Apa Itu Resesi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Oleh Liputan6.com pada 06 Okt 2022, 16:40 WIB
Diperbarui 06 Okt 2022, 16:40 WIB
Indonesia Bersiap Alami Resesi
Perbesar
Pejalan kaki melintasi pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23//9/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020, perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi hingga minus 2,9 persen. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa hari terakhir, resesi ramai diperbincangkan masyarakat luas. Hal ini tak terlepas dari peringatan kemungkinan terjadinya resesi global tahun depan yang diungkap oleh beberapa lembaga maupun tokoh. Meskipun resesi sudah tidak asing ditelinga publik, mungkin sebagian dari masyarakat belum mengetahui arti dari resesi itu sendiri.

Dilansir dari laman resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sederhananya resesi adalah suatu kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk, yang terlihat dari produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Kamis, (6/10/2022).

Adanya resesi ekonomi akan memberikan sejumlah dampak, seperti:

Perlambatan ekonomi yang membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya sehingga pemutusan hubungan kerja (PHK) akan sering terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin menutup dan tidak lagi beroperasi.

Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman.

Ekonomi yang semakin sulit berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena akan lebih selektif menggunakan uang dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo juga pernah menerangkan, tolak ukur utama sebuah negara bisa dikatakan sedang mengalami masa resesi yakni ketika tingkat pertumbuhan ekonomi negatif untuk dua kuartal berturut-turut atau lebih.

"Resesi itu pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut. Tidak ada (indikator lain)," kata kepada Liputan6.com, pada Rabu 24 Juni 2020.

Senada, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Rahayu Puspasari menjelaskan, definisi technical recession terjadi ketika suatu negara mengalaminya selama dua kuartal atau lebih.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Tanda Resesi Makin Nyata

Indonesia Bersiap Alami Resesi
Perbesar
Pejalan kaki melintasi pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23//9/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020. Kondisi ini akan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat hingga PHK. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Ramalan terkait pelemahan ekonomi yang bisa menyebabkan resesi global semakin nyata. Setidaknya sejumlah tanda sudah bermunculan. Lalu, apa saja bukti-buktinya? Berikut seperti dikutip CNN Business, Kamis (6/10/2022):

1. Kuatnya Dolar Amerika Serikat (AS) dan Suku Bunga The Fed yang Tinggi

Dolar AS memainkan peran besar dalam ekonomi global dan keuangan internasional. Dan sekarang, mata uang itu lebih kuat dari dua dekade sebelumnya.

Kuatnya mata uang nomor satu dunia ini akhirnya akan melemahkan nilai mata uang lainnya seperti Euro, Yen, bahkan Rupiah. Ini menjadikan impor semakin mahal.

Selain itu, ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga, seperti yang telah dilakukan sejak Maret, itu membuat dolar lebih menarik bagi investor di seluruh dunia. Ini akhirnya membuat dana investasi berpindah menuju Negeri Paman Sam dari negara-negara lain di dunia.

2. Macetnya Mesin Ekonomi AS

Sebagai ekonomi terbesar dunia, kondisi perekonomian AS juga merupakan pertimbangan penting bagi negara-negara lain. Dan kali ini, penggerak ekonomi nomor satu negara itu mulai terhenti.

Penggerak ekonomi nomor satu AS adalah konsumsi atau belanja. Namun akhir-akhir ini, konsumen di negara itu mulai perlahan mengurangi belanjanya akibat inflasi dan suku bunga yang meninggi.

"Kesulitan yang disebabkan oleh inflasi berarti konsumen mencelupkan ke dalam tabungan mereka," kata Kepala Ekonom EY Parthenon Gregory Daco dalam sebuah catatan.

Ini nantinya akan berdampak pada negara-negara yang mengekspor produknya ke AS. Pasalnya, AS juga merupakan importir terbesar dunia dan bagi Indonesia, negara adidaya itu juga menjadi mitra dagang yang besar.

3. Pasar Saham yang Memburuk

Pasar saham sekarang berada di jalur untuk tahun terburuk mereka sejak 2008. Ini didalangi oleh langkah The Fed yang menaikan suku bunga sehingga mengganggu pasar.

Kebijakan itu cukup mendorong penurunan yang brutal. Indeks saham terbesar di Wall Street seperti S&P 500 turun hampir 24 persen untuk tahun ini. Indeks lainnya juga turun hingga 20% pada periode yang sama.

Pasar obligasi juga disebut mengalami gangguan. Inflasi, bersama dengan kenaikan tajam suku bunga oleh bank sentral, telah mendorong harga obligasi turun.

Pada hari Rabu lalu, imbal hasil pada Treasury AS 10-tahun secara singkat melampaui 4%, mencapai level tertinggi dalam 14 tahun. Lonjakan itu diikuti oleh penurunan tajam sebagai tanggapan atas intervensi Bank of England di pasar obligasinya sendiri

Imbal hasil obligasi Eropa juga melonjak karena bank sentral mengikuti jejak The Fed dalam menaikkan suku bunga untuk menopang mata uang mereka sendiri.

4. Perang, Inflasi, dan Kebijakan 'Ngawur'

Tidak ada negara yang mengalami fenomena bencana ekonomi, keuangan, dan politik lebih parah daripada Inggris.

Seperti negara-negara lain di dunia, Inggris telah berjuang dengan lonjakan harga yang sebagian besar disebabkan oleh kejutan kolosal Covid-19, diikuti oleh gangguan perdagangan yang diciptakan oleh serangan Rusia ke Ukraina. Ketika Barat memotong impor gas alam Rusia, harga energi melonjak dan pasokan berkurang.

Masalah tidak berhenti di situ. Sepekan yang lalu, Perdana Menteri (PM) Liz Truss yang baru dilantik mengumumkan rencana pemotongan pajak besar-besaran. Namun, untuk mengkompensasi potensi pendapatan yang hilang dari pemotongan ini, Truss memutuskan untuk berhutang.

Keputusan itu memicu kepanikan di pasar keuangan dan menempatkan Downing Street dalam kebuntuan dengan bank sentral independensi, Bank of England (BOE). Pasalnya, bank sentral itu telah dan masih akan terus menaikan suku bunga.

Ini kemudian mendorong investor di seluruh dunia berbondong-bondong menjual obligasi Inggris dan menjatuhkan pound ke level terendah terhadap dolar dalam hampir 230 tahun.

BOE melakukan intervensi darurat untuk membeli obligasi Inggris pada hari Rabu dan memulihkan ketertiban di pasar keuangan. Itu membendung pendarahan, untuk saat ini.

Tapi efek riak dari gejolak Trussonomics menyebar jauh melampaui kantor pedagang obligasi. Di sisi lain, warga Inggris, yang sudah berada dalam krisis biaya hidup dengan inflasi 10% sekarang panik atas biaya pinjaman yang lebih tinggi. Kenaikan suku bunga pun dapat memaksa jutaan pembayaran hipotek bulanan untuk properti naik ratusan hingga ribuan pound.

5. Ramalan 'Awan Gelap' Resesi

Sementara konsensusnya adalah bahwa resesi global kemungkinan terjadi pada tahun 2023, masih sulit untuk memprediksi seberapa parahnya atau berapa lama itu akan berlangsung.

Beberapa ekonomi, terutama AS dengan pasar tenaga kerja yang kuat dan konsumen yang tangguh, akan mampu menahan pukulan lebih baik daripada yang lain.

"Kami berada di perairan yang belum dipetakan dalam beberapa bulan ke depan," tulis ekonom di Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam sebuah laporan minggu ini.

Di sisi lain, negara-negara berkembang yang memiliki utang dengan negara maju akan kesulitan untuk membayar hutangnya karena kenaikan suku bunga.

"Semua wilayah akan terpengaruh, tetapi bel alarm paling sering berbunyi untuk negara-negara berkembang, banyak di antaranya mendekati default utang," kata UNCTAD dalam Laporan Perdagangan dan Pembangunan 2022 yang dikutip CNN Internasional.

 


Apa Penyebab Resesi Sebenarnya?

FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Warga mengenakan masker berjalan di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Ada lebih dari satu cara untuk memulai resesi, dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba hingga dampak inflasi yang tidak terkendali. Fenomena ini adalah beberapa pendorong utama resesi:

- Guncangan ekonomi yang tiba-tiba.

Guncangan ekonomi adalah masalah kejutan yang menimbulkan kerusakan finansial yang serius. Sebagai contoh, pada 1970-an, OPEC membatasi pasokan minyak ke AS tanpa peringatan, menyebabkan resesi, belum lagi antrian yang tak ada habisnya di pompa bensin.

Wabah virus korona, yang mematikan ekonomi di seluruh dunia, adalah contoh terbaru dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba.

- Utang yang berlebihan:

Ketika individu atau bisnis memiliki terlalu banyak hutang, biaya untuk membayar hutang dapat meningkat ke titik di mana mereka tidak dapat membayar tagihan mereka.

Meningkatnya utang tak terbayar dan kebangkrutan kemudian membalikkan perekonomian. Gelembung perumahan yang menyebabkan Resesi Hebat adalah contoh utama dari utang yang berlebihan yang menyebabkan resesi.

- Gelembung aset:

Ketika keputusan investasi didorong oleh emosi, hasil ekonomi yang buruk akan segera terjadi. Investor bisa menjadi terlalu optimis selama ekonomi kuat.

- Terlalu banyak inflasi:

Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi sebenarnya bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya.

Bank sentral mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, dan suku bunga yang lebih tinggi menekan aktivitas ekonomi.

Inflasi yang tidak terkendali adalah masalah yang terus berlanjut di AS pada tahun 1970-an. Untuk memutus siklus tersebut, Federal Reserve dengan cepat menaikkan suku bunga, yang menyebabkan resesi.

- Terlalu banyak deflasi:

Meskipun inflasi yang tak terkendali dapat menyebabkan resesi, deflasi bisa menjadi lebih buruk. Deflasi adalah saat harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah menyusut, yang selanjutnya menekan harga.

Ketika lingkaran umpan balik deflasi lepas kendali, orang dan bisnis berhenti berbelanja, yang merusak ekonomi.

- Perubahan teknologi:

Penemuan baru meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang, tetapi mungkin ada periode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi.

Pada abad ke-19, ada gelombang peningkatan teknologi hemat tenaga kerja.

Revolusi Industri membuat seluruh profesi menjadi usang, memicu resesi dan masa-masa sulit. Saat ini, beberapa ekonom khawatir bahwa AI dan robot dapat menyebabkan resesi dengan menghilangkan seluruh kategori pekerjaan.

 


Dampak Resesi

Indonesia Bersiap Alami Resesi
Perbesar
Pejalan kaki melintasi lajur penyebrangan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23//9/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada kuartal III-2020. Kondisi ini akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga PHK. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dikutip dari keterangan National Bureau of Economic Research (NBER), secara umum apa itu resesi terjadi ketika negara masuk dalam periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh sektor ekonomi, dan sudah berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, umumnya lebih dari 3 bulan.

Dengan begitu, dampak dari resesi adalah akan sangat terasa dalam bidang perekonomian. Dampak resesi ini dapat berpengaruh pada masyarakat dan perusahaan. Berikut penjelasan dampak resesi.

Dampak Resesi terhadap Pemerintah

Dampak resesi ekonomi terhadap pemerintah yang paling signifikan adalah pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Hal ini terjadi karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara.

Dengan pendapatan negara sedang merosot, di sini pemerintah terus dituntut untuk membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya, pinjaman ke bank asing akan meningkat, dan menyebabkan utang negara semakin menumpuk.

Dampak Resesi untuk Perusahaan

Dampak resesi untuk perusahaan adalah bisnis akan berpotensi bangkrut. Ketika terjadi resesi, maka daya beli masyarakat menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil. Kondisi ini yang bakal mengancam kelancaran arus kas. Tak dipungkiri akan ada perang harga untuk mempertahankan perusahaan supaya tidak bangkrut. Namun opsi ini dianggap kurang menguntungkan, sehingga perusahaan lebih memilih menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional.

Dampak Resesi terhadap Masyarakat

Selanjutnya, dampak resesi terhadap masyarakat atau pekerja adalah terjadi banyak PHK. Artinya dengan banyaknya PHK, maka pengangguran semakin meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di tengah resesi ekonomi. Di sisi lain, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi terjadi.

 

Infografis Indonesia Keluar dari Lubang Resesi. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Indonesia Keluar dari Lubang Resesi. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya