Bonucci Sempat Menyesal Gabung AC Milan

Oleh Liputan6.com pada 02 Mar 2018, 13:30 WIB
Diperbarui 02 Mar 2018, 13:30 WIB
Selebrasi Pemain AC Milan Usai Singkirkan Lazio di Semifinal Coppa Italia
Perbesar
Pemain AC Milan, Leonardo Bonucci (kiri) dan Patrick Cutrone merayakan kemenangan usai menundukkan Lazio pada semifinal Coppa Italia di Stadio Olimpico, Roma, Italia, Rabu (28/2). (Angelo Carconi/ANSA via AP)

Liputan6.com, Milan - Leonardo Bonucci ternyata tidak mudah melupakan Juventus. Bahkan saat pertama kali bergabung dengan AC Milan, bek asal Italia tersebut sempat menyesali keputusannya. 

Bonucci pergi meninggalkan Juventus pada musim panas lalu. Secara mengejutkan, tanpa proses negosiasi panjang lebar, bek jangkung itu bergabung dengan klub rival, AC Milan, dengan nilai transfer 42 juta euro. Keretakan hubungannya dengan pelatih Massimiliano Allegri serta beberapa petinggi Juventus disebut-sebut sebagai penyebab kepergiannya.

"Jujur saja, di awal saya heran kenapa saya melakukan ini dan bertanya-tanya apa untungnya ini,” kata Bonucci kepada Sky Sport Italia.

Memang, di awal musim, AC Milan sempat terseok-seok. Rossoneri sempat terdampar di urutan 12 klasemen dan beberapa kali menuai hasil negatif dari lawan-lawan yang sejatinya lebih mudah. Setiap kali AC Milan kalah, Bonucci selalu menjadi kambing hitam.

Hal ini membuatnya semakin menyesal. Apalagi sempat muncul penilaian bahwa ketangguhannya lebih disebabkan bantuan rekan-rekannya selama di Juventus.

"Performa saya di lapangan tidak seperti Bonucci yang sesungguhnya karena mentalitas mengubah segalanya. Lalu saya mencoba konsentrasi lagi untuk bekerja keras, berpikir lebih banyak tentang diri saya sendiri dan berusaha membangun keyakinan diri," katanya. 

"Saya menggunakan kekuatan yang ada dalam diri saya untuk meyakini pilihan yang sudah saya ambil, dan sekarang saya sangat termotivasi,” ungkap Bonucci.

Rentetan hasil buruk yang dituai AC Milan di awal musim ini akhirnya berujung pada pemecatan Vincenzo Montella pada 27 November 2017 lalu. Namun, Gennaro Gattuso yang ditunjuk menggantikan Montella, tak lantas membawa AC Milan bangkit.

Dalam satu bulan pertama kepemimpinannya, I Rossoneri tetap kacau balau. Barulah memasuki penghujung tahun 2017, Bonucci dan kawan-kawan bangkit. Hingga sekarang, mereka sudah tak terkalahkan dalam 13 pertandingan.

"Memenangkan pertandingan membantu kita untuk terus menang. Apa yang dibilang pelatih benar, bahwa kami harus tetap rendah hati. Kami melihat ke depan, dan sadar atas apa yang kami ucapkan kepada orang-orang,” jelas Bonucci.

 

 

2 dari 3 halaman

Sebut Gattuso seperti Conte

Selebrasi Pemain AC Milan Usai Singkirkan Lazio di Semifinal Coppa Italia
Perbesar
Pemain AC Milan, Leonardo Bonucci menyapa penonton usai menundukkan Lazio pada semifinal Coppa Italia di Stadio Olimpico, Roma, Italia, Rabu (28/2). AC Milan akan menghadapi Juventus di final. (Angelo Carconi/ANSA via AP)

Atas kebangkitan AC Milan dalam dua bulan terakhir, yang tak terlepas dari kinerja Gattuso, Bonucci pun menilai pelatihnya itu mirip dengan Antonio Conte, mantan pelatihnya di Juventus. Yang paling terasa adalah perihal menularkan semangat kepada para pemain.

"Tentu saja, dalam hal karisma, determinasi, dan kegarangan yang dia tularkan ke tim, Gattuso mengingatkan saya akan Conte. Saya selalu yakin dengan tim ini, proyeknya, dan pelatih Gattuso. Dia menunjukkan bagaimana caranya bermain meskipun dia masih relatif muda dan belum berpengalaman. Saya kagum pada kemampuannya menularkan rasa lapar yang ia miliki saat masih bermain,” kata Bonucci.

 

 

Selebrasi Pemain AC Milan Usai Singkirkan Lazio di Semifinal Coppa Italia
Perbesar
Pemain AC Milan, Giacomo Bonaventura bersama Ignazio Abate dan Leonardo Bonucci serta Patrick Cutrone selebrasi usai menundukkan Lazio pada semifinal Coppa Italia di Stadio Olimpico, Roma, Italia, Rabu (28/2). (Angelo Carconi/ANSA via AP)
3 dari 3 halaman

Incar Liga Champions

AC Milan akan bertemu Inter Milan dalam derby Della Madonnina akhir pekan ini. Duel ini merupakan kesempatan besar bagi I Rossoneri untuk mendekati zona Liga Champions. Saat ini, Bonucci dan kawan-kawan terpaut tujuh angka dari Inter Milan di peringkat empat (jatah terakhir Liga Champions). Jika menang, mereka akan memangkas jarak menjadi empat poin.

"Liga Champions adalah tujuan kami dan saya yakin tim ini punya segala yang dibutuhkan untuk mencapainya. Itu adalah salah satu target kami di awal musim,” ujar Bonucci.

"Saya selalu percaya terhadap hal-hal yang mustahil, baik secara personal maupun dalam level profesional. Di mana saya sebelumnya, saya mencapai prestasi dengan kerja keras dan berjuang. Sebagian orang berpikir kami telah mati di bulan Oktober. Namun saya masih tetap yakin sampai itu benar-benar mustahil secara matematis,” kata Bonucci mengakhiri.

(Abul Muamar)

Lanjutkan Membaca ↓