Harga Avtur Jadi Biang Kerok Tiket Pesawat Mahal, Apa Kata Pertamina?

Oleh Tira Santia pada 19 Agu 2022, 17:45 WIB
Diperbarui 19 Agu 2022, 17:45 WIB
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut
Perbesar
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyiapkan tambahan pasokan Avtur di empat bandara embarkasi

Liputan6.com, Jakarta Harga Avtur  yang menjadi bahan bakar pesawat saat ini terhitung masih tinggi di Indonesia. Mahalnya avtur tersebut, mempengaruhi harga tiket pesawat cenderung menjadi lebih mahal.

Dilansir dari laman resmi PT Pertamina (Persero), harga avtur untuk penerbangan internasional di Bandara Soekarno Hatta berada di angka USD 91,2  per liter per Senin, 15 Agustus 2022. Untuk kategori penerbangan domestik, flight price into plane/not into plane di bandara yang sama ada di angka Rp 14.958 per liter.

Harga avtur yang tertera di laman resmi PT Pertamina (Persero) berlaku untuk periode 15-31 Agustus 2022. Namun, angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu periode 1-14 Agustus 2022 yang sebesar Rp 15.570 per liter.

Pada periode sebelumnya, harga avtur untuk penerbangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta ada di angka USD 94,5  per liter. Sedangkan penerbangan domestik flight into plane/not into plane ada di angka Rp15.570 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, mengatakan harga bahan bakar menyumbang 25  hingga 30 persen dari biaya tiket pesawat.

"Yang kami tahu sekitar 25 persen hingga 30 persen," kata Irto kepada Liputan6.com, Jumat (19/8/2022).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan Menteri BUMN Erick Thohir, untuk segera menyelesaikan polemik harga tiket pesawat akibat kenaikan bahan bakar pesawat (avtur).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pengamat: Turunkan Harga Tiket Pesawat Harus dengan Perbanyak Pemainnya

Tarif Batas Atas Tiket Pesawat
Perbesar
Pesawat milik sejumlah maskapai terparkir di areal Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (16/5/2019). Pemerintah akhirnya menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat atau angkutan udara sebesar 12-16 persen yang berlaku mulai Kamis hari ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan Menteri BUMN Erick Thohir, untuk segera menyelesaikan polemik harga tiket pesawat akibat kenaikan bahan bakar pesawat (avtur).

Menanggapi, Pengamat transportasi dari INSTRAN (Institut Studi Transportasi) Darmaningtyas, menilai polemik soal harga tiket pesawat itu mengacu pada hukum ekonomi yaitu supply dan demand. Semakin banyak permintaan (demand), tapi pasokannya (supply) terbatas maka wajar harga tiket pesawat naik.

"Kalau soal harga tiket pesawat itu kan berlaku hukum supply demand, semakin banyak demand sementara supply-nya terbatas, otomatis harga bisa naik karena persediaan yang terbatas itu diperebutkan oleh banyak orang," kata Darmaningtyas kepada Liputan6.com, Jumat (19/8/2022).

Selain itu, Darmaningtyas menyoroti soal harga avtur yang tinggi dan landing fee yang tinggi juga berkontribusi pada kenaikan harga tiket. Menurutnya, jika harga tiket ingin diturunkan maka perbanyak maskapai dan pemain.

"Kalau mau nurunin ya perbanyak maskapai dan pemain, sehingga muncul persaingan yang sehat. Saat ini, dengan terbatasnya pemain, otomatis persaingan tidak sehat, harga bisa dikendalikan oleh salah satu pihak saja," ujarnya.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Hidupkan Garuda Indonesia

Tarif Batas Atas Tiket Pesawat
Perbesar
Pesawat maskapai Garuda Indonesia terparkir di areal Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (16/5/2019). Pemerintah akhirnya menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat atau angkutan udara sebesar 12-16 persen yang berlaku mulai Kamis hari ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dia menegaskan, sudah menjadi tugas Kementerian BUMN untuk menghidupkan kembali Garuda agar menjadi maskapai nasional yang handal, dan karena BUMN maka harga tiketnya dapat dikendalikan oleh regulator.

"Kalau swasta murni, ya suka-suka mereka saja, regulator tidak bisa memaksa mereka untuk menurunkan tiketnya," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden juga mendorong Erick Thohir dan maskapai pelat merah Garuda Indonesia, agar menambah jumlah armadanya.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya