OJK Bocorkan Tingkat Inklusi dan Literasi Keuangan Terbaru: Menggembirakan

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 07 Okt 2022, 12:20 WIB
Diperbarui 07 Okt 2022, 12:20 WIB
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi dalam penutupan Gernas Bangga Buatan Indonesia Sumatera Barat, Jumat (16/9/2022).
Perbesar
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi dalam penutupan Gernas Bangga Buatan Indonesia Sumatera Barat, Jumat (16/9/2022).

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau pemahaman masyarakat terkait produk dan jasa keuangan, melalui survei inklusi dan literasi keuangan nasional. Program ini diadakan guna mendukung cita-cita Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang target inklusi keuangan bisa mencapai 90 persen secara nasional pada 2024.

Anggota Dewan Komisaris OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Friderica Widyasari Dewi, memberi sedikit bocoran terkait hasil survei inklusi dan literasi keuangan tahun ini, yang menurutnya cukup menggembirakan.

"Sebenarnya kami sudah melakukan survei nasional literasi keuangan di tahun ini dengan hasil yang cukup menggembirakan. Tetapi itu masih dihitung supaya nanti akan kami umumkan pada press conference di penutupan Bulan Inklusi Keuangan," kata Friderica dalam sesi konferensi pers di Kantor Pusat OJK, Jakarta, Jumat (7/10/2022).

OJK sendiri mencatat, tingkat literasi dan inklusi keuangan nasional masih memiliki gap yang besar berdasarkan data terakhir per 2019 lalu. Inklusi keuangan memang sudah mencapai 76,19 persen, namun literasi keuangan baru sekitar 38,03 persen.

Friderica mengatakan, OJK pada bulan ini akan fokus terlebih dahulu untuk menggelar rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan, yang dihelat secara penuh di seluruh Indonesia sejak 1-31 Oktober 2022.

Bulan Inklusi Keuangan yang dilakukan secara berkesinambungan setiap tahunnya ini, diharapkan akan semakin memperkuat komitmen dari seluruh stakeholder dalam rangka pemenuhan dan peningkatan akses keuangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

"Kebetulan bulan Oktober ini selain sebagai Bulan Inklusi Keuangan, juga bertepatan dengan World Investor Week di seluruh dunia yang digaungkan IOSCO. Kita melihat isu perlindungan konsumen, dan isu peningkatan literasi, inklusi juga semakin mengemuka di seluruh dunia," sambung Friderica.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Target 90 Persen

DANA Ikut Mengimplementasikan Pembayaran Lintas Negara
Perbesar
Demi mendukung inisiatif QR Cross Border Bank Indonesia, DANA berkomitmen untuk menjadi jembatan literasi dan inklusi keuangan Indonesia. Credit: unsplash.com by David Dvořáček

Menurut dia, OJK berkomitmen penuh untuk mengejar target inklusi keuangan 90 persen di akhir 2024 sesuai arahan Jokowi. Hasilnya pun tak sia-sia, dimana pihak otoritas mengklaim program itu bisa membuat lebih banyak masyarakat paham soal produk dan jasa keuangan.

"Terus bagaimana kalau kita melihat tingkat literasi dan inklusi Indonesia, yang mana untuk 2022 segera kita sampaikan. Dan, bocorannya sangat menggembirakan kalau kita lihat pertumbuhannya," imbuhnya.

Adapun survei literasi dan inklusi keuangan nasional ini sudah digawangi OJK sejak 2013, dengan waktu pelaksanaan setiap 3 tahun sekali. Namun, Friderica ingin ke depan itu bisa dilakukan setiap tahun.

"Tapi ketika saya masuk ke OJK, kalau bikin survei jangan tiap 3 tahun, khawatirnya pertumbuhan tiap tahunnya tidak sesuai target, nanti kita miss. Tahun depan kita akan lakukan survei setiap tahun," pungkasnya.


OJK Kejar Target Literasi Keuangan Digital RI

Ilustrasi OJK 2
Perbesar
Ilustrasi OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati tingkat literasi keuangan digital di Tanah Air yang masih minim. Menurut catatan pihak otoritas, tingkat inklusi keuangan Indonesia baru mencapai level 76,9 persen pada 2019.

Sedangkan tingkat literasi keuangan masih relatif rendah di posisi 38,03 persen. Bahkan, indeks literasi digital masih 3,49 persen.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas VM Tarihoran, menilai tuntutan melek literasi keuangan digital saat ini jadi sebuah keharusan yang tak bisa diabaikan.

"Ternyata sekarang era digital berubah sangat cepat. Inovasi digital berubah sangat dinamis.Pertama-tama kita mengenal dunia digital ini langsung cara-cara lama tidak laku lagi. Belanja tradisional, konvensional, sudah tidak laku lagi. Semuanya sekarang online," dalam workshop Literasi Keamanan Digital Perbankan, Peduli Lindungi Data Pribadi yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dengan dukungan Bank Negara Indonesia (BNI), Jumat (19/8/2022).

Horas pun mengingatkan konsumen digital agar tidak berhenti belajar. Pasalnya, dunia virtual setiap hari terus menuntut adanya perubahan.

"Bahkan di dunia online pun perubahannya sangat cepat sekali, disruptif ke mana-mana. Kalau kita tidak kejar dengan literasi, tentu ini membuat banyak masalah di masyarakat kita," tegas dia.

Di sisi lain, ia mengungkapkan, OJK juga berhadapan dengan tuntutan konsumen yang semuanya ingin serba mudah, serba cepat, dan serba nyaman.

"Dunia bisnis menyikapi, tentu karena ini era digital, jadi butuh keamanan siber yang serba kompetitif, dibarengi dengan banyaknya orang yang menggunakan digitalisasi untuk menyalahgunakan data," tuturnya.

Pencurian Uang Elektronik
Perbesar
Infografis pencurian uang elektronik (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya