Ekonomi Lesu, Perdana Menteri China Desak 6 Provinsi Terkaya Bantu Tingkatkan Pertumbuhan

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 18 Agu 2022, 20:15 WIB
Diperbarui 18 Agu 2022, 20:15 WIB
FOTO: Shanghai Akan Kembali Dibuka
Perbesar
Para komuter yang mengenakan masker menunggu di persimpangan kawasan pusat bisnis di Beijing, China, Selasa (31/5/2022). Penguncian COVID-19 di Shanghai telah mencekik ekonomi nasional dan sebagian besar mengurung jutaan orang di rumah mereka. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri China Li Keqiang meminta 6 provinsi terkaya di negara itu untuk menawarkan dukungan ekonomi China dalam upaya meningkatkan pertumbuhan.

Provinsi-provinsi ini meliputi Guangdong, Jiangsu, Zhejiang, Shandong, Henan dan Sichuan - yang menyumbang sekitar 40 persen dari output ekonomi China.

China, telah melihat perlambatan konsumsi dan output secara tak terduga di bulan Juli 2022, imbas dampak lockdown dan pembatasan terkait Covid-19.

"Rasa urgensi harus diperkuat untuk mengkonsolidasikan fondasi bagi pemulihan ekonomi," kata PM Li Keqiang dalam pertemuan daring dengan pejabat senior 6 provinsi China, dikutip dari BBC, Kamis (18/8/2022).

Li Keqiang menyebut, maski ada fluktuasi kecil pada ekonomi China meski sudah menunjukkan pemulihan, masih ada flu.

Pemerintah akan mengambil lebih banyak langkah untuk meningkatkan konsumsi dan memperluas investasi yang efektif, tambah Li.

Diketahui bahwa kebijakan nol-Covid-19 telah secara tajam memperlambat pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun ini.

Dalam langkah yang jarang terjadi, bank sentral China memangkas suku bunga pinjaman pada Senin (15/8) untuk memungkinkan permintaan kembali datang.

Dalam tiga bulan hingga akhir Juni 2022, Produk domestik bruto (PDB) China turun 2,6 persen.

Indikator ekonomi utama menunjukkan China mengalami kesulitan meredakan dampak lockdown terhadap bisnis manufaktur dan ritelnya.

Pada bulan Juli, penjualan ritel di China naik hanya 2,7 persen dibandingkan tahun lalu. Angka terbaru juga menunjukkan jumlah pengangguran di antara usia muda berada pada rekor tertinggi.

Adapun penurunan pada investasi properti hingga 12,3 persen bulan lalu, tingkat tercepat tahun ini, ketika China menghadapi krisis sektor properti.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


China Operasi Semai Awan Picu Curah Hujan, Upaya Lawan Bencana Kekeringan

Kekeringan Panjang Kurangi Hasil Panen dan Persediaan Air Minum di China
Perbesar
Dasar sungai yang kering terlihat setelah permukaan air turun di Sungai Yangtze, Yunyang, Kotamadya Chongqing, China, 16 Agustus 2022. Suhu tinggi yang tidak biasa dan kekeringan berkepanjangan mempengaruhi sebagian besar wilayah China, mengurangi hasil panen dan persediaan air minum. (Chinatopix Via AP)

Pihak berwenang China berusaha untuk memicu curah hujan di beberapa bagian China tengah dan barat daya di tengah kekeringan parah dan gelombang panas yang memecahkan rekor.

Dilansir BBC, Kamis (18/8/2022), level air Sungai Yangtze - jalur air terpanjang di Asia - sekarang mencapai rekor terendah.

Di beberapa bagian, curah hujan kurang dari setengah dari biasanya. Reservoir tenaga air saat ini turun sebanyak setengahnya, kata para pejabat.

Pada saat yang sama, lonjakan permintaan untuk AC telah menempatkan perusahaan listrik di bawah tekanan yang ekstrem. Gelombang panas selama dua bulan adalah rekor terpanjang di China, kata Pusat Iklim Nasional.

Provinsi di sekitar sungai Yangtze yang dilanda kekeringan telah beralih ke operasi penyemaian awan untuk memerangi kurangnya hujan, dengan Hubei dan sejumlah provinsi lain meluncurkan roket yang membawa bahan kimia ke langit, menurut media lokal.

Tetapi kurangnya tutupan awan telah menghentikan upaya di beberapa daerah yang berusaha melakukan hal yang sama.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Suhu Capai 40 Derajat Celcius

Kekeringan Panjang Kurangi Hasil Panen dan Persediaan Air Minum di China
Perbesar
Dermaga terlihat dekat dasar sungai yang kering dan retak setelah permukaan air turun di Sungai Yangtze, Yunyang, Kotamadya Chongqing, China, 16 Agustus 2022. Suhu tinggi yang tidak biasa dan kekeringan berkepanjangan mempengaruhi sebagian besar wilayah China, mengurangi hasil panen dan persediaan air minum. (Chinatopix Via AP)

Sementara itu, suhu di seluruh Sichuan dan provinsi tetangga telah melebihi 40C (104 F).

Akibatnya, kantor-kantor pemerintah di Sichuan diminta untuk menjaga tingkat AC tidak lebih rendah dari 26C (79 F), menurut Harian Sichuan yang dikutip oleh kantor berita Reuters.

Pekerja juga telah diminta untuk menggunakan tangga daripada lift jika memungkinkan.Jutaan penduduk juga terkena pemadaman listrik di provinsi tersebut.

Di kota Dazhou, rumah bagi sekitar 5,4 juta orang, pemadaman listrik berlangsung hingga tiga jam, lapor media lokal.

Mereka mengatakan pabrik-pabrik di provinsi tersebut telah dipaksa untuk memotong produksi atau menghentikan pekerjaan sebagai bagian dari tindakan darurat untuk mengalihkan pasokan listrik ke rumah tangga.

Reservoir tenaga air - yang ada banyak di wilayah tersebut - saat ini turun sebanyak setengahnya, tambah para pejabat.

 


Modifikasi Cuaca

Kekeringan Panjang Kurangi Hasil Panen dan Persediaan Air Minum di China
Perbesar
Warga mendinginkan diri di sepanjang Sungai Yangtze, Yunyang, Kotamadya Chongqing, China, 16 Agustus 2022. Suhu tinggi yang tidak biasa dan kekeringan berkepanjangan mempengaruhi sebagian besar wilayah China, mengurangi hasil panen dan persediaan air minum. (Chinatopix Via AP)

Hal serupa pernah dilakukan sebelumnya oleh pejabat China pada 2 tahun lalu.

Waktu itu, China secara besar-besaran memperluas proyek pengendalian cuaca dan bertujuan untuk mengatur cuaca pada setengah wilayah negara tersebut dengan hujan dan salju buatan pada tahun 2025.

Praktik "cloud seeding" ditemukan di AS pada tahun 1946 oleh seorang ahli kimia yang bekerja untuk General Electric. China meluncurkan program serupa pada 1960-an.

Beberapa negara lain, termasuk AS juga memiliki program serupa. Namun, program yang dijalankan oleh Beijing ini adalah yang terbesar di dunia, di mana sekitar 35.000 orang turut bekerja dalam program tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Dewan Negara China mengatakan bahwa proyek cloud seeding di negara itu akan berkembang lima kali lipat untuk mencakup area seluas 2,1 juta mil persegi (3,378.900 km) dan selesai pada tahun 2025. Luas tersebut sama saja dengan mencakup 56% luas dari negara itu.  

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya