Waralaba Asing Paling Kejepit Pelemahan Rupiah

Oleh Septian Deny pada 06 Sep 2013, 19:45 WIB
Diperbarui 06 Sep 2013, 19:45 WIB
waralaba-2-130302c.jpg
Perbesar
Waralaba menjadi sektor usaha yang ikut terimbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Ketua Komite Tetap Waralaba, Lisensi dan Kemitraan Kadin Amir Karamoy, menyebutkan waralaba yang masih banyak menggunakan bahan baku impor adalah korban utamanya.

"Kalau waralaba yang sudah banyak menggunakan lokal konten, saya rasa tidak terlalu berdampak kepada mereka, yang jadi masalahkan yang bahan bakunya ini dari luar," ujar dia di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (6/9/2013).

Sementara, UKM lokal adalah pihak yang paling sedikit terkena dampak dari penguatan dolar tersebut. Bahkan mendapatkan keuntungan lebih bagi UKM yang produknya banyak diekspor keluar negeri.

Sebab itu, Amir menilai lebih baik agar pemerintah mulai serius membenahi sektor riil, terutama pada sektor Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Sektor riil itu lebih bagus dikuasai UKM kecil, makanya saya berharap UKM ini dapat perhatian lebih besar, karena saya melihat kecenderungan UKM ini akan tersisih dari waralaba lain. Maka kita perlu memberikan perhatian yang besar," jelasnya.

Direktur Dagang Kecil dan Menengah dan Produk Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suharto mengatakan omzet waralaba nasional pada 2012 mencapai Rp 240 triliun di mana angka tersebut naik sekitar 20% dibanding tahun sebelumnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini ada sekitar 5,5 juta pengusaha yang 97% diantaranya merupakan pelaku UKM.

Namun jumlah tersebut masih kalah dibanding dengan jumlah pengusaha di negara-negara ASEAN, yang rata-rata pengusahanya mencapai 9,7% dari total penduduk. Sementara di Indonesia, baru 1,4% saja.

Meski demikian, bisnis ini berperan cukup penting dalam penyerapan tenaga kerja yang mampu menyerap sekitar 107 juta tenaga kerja. (Dny/Nur)

Tag Terkait

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Sayur Online Rezeki Puasa