Bank Dunia Ingatkan Risiko Stagflasi, Resesi, hingga Perlambatan Ekonomi

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 29 Sep 2022, 16:20 WIB
Diperbarui 29 Sep 2022, 16:20 WIB
FOTO: Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perbesar
Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Bank Dunia David Malpass memperingatkan bahwa diperlukan waktu hingga bertahun-tahun bagi produksi energi global untuk melakukan diversifikasi dari Rusia setelah perang di Ukraina.

Masalah ini memperpanjang risiko stagflasi, atau periode pertumbuhan ekonomi yang rendah dan inflasi tinggi.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis (29/9/2022) Malpass dalam pidatonya di Universitas Stanford mengatakan ada kemungkinan peningkatan resesi di Eropa.

Selain itu, Malpass juga memperingatkan dampak luas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi China karena kebijakan nol Covid-19, dan ekonomi AS yang telah berkontraksi pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi tersebut bisa menimbulkan konsekuensi serius bagi negara-negara berkembang, kata Malpass, mengutip apa yang disebutnya sebagai tantangan yang "konsekuensial" dan "memburuk".

Malpass membeberkan bahwa laporan Bank Dunia berjudul "Poverty and Shared Prosperity" yang akan segera keluar menunjukkan bahwa kemajuan beberapa dekade dalam mengurangi kemiskinan telah melambat sejak 2015, bahkan sebelum pandemi Covid-19, yang menyebabkan 70 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem.

Laporan itu, yang akan keluar minggu depan, juga menunjukkan penurunan 4 persen dalam pendapatan median global, penurunan pertama sejak Bank Dunia mulai mengukur indikator itu pada tahun 1990.

Menurutnya, untuk mengatasi the perfect storm pada ekonomi saat ini dari kenaikan suku bunga, inflasi yang tinggi, dan pertumbuhan yang melambat memerlukan pendekatan makro dan mikro yang baru, termasuk pengeluaran yang ditargetkan lebih baik. 

"Negara berkembang menghadapi prospek jangka pendek yang sangat menantang yang dipicu oleh harga pupuk dan energi yang meningkat tajam, kenaikan suku bunga dan kredit, depresiasi mata uang dan arus keluar modal," kata Malpass.

"Bahaya yang mendesak bagi negara berkembang adalah bahwa perlambatan tajam dalam pertumbuhan global semakin dalam ke resesi global," katanya, mencatat bahwa banyak negara masih berjuang untuk kembali ke tingkat pendapatan per kapita pra-pandemi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Saran dari Malpass

Ilustrasi resesi. Foto: Freepik
Perbesar
Ilustrasi resesi. Foto: Freepik

Malpass mengatakan, belum diketahui dengan jelas apakah akan ada cukup modal global untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara maju - yang telah mengadopsi kebijakan fiskal yang mendukung tingkat utang yang tinggi - dan masih memiliki sisa yang cukup untuk mendanai kebutuhan investasi di negara-negara berkembang.

Presiden Bank Dunia itu pun mendesak negara-negara di dunia agar mencari cara untuk mengurangi inflasi di luar kenaikan suku bunga yang sangat sinkron, termasuk dengan meningkatkan efisiensi fiskal untuk menargetkan pengeluaran lebih banyak kepada masyarakat miskin dan rentan.

Menurut Malpass, penyesuaian tersebut akan meningkatkan alokasi modal global, juga memberi jalan untuk mengurangi inflasi sambil memulai kembali pertumbuhan pendapatan.

Selain itu, saat ini, dana untuk pendidikan, kesiapan kesehatan dan adaptasi terhadap perubahan iklim sangat penting, bersama dengan langkah-langkah untuk mengurangi tingkat utang yang membebani banyak negara berkembang.


Resesi Global Mengancam, Ekonom: Indonesia Tak Perlu Panik

Ilustrasi Resesi Ekonomi di Indonesia (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Ilustrasi Resesi Ekonomi di Indonesia (Liputan6.com / Abdillah)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hingga Bank Dunia memprediksi perekonomian global akan tersungkur di lubang resesi pada tahun depan.

Itu terjadi akibat adanya pengetatan moneter di sejumlah negara, hingga konflik geopolitik yang menyebabkan fluktuasi harga komoditas pangan sampai energi dunia.

Namun, Direktur Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai, Indonesia tidak perlu cemas atas ancaman resesi global. Menurutnya, perekonomian RI saat ini sedang dalam situasi berbeda dengan banyak negara dunia.

"Yang memburuk itu ekonomi globasri l, memang harus diwaspadai. Tapi indikator ekonomi nasional kita masih cukup baik. Kita waspada tapi tidak perlu panik," ujar Piter kepada Liputan6.com, Kamis (29/9/2022).

Menurut dia, perekonomian nasional masih bisa terjaga lantaran adanya sektor konsumsi, investasi, ekspor, hingga pertumbuhan ekonomi yang masih baik. Piter memperkirakan indikator-indikator tersebut bakal terus terjaga hingga akhir 2022 ini.

"Waspada akan resesi global harus, tapi enggak perlu panik," imbuh dia.

Piter menganggap wajar gejolak harga komoditas yang kini tengah terjadi di pasar internasional. Selama itu tidak terlalu besar dan berlangsung terus menerus, ia menyebut itu masih aman bagi ekonomi Indonesia.

"Dorongan pulihnya mobilitas masyarakat karena meredanya pandemi Covid-19 lebih besar dampaknya terhadap perekonomian ketimbang dampak kenaikan harga-harga," pungkas Piter.

Infografis Prediksi Perekonomian 60 Negara Bakal Ambruk. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Prediksi Perekonomian 60 Negara Bakal Ambruk. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya