Lisa Rumbewas, Lifter Terbaik sebagai Ikon Prestasi Indonesia

Oleh Risa Kosasih pada 21 Agu 2017, 22:20 WIB
Diperbarui 21 Agu 2017, 22:20 WIB
Lisa Rumbewas
Perbesar
Lisa Rumbewas dalam acara Festival Prestasi Indonesia. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Pecinta olahraga Indonesia patut bangga memiliki sosok Lisa Rumbewas sebagai atlet angkat besi berprestasi. Dua medali perak Olimpiade yang dibersembahkannya membuktikan Lisa masih jadi lifter putri terbaik di negeri ini.

Terlahir dari lingkungan keluarga atlet, wanita kelahiran Jayapura 36 tahun lalu tersebut merupakan putri dari Levi Rumbewas, mantan binaragawan terbaik Indonesia. Sedangkan ibunya, Ida Korwa adalah atlet angkat besi yang mengenalkan dan melatih Lisa mahir di cabang olahraga ini.

Di level internasional, belum ada lifter putri yang menyamai rekor dua perak Olimpiade Lisa. Dia pulang sebagai runner-up di Olimpiade 2000 Sydney dan berlanjut ke Olimpiade Athena 2004.

Sayang, empat tahun kemudian di Beijing, Tiongkok, Lisa hanya menggondol perunggu. Setelah itu selama 12 tahun Indonesia paceklik medali di kategori putri.

Sebetulnya masih ada lifter putri Sri Indriyani dan Winarni Binti Slamet yang finis di peringkat tiga di Sydney 2000. Namun medali perak baru kembali jadi milik Indonesia pada Olimpiade Rio 2016 lewat atlet Jawa Barat Sri Wahyuni Agustiani.

Di level regional, giliran Lisa yang kalah dengan Sri Wahyuni. Jika Yuni mampu juara SEA Games 2013 di Myanmar, seniornya hanya merebut medali perak di SEA Games 2001 Kuala Lumpur.

2 dari 2 halaman

Masa Pensiun

Lisa Raema Rumbewas
Perbesar
Atlet angkat besi Lisa Raema Rumbewas hanya menempati peringkat empat di Olimpiade Beijing 2008. AFP PHOTO/JUNG YEON-JE JUNG YEON-JE / AFP

Di ajang Kejuaraan Angkat Besi Dunia Lisa lagi-lagi jadi wakil terbaik Merah-Putih. Dia meraih posisi runner-up dalam Kejuaraan Dunia di Santo Domingo 2006, prestasi yang belum bisa diulang Sri Wahyuni.

Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 Riau menjadi ajang multievent terakhir yang diikutinya. Mulai dari situ, Lisa mengeluhkan rasa sakit di lututnya.

"Sejak PON Riau lutut saya sakit. Kalau begini saya sudah tidak bisa meneruskan lagi kan," tutur Lisa kepada Liputan6.com di sela-sela acara Festival Ikon Indonesia, Senin (21/8/2017).

Dia menyambung, "tiga tahun terakhir juga menderita epilepsi. Saya tidak tahu sampai dokter yang bilang saat periksa."

Wanita 26 tahun tersebut baru saja terpilih menjadi salah satu Ikon Prestasi Indonesia bersama 72 figur publik yang digagas Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP Pancasila). Dalam acara Festival Prestasi Indonesia, dia mewakili bidang olahraga bersama atlet dan mantan atlet lainnya seperti Liem Swie King, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Liliyana Natsir (bulu tangkis), Eko Yuli Irawan, hingga Sri Wahyuni (angkat besi).

 

Lanjutkan Membaca ↓