RI Masih Belum Peduli Membangun Sektor Kelautan

Oleh Dian Ihsan Siregar pada 14 Okt 2013, 13:45 WIB
Diperbarui 14 Okt 2013, 13:45 WIB
kelautan-131014b.jpg
Perbesar
Indonesia dinilai terlalu memfokuskan pada pembangunan ekonomi di darat, seperti ke Pulau Jawa, Sumatera dan Bali. Padahal, Indonesia memiliki luas lautan terbesar di dunia.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Emil Salim mengatakan, jika Indonesia tak secepatnya memperbaiki hal ini bisa menjadi boomerang bagi kehancuran negara kesatuan.

"Ketika perjalanan ini terus difokuskan bagian darat saja, maka bisa menghancurkan negara kesatuan. Indonesia itu bukan hanya daratan saja, Indonesia itu luas dari Sabang sampai Marauke," ujar Emil ketika ditemui dalam acara Seminar Nasional Indonesia Maritime Institute (IMI) dan Lounching serta Lelang hasil rancangan IMI berupa Flying Boat GEVER-OS di Jakarta, Senin (14/10/2013).
RI
Emil mengakui, memang tidak mudah membangun perekonomian dalam sektor kelautan. Namun ini harus bisa dilakukan. Misalnya dengan mendorong industri perkapalan, perlautan serta dok. Sehingga nantinya bisa menyatukan Indonesia Timur dan Indonesia Barat.

"Kita perlu program maritim yang mencakup jangka panjang. Nantinya akan berada dalam pengembangan SDM pelayaran, pembuatan kapal, operator keselamatan pelayaran, dan memokuskan kepelabuhan ada di Sorong. Itu yang harus dilakukan," tegas dia.

Selain itu, ia menjelaskan, Indonesia juga harus bisa mengembangkan sumber daya manusia (SDM), sehingga bisa mengelola sumber daya mineral yang lebih baik, migas lepas pantai, dan energi gelombang yang harus dikembangkan.

"Untuk itu dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi RI, haruslah membangun maritim juga. Pembangunan maritim harus dilaksana hari ini juga, jangan ada penundaan lagi pembangunan maritim itu, jika ditunda maka akan sangat tidak baik bagi pembangunan ekonomi kita," jelas Emir. (Dis/Nur)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya