Tekan Inflasi Indonesia, Luhut Usul ke Jokowi Semua Desa Tanam Cabai dan Bawang Merah

Oleh Liputan6.com pada 19 Agu 2022, 17:30 WIB
Diperbarui 19 Agu 2022, 17:54 WIB
Inflasi
Perbesar
Wahyuning (kanan) melayani pembeli kebutuhan pokok dagangannya di Pasar Pondok Labu, Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kenaikan inflasi yang dicatatakan Indonesia dipicu oleh kenaikan harga aneka cabai dan bawang merah. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan kenaikan inflasi yang dicatatkan Indonesia dipicu oleh kenaikan harga aneka cabai dan bawang merah.

Per Juli 2022, tingkat inflasi Indonesia telah mencapai 4,94 persen (yoy). Tingginya angka tersebut disumbang dari inflasi bahan pokok yang mencapai 2,84 persen.

"Kita ini kampungan juga ini. Kalau dilihat inflasi pokok kita hanya 2,84 persen karena harga cabai dan bawang merah ini mempengaruhi inflasi," ungkap Luhut saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/8/2022).

Luhut pun mengaku telah memberikan usulan kepada Presiden Joko Widodo untuk menekan kenaikan inflasi di sektor pangan.

Salah satunya meminta semua desa menanam sendiri cabai dan bawang merah agar inflasi bisa dikendalikan di kisaran 4 persen.

"Saya lapor ke Pak Presiden, 'Pak semua desa ini suruh saja tanam cabai dan bawang supaya inflasi kita bisa dikendalikan sekitar 4 persen," cerita Luhut.

Meski begitu, Luhut menilai inflasi 4,94 persen yang terjadi di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara lain.

Banyak negara di dunia yang mengalami kenaikan inflasi tinggi sebagai akibat dampak pandemi dan tekanan ekonomi global.

Semisal Amerika Serikat yang inflasinya pernah mencapai 9,1 persen dan Turki yang telah mencapai 70 persen.

Namun, Indonesia masih dalam batas aman karena pemerintah telah melakukan berbagai upaya menahan gejolak akibat krisis pangan dan krisis energi.

"Indonesia masih tetap di negara yang rendah inflasinya. Kita jauh lebih baik dari negara lain.

Untuk itu, kata Luhut, penting bagi sebuah negara menentukan musuh yang paling penting. Seperti saat ini, musuh terbesar yang dihadapi krisis pangan dan energi.

"Dengan demikian ini harus kita tag ini, mana musuh yang penting. Energi kita atasi dengan yang tadi saya sebutkan dan pangan ini juga sudah kita sebutkan tadi," pungkasnya.

 

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Harga Pangan Stabil, Menko Airlangga Optimistis Inflasi Terkendali

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi tahun 2022, Kamis (18/8/2022). (Foto : Biro Pers Sekretariat Presiden)
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi tahun 2022, Kamis (18/8/2022). (Foto : Biro Pers Sekretariat Presiden)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, harga pangan sudah tidak melambung tinggi. Harga beras, bawang, cabai telah mengalami penurunan dan saat ini cukup stabil.

“Harga beras itu juga rata-rata masih kuat sekitar Rp10 ribu, daging sapi dan daging ayam pun sudah turun harganya. Demikian pula terkait dengan gula pasir, bawang merah, bawang putih, cabai merah, itu seluruhnya turun,” ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Jumat (19/8/2022).

Harga volatile food saat ini sudah relatif terkendali dibandingkan saat Lebaran 2022 kemarin. Harga pangan melambung saat Lebaran lalu karena kenaikan permintaan.

Airlangga juga menyampaikan, inflasi pada Juli 2022 berada di angka 4,94 persen. Tingkat inflasi ini dipengaruhi oleh faktor harga komoditas global dan tekanan inflasi yang terjadi di beberapa daerah.

“Inflasi kita 4,94 persen di bulan Juli 2022. Inflasi di paruh waktu 2022 faktornya selain komoditas global juga cuaca kemudian juga terkait dengan tekanan inflasi oleh beberapa daerah dan juga terkait dengan produksi,” ujarnya.

 

 


Kendalikan Inflasi

Selama PPKM, Inflasi Agustus 2021 Diperkirakan 0,04 Persen
Perbesar
Pedagang melayani pembeli kebutuhan pokok di kiosnya di Pasar Lembang, Tangerang, Selasa (24/8/2021). Bank Indonesia (BI) memperkirakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) alias inflasi akan berlanjut pada bulan Agustus 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara spasial, terdapat 30 provinsi yang realisasi inflasinya di atas nasional. Airlangga pun meminta seluruh kepala daerah beserta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga tingkat inflasi di daerahnya.

“Para gubernur untuk ikut menjaga (inflasi) dan melalui TPID agar melakukan ekstra effort agar stabilisasi harga dapat dijaga,” ujarnya.

Airlangga mengungkapkan, partisipasi pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat TPID saat ini mencapai 78 persen, meningkat dari partisipasi tahun lalu yang sebesar 71 persen.

“Ada beberapa daerah yang berprestasi, tentu diharapkan dapat diberikan fasilitas dan tambahan tentunya insentif dari Ibu Menteri Keuangan,” imbuhnya.


KUR

Pemberdayaan UMKM dengan KUR Berbunga Rendah
Perbesar
Pekerja menyelesaikan produksi kulit lumpia di rumah industri Rusun Griya Tipar Cakung, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM terus mendongkrak UMKM dengan menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga cukup rendah, yakni 6 persen. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Airlangga melanjutkan, Pemerintah berencana untuk meningkatkan alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian di 2022 sebesar Rp 90 triliun.

"Jumlah ini merupakan alokasi yang bisa dinaikkan, bukan plafon. Tahun lalu Rp 70 triliun," ujar Airlangga.

Pemberian KUR pertanian adalah salah satu upaya untuk memastikan ketersediaan pangan dan pasokan, yang merupakan langkah 4K dalam menjaga stabilitas dan daya beli dari Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pangan dan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif.

Selain memberikan fasilitas KUR pertanian, Airlangga menyebutkan langkah menjaga ketersediaan juga dilakukan antara lain melalui penguatan cadangan beras oleh Perum Bulog yang relatif aman, dengan saat ini ada sebanyak satu juta hingga 1,5 juta ton cadangan beras.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya