Tak Seperti Buffon, 3 Pemain Hebat Ini Perkembangannya Terlambat

Oleh Cakrayuri Nuralam pada 19 Mei 2018, 20:00 WIB
Diperbarui 21 Mei 2018, 19:13 WIB
Juventus, Gianluigi Buffon

Liputan6.com, Jakarta - Gianluigi Buffon mengawali kariernya bersama Parma pada 1995 hingga 2001. Dia berhasil membantu Parma memenangkan Coppa Italia dan UEFA Cup.

Performa ciamiknya di bawah mistar gawang membuat Juventus meminangnya pada 2001. Kala itu usianya masih sangat muda, 23 tahun.

Namun, Buffon sudah menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang Juventus. Tak hanya itu, dia juga sudah mengawal gawang Timnas senior Italia sejak 1997.

Selama 17 musim bersama Si Nyonya Tua, julukan Juventus, Buffon memenangkan 11 gelar Serie A, empat Coppa Italia, dan satu trofi Serie B.

Kariernya bersama tim nasional juga cemerlang. Dia membantu Italia memenangkan Piala Dunia 2006.

Buffon merupakan sedikit pemain yang bersinar dari muda hingga usianya sekarang, 40 tahun. Namun tak seperti Buffon, ada tiga pemain hebat yang perkembangan kariernya terlambat. Simak di halaman selanjutnya.

2 dari 4 halaman

Carlos Bacca

Carlos Bacca
Carlos Bacca pindah dari AC Milan ke Villarreal pada Rabu (16/8/2017). (dok. Villarreal CF)

Saat usianya masih muda, Carlos Bacca hanya bermain di negaranya, Kolombia bersama Atletico Junior. Dia juga sempat menjadi kernet bus di Kolombia.

Bacca baru pindah ke Eropa pada 2012, saat usianya masih 26 tahun. Dia dipinang tim asal Belgia, Club Brugge. Semusim bersama Club Brugge, Bacca pindah ke Spanyol bersama Sevilla.

Dia tercatat membela Sevilla selama tiga musim. Bacca mampu memenangkan dua gelar Liga Europa secara beruntun bersama Sevilla. Dia juga mencatatkan 49 gol dari 108 penampilan di semua kompetisi bersama Sevilla.

Kini, karier Bacca masih tetap di atas ketika ia memutuskan berkarier di Italia bersama AC Milan. Namun AC Milan meminjamkannya ke Villarreal pada musim ini dengan catatak 15 gol dari 32 penampilan di La Liga.

3 dari 4 halaman

Graziano Pelle

Graziano Pelle ke klub Tiongkok, Shandong Luneng
Graziano Pelle resmi gabung ke klub Tiongkok, Shandong Luneng. (ist)

Di masa mudanya, Graziano Pelle hanya membela klub-klub menengah di sepak bola Italia, Lecce, Catania, Crotone, dan Cesena.

Namanya bersinar saat membela klub Belanda, Feyenoord. Dia mampu mencetak 50 gol dari 57 penampilan di Eredivisie.

Namanya pun membuat klub Inggris, Southampton mendatangkannya pada 2004. Bersama klub inilah nama Pele kian bersinar.

Dalam ajang Premier League, ia sukses mencetak 12 gol di musim perdana dan 11 gol di musim kedua. Berkat penampilan ciamik ini, ia lantas masuk timnas Italia dan berlaga di Piala Eropa 2016. Sayang kini ia memutuskan hijrah ke Tiongkok untuk membela Shandong Luneng.

4 dari 4 halaman

Luca Toni

Luca Toni (© AFP 2008)
Luca Toni pernah bermain untuk klub Jerman, Bayern Munchen. (AFP)

Luca Toni merupakan salah satu aktor kemenangan Timnas Italia di Piala Dunia 2006. Namun setahun sebelumnya, Toni merupakan pemain Palermo, sebuah tim Serie B dan usianya sudah 27 tahun.

Toni tercatat hanya menghabiskan banyak karier di kasta-kasta bawah Liga Italia, seperti Modena, Fiorenzuola, Lodigiani, Trevisio, dan Vicenza.

Kariernya melonjak drastis setelah didatangkan Fiorentina pada 2005. Dia mampu mencetak 49 gol selama dua musim bergabung bersama La Viola.

Setelah itu kariernya malang melintang di banyak klub termasuk Juventus dan AS Roma hingga kemudian memutuskan pensiun bersama Hellas Verona dan menjadi top-skorer Serie A musim 2014/15 lalu (saat itu usianya sudah 38 tahun).

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

Agnes Keleti, Atlet Peraih Medali Olimpiade Tertua