48 Juta Ton Sampah Makanan Menumpuk Tiap Tahun, Indonesia Rugi Rp 551 Triliun

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 30 Sep 2022, 13:40 WIB
Diperbarui 30 Sep 2022, 13:40 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi sampah makanan. (dok. unsplash.com @ellaolsson)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menyoroti fenomena pemborosan pangan akibat menumpuknya jumlah sampah makanan, sebagai persoalan penting yang harus segera diselesaikan. 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan, secara global sekitar 1,3 miliar ton sampah makanan terbuang setiap tahun.
 
Menurut data the Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua dunia. 
 
Jumlah sampah makanan tersebut memberi dampak besar terhadap ekonomi, berupa produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga mencapai Rp 551 triliun per tahun. 
 
"Menurut kajian Bappenas, food loss and waste di Indonesia tahun 2000-2019 berkisar 23-48 juta ton per tahun, setara dengan 115-184 kg per kapita per tahun," ujar Arief, dikutip Jumat (30/9/2022).
 
"Yang berarti masing-masing dari kita menyumbang lebih dari satu kwintal sampah pangan per tahun. Hal itu berdampak kepada kerugian ekonomi kurang lebih sebesar Rp 213-551 triliun per tahun," bebernya. 
 
Padahal, Arief menambahkan, potensi food loss and waste tersebut seharusnya dapat disalurkan untuk memberi makan 61-125 juta orang, atau sekitar 29-47 persen populasi Indonesia 
 
"Menurut peta ketahanan dan kerentanan pangan tahun 2021, ada 74 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan. Data POU (angka rawan pangan), masih ada 23,1 juta jiwa atau 8,49 persen penduduk indonesia yang mengkonsumsi kalori kurang dari standar minimum untuk hidup sehat dan produktif," terangnya. 
 
 
 

Daerah Rawan

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi sampah makanan. (dok. unsplash.com/simon peel)
Arief menilai, fokus terhadap isu food loss and waste dapat sekaligus mengentaskan daerah rentan rawan pangan yang ada di Indonesia.
 
Ini sejalan dengan komitmen SDGs, yakni negara dunia diharapkan mampu mengurangi 50 persen sampah makanan per kapita di tingkat ritel dan konsumen pada 2030 mendatang. 
 
"Pengurangan food waste sesuai arahan Presiden RI, bahwa pemerintah harus bersiap menghadapi krisis pangan, krisis energi, krisis dan krisis keuangan yang melanda dunia saat ini," tegas Arief. Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menyoroti fenomena pemborosan pangan akibat menumpuknya jumlah sampah makanan, sebagai persoalan penting yang harus segera diselesaikan. 
 
Infografis 7 Penyebab Sampah Makanan
Perbesar
Infografis 7 Penyebab Sampah Makanan. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya