorang (warga negara) Prancis, Senegal, dan Napolitan. Saya seorang manusia," kata Koulibaly di Twitter pribadinya.

"Saya minta maaf atas kekalahan ini (dari Inter Milan) dan terutama meninggalkan teman-teman saya," ucap mantan pemain Genk itu menegaskan.

2 dari 3 halaman

Hukuman untuk Inter Milan

Inter Milan Vs Napoli
Striker Inter Milan, Lautaro Martinez, bersama rekannya melakukan selebrasi usai mengalahkan Napoli pada laga Serie A di Stadion San Siro, Rabu (26/12). Inter Milan menang 1-0 atas Napoli. (AP/Luca Bruno)

Akibat ulah fansnya, Inter Milan mendapat hukuman dari FIGC. Tim asuhan Luciano Spalletti itu dilarang bermain di kandang dalam dua pertandingan, yakni saat melawan Sassuolo dan Bologna.

Inter Milan menyatakan bahwa rasisme bukan bagian dari sejarah klub. Sejak berdiri pada 1908, Inter Milan menegaskan bahwa mereka adalah klub yang terbuka dan tanpa diskriminasi ras.

"Itulah mengapa, kami merasa berkewajiban sekali lagi, untuk mengingatkan bahwa semua yang tidak mengerti dan menerima sejarah kami, adalah bukan bagian dari kami," tulis pernyataan resmi Inter Milan.

3 dari 3 halaman

Presiden FIGC Geram

Sementara itu, kejadian yang tak menyenangkan itu lantas membuat Presiden Federasi Sepak Bola Indonesia (FIGC), Gabriele Gavriana, geram. Dia mengatakan, sepak bola tak mentolerir adanya kekerasan yang terjadi terhadap pemain maupun para pendukung, baik itu secara lisan atau pun fisik.

"Kami sangat mengutuk semua bentuk kekerasan fisik dan verbal. Kami tidak mentolerir perilaku seperti itu karena dapat merusak dunia sepakbola," ujarnya, dilansir dari BBC.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓