Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah USD 85 per Barel karena Ancaman Resesi

Oleh Arief Rahman Hakim pada 27 Sep 2022, 08:05 WIB
Diperbarui 27 Sep 2022, 08:05 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak Brent turun di bawah USD 85 per barel pada penutupan perdagangan Senin. Penurunan patokan harga minyak dunia ini karena kekhawatiran resesi dan juga penguatan dolar AS.

Mengutip CNBC, Selasa (27/9/2022) harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman November turun 2,1 persen menjadi diperdagangkan pada USD 84,32 per barel sekitar pukul 13:20 di Wall Street.

Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate berjangka turun 2,3 persen diperdagangkan pada USD 76,97 per barel, harga terakhir yang pernah disentuh pada awal Januari 2022.

Dolar AS melonjak ke level tertinggi yang tidak terlihat sejak 2002 pada perdagangan Senin, sementara ponds sterling jatuh ke rekor terendah terhadap mata uang tersebut.

Pada perdagangan Jumat lalu, baik harga minyak Brent dan WTI berjangka turun sekitar 5 persen.

Direktur Penelitian Energy Aspects Amrita Sen menjelaskan, penurunan harga minyak dunia ini karena sentimen makro yang dipimpin oleh penguatan dolar AS yang memicu kekhawatiran resesi.

"Lonjakan terhadap mata uang lain berarti aset berdenominasi dolar AS seperti minyak menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang asing. Ini membebani harga minyak berjangka," kata Associate Editorial Director for EMEA Crude and Fuel Oil S&P Global, John Morley.

Ini terjadi ketika bank sentral di seluruh dunia, termasuk AS dan Inggris, terus menaikkan suku bunga dalam upaya mengatasi inflasi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Terus Memburuk

Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Tim analis Saxo Bank mengatakan sentimen pasar terus memburuk.

"Tekanan tak henti-hentinya pada komoditas, termasuk minyak mentah, berlanjut setelah sesi suram Jumat lalu yang melihat penguatan dolar AS yang dipercepat dan pesimisme pertumbuhan menyebabkan riak melalui pasar," kata Kepala analis Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.

"WTI diperdagangkan di bawah USD 80 per barel sementara kembalinya ke pertengahan 80-an di Brent akan segera melihat tindakan OPEC+ untuk mendukung harga," katanya.

Ketika Rusia memperingatkan tidak akan memasok minyak mentah dan gas dan komoditas lain ke negara-negara yang setuju untuk membatasi harga minyak mentahnya dan pasar mengantisipasi resesi, sektor energi bisa menjadi yang pertama menemukan dukungan begitu dolar AS stabil.

 


Prediksi Profesor AS

Kekhawatiran seputar perlambatan ekonomi terus meningkat. Profesor ekonomi terapan di Universitas Johns Hopkins Steve Hanke menempatkan kemungkinan bahwa AS akan jatuh ke dalam resesi sebesar 80 persen.

“Jika [The Fed] melanjutkan pengetatan kuantitatif dan memindahkan tingkat pertumbuhan dan M2 (penawaran uang) ke wilayah negatif, itu akan parah,” kata Hanke kepada “Street Signs Asia” CNBC pada hari Jumat.

Infografis Ladang Gas
Perbesar
10 Ladang Gas Terbesar Indonesia (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya