Harga Minyak Merangkak Naik Usai Sentuh Level Terendah dalam 6 Bulan

Oleh Maulandy Rizki Bayu Kencana pada 18 Agu 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 18 Agu 2022, 08:00 WIB
Dolar Menguat, Harga Minyak Sentuh Level US$ 50
Perbesar
Penguatan dolar dan produksi minyak Rusia serta ekspor Irak tinggi membuat harga minyak dunia merosot 5 persen.

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak hari ini naik sekitar 1,5 persen pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta), setelah mencapai level terendah dalam 6 bulan.

Hal ini didorong stok minyak mentah AS diprediksi turun melebihi kekhawatiran atas peningkatan produksi dan ekspor Rusia serta kekhawatiran resesi.

Data Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan, stok minyak mentah AS turun 7,1 juta barel dalam seminggu hingga 12 Agustus 2022 menjadi 425 juta barel, dibandingkan dengan perkiraan analis untuk penurunan 275.000 barel dalam jajak pendapat Reuters.

Dikutip dari CNBC, Kamis (18/8/2022), harga minyak mentah Brent naik USD 1,31 atau 1,42 persen ke level USD 93,65 per barel. 

Sebelumnya pada hari itu, kekhawatiran resesi telah mendorong harga minyak ini ke level terendah sejak Februari di USD 91,51. 

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 1,58 atau 1,8 persen menjadi USD 88,11 per barel.

Data EIA juga menunjukan ekspor minyak mentah AS mencapai 5 juta barel per hari dan mencetak rekor tertinggi karena WTI telah diperdagangkan dengan diskon tajam ke Brent, membuat pembelian minyak mentah AS lebih menarik bagi pembeli asing.

Sebagai tanda permintaan yang kuat, stok bensin turun 4,6 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan 1,1 juta barel.

“Itu diharapkan menjadi laporan persahabatan dan itu cukup banyak di seluruh papan. Beberapa kekhawatiran kehancuran permintaan yang dialami pasar tampaknya sedikit berkurang,” kata Analis Price Futures, Phil Flynn.

American Petroleum Institute pada Selasa menandai penarikan 448.000 barel dalam stok minyak mentah dan 4,5 juta barel dalam persediaan bensin, menurut sumber.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Melonjak ke Level Tertinggi

Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Minyak telah melonjak pada tahun 2022, mendekati level tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 147 pada bulan Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Namun, Rusia telah mulai secara bertahap meningkatkan produksi minyak setelah pembatasan terkait sanksi dan karena pembeli Asia telah meningkatkan pemintaan. Hal ini membuat Moskow meningkatkan perkiraan untuk produksi dan ekspor minyak hingga akhir 2025.

Pendapatan Rusia dari ekspor energi diperkirakan naik 38 persen tahun ini sebagian karena volume ekspor minyak yang lebih tinggi, sebagai tanda bahwa pasokan dari negara itu tidak terpengaruh sebanyak yang diperkirakan pasar semula.

Prospek resesi juga baru-baru ini membebani harga minyak. Inflasi Inggris melonjak menjadi 10,1 persen pada Juli, tertinggi sejak Februari 1982. Hal ini engintensifkan tekanan pada rumah tangga, dan mendorong harga minyak lebih rendah pada hari sebelumnya.

“Ada risiko penurunan yang meningkat sebagai akibat dari prospek pertumbuhan dan ketidakpastian yang sedang berlangsung di sekitar pembatasan COVID-19 di China,” kata Craig Erlam dari broker OANDA.

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Pasokan Minyak

harga-minyak-dunia-131203c.jpg
Perbesar
Ilustrasi harga minyak.

Eksodus pedagang, terutama hedge fund dan spekulan, telah membuat perubahan harga minyak harian jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Di sisi pasokan minyak, pasar sedang menunggu perkembangan dari pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia, yang pada akhirnya dapat mengarah pada peningkatan ekspor minyak Iran.

Uni Eropa dan Amerika Serikat mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka sedang mempelajari tanggapan Iran terhadap apa yang disebut UE sebagai proposal final untuk menyelamatkan kesepakatan.

Analis Goldman Sachs mengatakan kembalinya pasokan minyak mentah Iran akan mengurangi perkiraan 2023 mereka sebesar USD 5-USD 10 per barel dari level USD 125 per barel. 

 

Infografis Krisis Venezuela di Negeri Minyak
Perbesar
Infografis Krisis Venezuela di Negeri Minyak. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya