Pabrik Minyak Makan Merah Mulai Dibangun Oktober 2022

Oleh Arief Rahman Hakim pada 26 Agu 2022, 12:00 WIB
Diperbarui 26 Agu 2022, 12:42 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki  dalam konferensi pers terkait minyak makan merahdi Kemenkop UKM, Jumat (26/8/2022).
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam konferensi pers terkait minyak makan merahdi Kemenkop UKM, Jumat (26/8/2022).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pembangunan perdana pabrik minyak makan merah akan dilakukan pada Oktober 2022. Langkah ini dilakukan menyusul perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta percepatan realisasi.

Pada tahap awal, pembangunan pabrik akan dilakukan di Sumatera Utara. Ini juga menjadi lokasi uji coba untuk pengembangan teknologi pengolahan minyak makan merah.

"Jadi pak Presiden minta ada percepatan, jadi mungkin Oktober ini mulai bangun fisik, DED (Detail Engineering Design) selesai akhir bulan ini, langsung produksi mesinnya, jadi ada (produksi) CPO mini, ada pabrik pengolahan ke minyak makan merah," kata Teten Masdukidalam konferensi pers di Kemenkop UKM, Jumat (26/8/2022).

Teten mengatakan kedepannya pembangunan pabrik akan dilakukan di setiap titik-titik perkebunan kelapa sawit. Misalnya, kebun dengan luasan 1.000 hektar.

"Ini akan menggandeng pembiayaan selain dari pembiayaan LPDB, dan pembangunan fisik oleh BPDPKS. Ini investasinya Rp 23 miliar, untuk (produksi) 10 ton," kata dia.

Rp 23 miliar ini merupakan biaya produksi minyak makan merah dengan kapasitas 10 ton per hari per pabrik. Namun, Menteri Teten belum mengungkap biaya pembangunan pabriknya tersebut.

Mengacu catatan Liputan6.com, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menghitung, biaya pembangunan pabrik sekitar Rp 143 Miliar untuk 1 pabrik.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Bisa Dibangun Koperasi

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam konferensi pers terkait minyak makan merahdi Kemenkop UKM, Jumat (26/8/2022).
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam konferensi pers terkait minyak makan merahdi Kemenkop UKM, Jumat (26/8/2022).

Lebih lanjut, Menteri Teten mengatakan koperasi juga bisa membangun secara mandiri pabrik tersebut. Kemudian mulai memproduksi dari kebun sawit yang dimiliki koperasi tersebut.

"Koperasi yang sudah punya kebun sendiri, ada 2 ribu - 3 ribu hektar, punya financial sendiri kalau bangun pabrik juga bisa," kata dia.

Di sisi lain, Menteri Teten menyampaikan, kalau balik modal biaya pembangunan ini bisa dicapai dalam 3-4 tahun. Sehingga, membuka juga peluang pembiayaan dari perbankan.

"ROI-nya (Return of Investment) 4 atau 3 tahun, bahkan sampai 6 tahun pun bank biasanya masih menyediakan," ujarnya.

"Bahkan koperasi juga kan punya anggota usaha mikro, mereka jual ke anggotanya juga sudah menguntungkan," tambah Menteri Teten.


PTPN Kembangkan Minyak Makan Merah

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki  melakukan Kunjungan Kerja Bersama Stakeholder Kelapa Sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melakukan Kunjungan Kerja Bersama Stakeholder Kelapa Sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara

PTPN Siap Kembangkan Teknologi Minyak Makan Merah. Holding BUMN Perkebunan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) bertekad mengembangkan teknologi pengolahan minyak makan merah. Ini disebut sebagai jawaban atas polemik minyak goreng di tanah air.

Direktur Utama PTPN III Muahmmad Abdul Ghani mengungkap, pengembangan teknologi saat ini tengah dilakukan di Deliserdang, Sumatera Utara. Jika berhasil, baik secara proses dan keekonomian, akan diperluas ke seluruh wilayah Indonesia.

"Minyak makan merah ini diinisiasi Menteri BUMN dan Menkop UKM, jadi ini berawal dari isu minyak goreng kemarin, jadi akhirnya migor itu diminta dikembangkan, sebagai pilot project di Sumut, Deliserdang, di situ, karena teknologinya belum proven ke tingkat industri lagi dikembangkan di tiga tempat," bebernya usai acara Ngopi BUMN, ditulis Selasa (23/8/2022).

Ia berharap, setelah adanya pengembangan ini, nantinya petani skala kecil bisa membangun pabrik-pabrik mini untuk mengolah minyak sawit atau CPO-nya. Sehingga, petani dengan luasan lahan tak terlalu besar juga bisa memproduksi minyak makan merah, tak hanya menjual tandan buah segar (TBS).

 


Wilayah Sekitar Perkebunan

Ghani menyebut, soal pemasarannya untuk sementara menyasar wilayah sekitar perkebunan. Sisi produksinya pun berada di titik-titik perkebunan sawit.

"Kalau itu sukses maka indonesia para petani sawit itu bisa menjadi raja di tempat sendiri, jadi tidak hanya menjual tbs tapi mengolah CPO-nya, boleh di tempat kami, boleh dia membangun pabrik sendiri yang teknologinya disiapkan BPDPKS," ungkapnya.

"Nanti dia bisa menghasilkan minyak goreng, ada sabunnya juga, istilahnya kita korporatisasi petani, sehingga petani tidak jadi objek saja," imbuh Ghani.

Untuk diketahui, pengembangan dilakukan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara, anak usaha dari PTPN hingga Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

infografis journal
Perbesar
infografis 10 Daerah Penghasil Kelapa Sawit Terbesar di Indonesia pada 2021. (Liputan6.com/Tri Yasni).
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya