5 Komoditas Penyumbang Deflasi Agustus 2022, Cabai hingga Minyak Goreng

Oleh Tira Santia pada 01 Sep 2022, 12:30 WIB
Diperbarui 01 Sep 2022, 12:30 WIB
Inflasi
Perbesar
Pedagang melayani pembeli di pasar, Jakarta, Jumat (6/10). Dari data BPS inflasi pada September 2017 sebesar 0,13 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan karena sebelumnya di Agustus 2017 deflasi 0,07 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2022 terjadi deflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan. Tercatat ada lima komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi.

"Komoditas utama penyumbang deflasi pada Agustus 2022 ini berasal dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit, minyak goreng dan daging ayam ras," kata Kepala BPS Margo Yuwono, dalam keterangan pers, Kamis (1/9/2022).

Rinciannya, berdasarkan hasil pemantauan BPS di 90 kota pada Agustus 2022 terjadi deflasi sebesar 0,21 persen atau terjadi penurunan indeks harga konsumen atau IHK dari 111,80 pada Juli 2020 menjadi 111,57 pada Agustus 2022. Deflasi tersebut merupakan terdalam sejak September 2019.

"Secara month to month pada bulan Agustus terjadi deflasi sebesar 0,21 persen ini merupakan yang terdalam sejak September 2019, di mana pada September 2019 terjadi deflasi sebesar 0,27 persen," katanya.

Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender pada Agustus 2022 tercatat sebesar 3,63 persen, sementara itu tingkat inflasi tahunan dari tahun ke tahun pada Agustus 2022 sebesar 4,69 persen.

Adapun perkembangan inflasi di bulan Agustus jika diamati di 90 kota, terdapat 79 kota di Indonesia yang mengalami deflasi. Inflasi  tertinggi ada di Ambon yaitu 0,82 persen, sedangkan deflasi terdalam di bulan Agustus itu terjadi di Tanjung Pandan yaitu sebesar 1,65 persen.

"Kalau kita perhatikan sebagai ringkasan saja yang saya bacakan menurut Pulau. Pertama, di Sumatera itu di kota-kota yang dihitung inflasinya itu semua mengalami deflasi, dan deflasi terdalamnya ada di tanjungpandan yaitu 1,65 persen," ujarnya.

Lanjut,  kota-kota di Pulau Jawa ada yang mengalami deflasi ada yang mengalami inflasi. Deflasi terdalamnya terjadi di Sumenep yaitu sebesar 1,13 persen, sedangkan inflasi tertinggi terjadi di kota Surabaya sebesar 0,26 persen.

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Bali dan Nusa Tenggara

BI Prediksi Deflasi 0,11 Persen di Minggu Kedua Februari 2022
Perbesar
Warga membawa bahan makanan dengan sepeda motor saat melintas di kawasan Tangerang, Banten, Rabu (16/2/2022).Bank Indonesia (BI) memperkirakan terjadi penurunan harga komoditas atau deflasi pada Februari 2022. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian, di Bali dan Nusa Tenggara Barat maupun Timur, juga mengalami inflasi dan deflasi. Deflasi terdalam ada di Singaraja yaitu sebesar 1,48 persen.

Di Kalimantan, yang mengalami deflasi terdalamnya ada di Sintang sebesar 0,96 persen, kemudian yang mengalami inflasi dan posisi tertinggi nya ada di Palangkaraya  0,28 persen.

Di Sulawesi deflasi terdalam ada di kota bau-bau yaitu 0,71 persen dan yang mengalami inflasi tertinggi ada di Luwuk sebesar 0,54 persen. Terakhir, di kelompok Pulau Maluku dan Papua.

"Di sana (Maluku dan Papua) juga ada yang mengalami deflasi ada juga yang terjadi inflasi. Deflasi terdalam ada di Tual sebesar 0,91 persen dan inflasi tertinggi itu ada di Kota Ambon sebesar 0,82 persen," ujarnya.

 


Komponen Harga

20161003-Pasar Tebet-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Pedagang menunggu dagangannya di Tebet, Jakarta, Senin (3/10). Badan Pusat Statistik merilis dari kelompok pengeluaran, bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,07% (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Margo menjelaskan, perkembangan inflasi pada Agustus ini kalau dilihat menurut komponen, bahwa di bulan Agustus terjadi deflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan.

Hal ini disebabkan karena deflasi pada komponen harga bergejolak, sementara itu untuk komponen inti dan komponen harga yang diatur oleh pemerintah masih mengalami inflasi.

"Pada komponen harga yang bergejolak ini memberikan andil kepada deflasi di bulan Agustus sebesar 0,51 persen, dan kalau dilihat penyebab utamanya itu berasal dari Komoditas bawang merah, cabe merah, dan cabe rawit," ujarnya.

Namun demikian pada komponen harga bergejolak masih terdapat komoditas yang mengalami inflasi utamanya, adalah beras dan telur ayam ras.  

Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya