Pupuk Indonesia Kenalkan Inovasi, Bawa Pertanian Berkelanjutan

Oleh Liputan6.com pada 19 Sep 2022, 13:30 WIB
Diperbarui 19 Sep 2022, 13:30 WIB
Pupuk Indonesia mengapresiasi Polda Jatim yang berhasil mengungkap penyelewengan pupuk bersubsidi. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Pupuk Indonesia mengapresiasi Polda Jatim yang berhasil mengungkap penyelewengan pupuk bersubsidi. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Pupuk Indonesia Grup selaku perusahaan bidang nutrisi tanaman dan solusi pertanian menghadirkan inovasi berupa Program D’Komposer.

Ini merupakan pendampingan petani dalam penggunaan bahan organik tanah untuk memperbaiki kualitas unsur hara tanah agar menghasilkan pertanian berkelanjutan.

Senior Project Manager (SPM) Creating Shared Value (CSV) Pupuk Indonesia Dwi Pudyasmoro Basuki dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan program D’Komposer merupakan salah satu upaya memperbaiki kualitas tanah pertanian.

D’Komposer, lanjutnya, memanfaatkan produk hayati dari anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup, salah satunya Biodex milik Pupuk Kaltim sebagai bioaktivator perombak atau pendegradasi bahan organik ramah lingkungan. Bioaktivator tersebut akan dilakukan melalui pengembalian jerami hasil pengomposan ke dalam area persawahan (insitu).

“Pupuk Indonesia Grup secara konsisten berperan aktif dalam mendukung program penurunan emisi atau net zero emission pemerintah yang ditargetkan tercapai pada tahun 2026. Dalam rangka berkontribusi pada capaian program tersebut, Pupuk Indonesia Grup berkomitmen menjadi solusi pertanian berkelanjutan,” kata Dwi pada acara tahap awal uji coba program D’Komposer di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dikutip dari Antara, Senin (19/9/2022).

Berdasarkan data Badan Pusat Status (BPS), luas lahan terdegradasi atau penurunan kualitas mencapai 14 juta hektare. Melalui Program D’Komposer akan mempercepat proses dekomposisi kandungan bahan organik dari proses pengomposan jerami sisa panen yang menumpuk di area persawahan.

Dwi mengatakan biasanya masih banyak pelaku pertanian yang melakukan kegiatan pembakaran jerami sisa panen yang menghasilkan residu dalam bentuk gas dan limbahnya menjadi penyumbang peningkatan emisi karbon.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Lahan Pertanian Berkelanjutan

Kementan Targetkan 8,2 Juta Hektare Sawah untuk 20 Juta Ton Beras
Perbesar
Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang, Kamis (3/12/2020). Kementerian Pertanian menargetkan pada musim tanam pertama 2020-2021 penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare menghasilkan 20 juta ton beras. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Program D’Komposer, lanjutnya, akan memperbaiki kualitas lahan pertanian secara berkelanjutan melalui peningkatan kandungan C-organik pada tanah. Limbah jerami sisa panen dioptimalisasi melalui pengomposan yang memberikan nilai tambah pada keberlangsungan lahan pertanian.

Lebih lanjut Dwi mengungkapkan Pupuk Indonesia Grup juga akan melaksanakan Program D’Komposer di tujuh provinsi secara bertahap, seperti di Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Pupuk Indonesia selaku holding mengapresiasi PT Pupuk Kalimantan Timur selaku pelaksana Program D’Komposer yang telah mengaplikasikan Biodex pada lahan 50 hektare di Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Bone. Produk Biodex ini berfungsi sebagai komposting bahan organik yang ramah lingkungan dengan waktu yang relatif singkat.

 


Organik

Pertanian
Perbesar
Para petani sedang menanam padi di sawah (dok.Instagram/@vestanesia/https://www.instagram.com/p/CPagxe-h5MJ/Komarudin)

SVP Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Teguh Ismartono mengatakan implementasi D'Komposer menggunakan Biodex menghasilkan peningkatan nilai C-organik jelang panen di angka 0,54 atau lebih tinggi dibanding lahan tanpa Biodex, dengan rata-rata nilai C-organik hanya 0,15.

Begitu juga dengan potensi hasil panen, produktivitas naik mencapai 9,9 ton/hektare atau naik 4 ton lebih dari panen sebelumnya 5,8/hektare.

"Selain itu nilai potensi dekarbonisasi melalui pengembalian jerami menggunakan Biodex pada program D'Komposer mencapai 218,99 ton CO2 Equivalent. Hal ini menunjukkan jika jerami bisa kita olah menjadi unsur organik tanpa ada lagi emisi yang dihasilkan akibat pembakaran," kata Teguh.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya