Aset Masih Kecil, Mimpi Telkom Cuma Masuk Forbes

Oleh Fiki Ariyanti pada 10 Okt 2013, 11:01 WIB
Diperbarui 10 Okt 2013, 11:01 WIB
arief-yahya-131010b.jpg
Perbesar
PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk nampaknya masih belum berani berambisi untuk masuk ke dalam jajaran perusahaan bergengsi atau terbesar di dunia, Fortune 500 mengikuti jejak rekan sejawatnya sesama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pertamina (Persero).

Direktur Utama Telkom, Arief Yahya mengatakan, emiten berkode TLKM ini sukses bercokol di peringkat 680 dalam daftar Forbes Global 2000.

Forbes Global 2000 adalah daftar peringkat tahunan atas 2.000 perusahaan publik di dunia yang mencakup 62 negara dan dikeluarkan oleh majalah Forbes sejak tahun 2003. Pemeringkatan tersebut disusun berdasarkan kombinasi empat kriteria, yakni penjualan, laba, aset, dan kapitalisasi pasar.

"Kami juga mendapatkan penghargaan dari Forbes dengan peringkat 680. Ya mungkin hampir setara lah (dengan Fortune). Raihan ini membaik 40 peringkat dibanding posisi tahun lalu di peringkat 720," kata dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Nusa Dua, Bali, seperti ditulis Kamis (10/10/2013).

Belum beraninya Telkom untuk bersaing dengan Pertamina, menurut dia, lebih karena jumlah aset yang tak sebanding dengan BUMN di bidang minyak dan gas tersebut.

"Pertamina dari sisi aset memang jauh lebih besar dari kami. Jadi layak, dan kami ikut bangga Pertamina bisa mendapatkan penghargaan itu (Fortune 500)," jelas Arief.

Dia menyebut, posisi nilai aset Telkom saat ini sebesar Rp 111 triliun atau masih kalah besar ketimbang aset Pertamina yang menembus US$ 40,88 miliar per akhir 2012 serta perbankan. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar Telkom mencapai US$ 21,4 miliar.

"Dalam dua tahun ke depan, target kami masuk Forbes di urutan 500 apabila ada perbaikan dari empat kriteria tersebut," harapnya.

Sebab Forbes Global 2000 mempunyai tolak ukur yang wajib dipenuhi perusahaan terbuka di samping nilai aset.  "Sebetulnya dari sisi pendapatan (revenue), kami masuk. Telkom juga menjadi salah satu yang tertinggi yang memperoleh EBITDA atau marjin di industrinya, serta catatan laba bersih yang bisa membukukan 15%-20% per tahun," tandas Arief. (Fik/Ndw)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya