Punya Dolar AS Sekarang, Lepas atau Simpan?

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 05 Okt 2013, 10:57 WIB
Diperbarui 05 Okt 2013, 10:57 WIB
borong-dolar-130829c.jpg
Perbesar
Rupiah yang belakangan masih belum keluar dari tekanan akibat kondisi global nampaknya masih menjadi perhatian bagi para investor, terutama para pemegang dolar AS.

Usai isu tapering AS, kini pasar sedang dihadapkan pada penghentian sementara (shutdown) pemerintahan AS dan isu buntunya pembatasan batas utang (debt ceiling) pemerintah AS.

Banyak para pemegang dolar yang memperkirakan rupiah akan kembali melemah, namun ada juga yang memperkirakan rupiah akan lebih konsisten dalam menjaga penguatannya. Apa yang mesti dilakukan para pemegang dolar AS, lepas atau tahan?

Vice President Senior Tecnical Analyst PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih menilai pemerintah Indonesia nampaknya sudah mulai menemukan jalan keluar untuk mengatasi kondisi ekonominya. Untuk itu Alfatih menyarankan untuk lebih melepas dolar AS.

"Kalau saya sih cenderung melihat dolar di atas Rp 11.600 (per dolar AS) itu agak kecil ya, jadi kalau saya cenderung lebih baik dilepas,"ungkapnya saat berbincang dengan Liputan6.com yang ditulis Sabtu (5/10/2013).

Saat ini Alfatih menilai level Rp 11.600 menjadi resisten yang harus ditembus jika rupiah masih akan melemah lagi. Namun hal itu dinilai tidak mudah, perlu sentimen-sentimen yang di luar dugaan.

Sementara apabila rupiah akan melanjutkan tren penguatannya nampaknya harus menembus level Rp 11.400 terlebih dahulu.

"Kecuali kalau misalnya ada kebutuhan dolar itu sendiri, katakanlah mau naik haji tahun depan. Ya sudahlah pegang saja, tidak apa-apa,"tegas dia.

Hingga saat ini kedua isu itu nampaknya masih belum terlalu berpengaruh terhadap pasar keuangan di beberapa negara kawasan, salah satunya Indonesia.

Pasar lebih cenderung wait and see sambil menunggu hasil pembahasan debt ceiling yang akan kembali dibahas pada 17 Oktober 2013.

"Kalau saya lihat masalah debt ceiling dari berita-berita yang saya baca kemungkinan akan ada satu kesepakatan debt ceiling meskipun nanti ada pengorbanan, karena selama ini tercapai konsensus mengenai debt ceiling itu. Artinya ada faktor positif disana,"pungkas Alfatih. (Yas/Ndw)