Rupiah Melemah ke Posisi 15.023 per Dolar, Ini Penyebabnya

Oleh Agustina Melani pada 22 Sep 2022, 20:58 WIB
Diperbarui 22 Sep 2022, 20:58 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke posisi 15.023 pada perdagangan Kamis, 22 September 2022. Ekonom menilai, rupiah kembali tembus 15.000 per dolar AS seiring bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga acuan.

Mengutip laman Bank Indonesia, kurs Jisdor berada di posisi 15.033. Sementara itu, berdasarkan data RTI, posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 15.023. Rupiah berada di level tertinggi 15.106 dan terendah 14.972 pada Kamis pekan ini.

Ekonom BCA, David Sumual menuturkan, rupiah melemah terhadap dolar AS masih wajar. Pelemahan rupiah yang dikhawatirkan menurut David jika turun 2-3 persen. Ia menilai, bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) yang menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Bahkan the Fed beri sinyal menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

"Pelemahan kecil. Jangan dilihat dari 15.000, yang harus dikhwatirkan turun 2-3 persen. Ini pergerakan 14.900-15.000 masih wajar,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (22/9/2022).

David menambahkan, mata uang negara berkembang termasuk rupiah masih akan tertekan ke depan dibayangi sentimen the Fed.

Sementara itu, dari dalam negeri Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 bps. David menilai, kenaikan suku bunga acuan 50 bps itu mengejutkan seiring harapan naik 25 bps. “Bank Indonesia melihat inflasi tinggi dan untuk menjaga persepsi pelaku pasar tidak liar sehingga dijaga dengan suku bunga,” kata dia.

David menuturkan, kemungkinan inflasi dapat mencapai 7 persen pada 2022. Bank Indonesia pun mengantisipasi hal tersebut dengan suku bunga.

Di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia itu, menurut David mendorong aliran dana investor asing masuk ke obligasi. “BI buat harga obligasi jangka pendek murah sehingga asing banyak masuk dan ekspektasi suku bunga naik,” kata dia.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Sentimen The Fed Bayangi Rupiah

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Hal itu menurut David dapat mendorong nilai rupiah menjadi menarik. Diharapkan hingga akhir tahun 2022, rupiah berada di kisaran 14.950-15.150 per dolar AS. David mengatakan, sentimen the Fed akan terus membayangi hingga akhir 2022. “Geopolitik Ukraina, inflasi masih tinggi (sentimen bayangi rupiah-red),” kata dia.

Sementara itu, Akademisi Universitas Indonesia Teguh Dartanto mengatakan, rupiah melemah akan mendorong harga barang naik. Melihat potensi itu, Teguh menilai pemerintah harus menjaga dan optimalkan sumber domestik terutama bahan pangan. Ia menambahkan, inflasi barang ini bukan kebutuhan pokok masih bisa bertahan, artinya dampaknya tidak langsung.

"Depresiasi rupiah berharap besok pagi menguat. Respons seketika pasar (rupiah melemah-red). Baik dari sisi Bank Indonesia mitigasi dengan kenaikan suku bunga, fiskal dan pemerintah daerah menjaga ketersediaan bahan pokok agar barang tidak melonjak,” kata dia.

Selain itu, ia menilai pemerintah perlu perkuat ketahanan pangan domestik sehingga minikal tidak tergantung impor.


Nilai Tukar Rupiah Melemah Tembus 15.023 per Dolar AS, Pemerintah Harus Apa?

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke posisi 15.023 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (22/9/2022) sore. Sejumlah langkah perlu jadi perhatian pemerintah menyikapi hal ini.

Pelemahan nilai tukar rupiah disebut karena adanya sentimen terhadap kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga. Terbaru, Bank Indonesia merespon sentimen ini dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke posisi 4,25 persen.

Deputi I Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menilai pelemahan rupiah ini tak perlu dicemaskan. Namun, harus ada antisipasi jika hal ini terjadi berkepanjangan.

Ia menuturkan, puncak tertinggi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai 15.106 per dolar AS. Dan level terendah berada di 14.972 per dolar AS. Ini disebut sebagai hal yang lumrah dan biasa terjadi.

"Puncak tertinggi ada di level 15.106, seiring BI naikkan suku bunga acuan, secara bertahap turun ke level terendah 14.972 itu biasa, tidak perlu dikhawatirkan," kata dia dalam Inspirato Sharing Session Liputan6.com, Kamis (22/9/2022).

Menurutnya, saat ini ada sederet ketidakpastian global. Merespon hal itu, maka kerja sama antar pemangku kepentingan di pusat dan daerah perlu diperkuat. Misalnya koordinasi mengenai kebijakan yanh diambil.

"Misalnya harga-harga dengan koordinasi yang baik, setidaknya ada kontribusi terhadap penurunan dari inflasi yang terjadi di bulan Agustus itu tak lepas dari peranan daerah," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Akademisi Universitas Indonesia Teguh Dartanto mengatakan pemerintah perlu menjaga nilai tukar dan akibat turunannya. Dengan Depresiasi rupiah, ia menaksir akan ada kenaikan harga komoditas didalam negeri, utamanya yang bergantung pada bahan impor.

"Sehingga saya yakin sih harusnya yang dilakukan pemerintah adalah menjaga, mengoptimalkan sumber-sumber domestik utamanya bahan pangan," kata dia.

"Inflasi ini barang-barang yang bukan pokok bisa bertahan, artinya masih (terdampak) gak langsung, bagaimanapun adanya depresiasi rupiah ini saya harap besok pagi sudah menguat kembali," tambahnya.


Peran Pemda

Nilai Tukar Rupiah Menguat Atas Dolar
Perbesar
Teller tengah menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Teguh mengatakan BI sudah mengambil langkah mitigasi dengan menaikkan suku bunga. Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu menjaga ketersediaan bahan pokok di lapangan.

Utamanya dari sisi harga yang bisa dijangkau oleh masyarakat. Biasanya, dengan adanya pelemahan rupiah, akan mengerek harga-harga di pasaran.

"Biasanya harga dolar depresiasi hari ini, besok sudah ada alasan (untuk menaikkan harga). Ini perlu pemerintah juga, bukan intervensi, tapi juga ada hal-hal yang perlu kasih sinyal tegas, pemerintah gak bisa membiarkan," ujarnya.

"Sisi lain perkuat ketahanan pangan domestik sehingga bisa mengurangi dengan substitusi," tambah Teguh.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya