Cerita Gondangdia: Menikmati Keindahan Borobudur

Oleh Liputan6.com pada 21 Nov 2018, 07:30 WIB
Borobudur Marathon 2018

Liputan6.com, Yogyakarta - Minggu (18/11/2018), saat jam masih menunjukkan pukul 02.00 WIB, reporter Bola Liputan6.com, Cakrayuri Nuralam, sudah terbangun. Dia bersiap untuk meliput perhelatan balap lari berkelas internasional, Borobudur Marathon powered by Bank Jateng.

Satu jam setelah melakukan persiapan di Grand Artos Hotel, Cakra sudah tiba di Candi Borobudur Magelang, tempat start dan finis even itu. Tentunya, meliput di luar kota bukanlah hal baru bagi Cakra.

Pria kelahiran Jakarta itu sudah pernah merasakan berbagai tugas di dalam maupun luar negeri. Namun, Borobudur Marathon menjadi pengalaman barunya.

Redaksi Bola Liputan6.com memintanya tak sekadar meliput acara tersebut. Cakra juga diminta untuk mengikuti Borobudur Marathon di nomor 10 K. Maka itu, sejak pukul 05.50 WIB, Cakra sudah bersiap di garis start untuk berlari.

Dor... Bunyi pistol pertandal Borobudur Marathon nomor 10 K dimulai. Meski hanya lari 10 kilometer, nomor ini juga ramai diikuti peserta Borobudur Marathon. Tercatat, Full Marathon diikuti 2.883 orang, Half Marathon 3.888 orang, dan 10K sebanyak 2.901 orang.

Tak hanya rakyat biasa, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pun ikut berpartisipasi di nomor ini. Borobudur Marathon bisa dikatakan sebagai ajang yang berbeda dari yang lain.

Bisa dikatakan demikian karena para pelari akan mendapat dukungan dari warga sekitar. Bahkan, ada 35 sekolah yang akan memberikan dukungan untuk para pelari Borobudur Marathon. Selain itu, ada 19 desa yang memberikan dukungan dengan total suporter sebanyak 26 ribu.

"Ini menjadi pengalaman baru buat saya. Tak sekadar meliput, saya juga ikut berpartisipasi," kata Cakra.

Lari Bukan Selfie

Dengan adanya dukungan dari warga Magelang dan Yogyakarta yang terkenal dengan keramahannya, para pelari menjadi penuh semangat. Para pelari yang melakukan selfie pun sering dibuat malu karena dukungan para warga Yogyakarta.

"Lari dong, bukan selfie," begitulah bentuk dukungan warga untuk mensukseskan Borobudur Marathon.

Selain keramahan warga Magelang dan Yogyakarta, Cakra juga merasakan betapa indahnya salah satu daerah istimewa di Indonesia itu. Para pelari disuguhkan pemandangan indah, mulai dari sawah, pegunungan, hingga salah satu bangunan yang menjadi keajaiban dunia, Candi Borobudur.

Cakrayuri Nuralam
Cakrayuri Nuralam mendapat pengalaman baru saat meliput Borobudur Marathon. (Istimewa)

Dapat Jambu

Tak hanya reporter Bola Liputan6.com yang merasakan kehangatan warga Yogyakarta. Ganjar Pranowo pun juga mengalaminya. Pria berusia 50 tahun itu sempat dihentikan warga sekitar.

"Saya kagum dengan masyarakat di Magelang. Tadi di pengkolan saya disuruh berhenti dan diteriaki," kata Ganjar bercerita saat mengikuti Borobudur Marathon.

"Mereka bilang, 'Pak Ganjar berhenti dulu. Mau jambu tidak?' Terus yang menawarkan jambu itu manjat pohonnya dan memberikan buah jambu kepada saya," ujarnya melanjutkan.

Kini, Borobudur Marathon telah berakhir. Namun, keramahan Kota Yogyakarta tetap membekas. Benar kata KLA Project dalam lagunya yang berjudul 'Yogyakarta'. "Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna."

Terima kasih Yogyakarta atas kehangatannya, sampai jumpa lagi....

Saksikan video pilihan di bawah ini