Menko Airlangga: Ekonomi Global Tengah Hadapi The Perfect Storm

Oleh Tira Santia pada 16 Agu 2022, 10:45 WIB
Diperbarui 16 Agu 2022, 10:45 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keynote speech pada acara Penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2022 dengan tema “Bangkit pada Tahun Perubahan”, Senin (15/8/2022). (Sumber ekon.go.id)
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keynote speech pada acara Penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2022 dengan tema “Bangkit pada Tahun Perubahan”, Senin (15/8/2022). (Sumber ekon.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, perekonomian global tengah dihadapkan pada tantangan yang disebut dengan The Perfect Storm atau 5C yaitu Covid-19, Conflict Rusia-Ukraina, Climate Change, Commodity Prices, dan Cost of Living.

Di tengah berbagai tantangan global tersebut, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2022 mampu tumbuh secara impresif di angka 5,44 persen. Kinerja positif ini juga didukung dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali, dimana inflasi Indonesia per Juli 2022 mencapai 4,94 persen, lebih baik dibandingkan negara lain seperti Jerman yang ada di angka 7,5 persen ataupun Perancis di level 6,1 persen.

Hal ini diungkap Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech pada acara Penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2022 dengan tema “Bangkit pada Tahun Perubahan” di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, pada Jakarta Senin 15 Agustus 2022.

Menko Airlangga pun mengapresiasi para pelaku bisnis yang mampu terus bertahan, bahkan bangkit lebih kuat dari pukulan pandemi Covid-19.

“Saya apresiasi Bisnis Indonesia yang merupakan media untuk navigasi ekonomi di Indonesia dan sebagai benchmark terutama untuk mengetahui iklim usaha dan juga untuk mengetahui denyut nadi ekonomi indonesia,” ungkap Menko Airlangga dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (16/8/2022).

Dalam menghadapi The Perfect Storm, banyak negara merespon dengan melakukan pelarangan ekspor komoditas pangan esensialnya dan melakukan pengetatan kebijakan moneter. Kondisi ini kemudian meningkatkan risiko terjadinya stagflasi dan jika berkelanjutan, akan dapat memicu resesi global. Namun, peluang Indonesia untuk mengalami resesi relatif lebih kecil dibandingkan negara lainnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ketahanan Pangan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keynote speech pada acara Penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2022 dengan tema “Bangkit pada Tahun Perubahan”, Senin (15/8/2022). (Sumber ekon.go.id)
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keynote speech pada acara Penganugerahan Bisnis Indonesia Award 2022 dengan tema “Bangkit pada Tahun Perubahan”, Senin (15/8/2022). (Sumber ekon.go.id)

Dari sisi ketahanan pangan, Indonesia juga telah mendapat apresiasi dari International Rice Research Institute (IRRI) atas sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras selama tiga tahun terakhir.

Indonesia juga diberi penghargaan untuk ekosistem pangan termasuk infrastruktur pertanian yang secara konsisten membangun infrastruktur. Infrastruktur tersebut seperti bendungan dengan target 60 bendungan sampai dengan 2024, lumbung dan jaringan irigasi yang terkoneksi, serta penelitian varietas-varietas unggul yang juga bekerjasama dengan IRRI.

Sedangkan dari sisi ketahanan energi, saat ini Indonesia masih dapat memanfaatkan windfall dari ekspor komoditas andalan dan menjadikan APBN sebagai buffer. Meskipun hal ini perlu disesuaikan agar subsidi tidak membengkak.

Upaya menjaga ketahanan energi dan pangan diiringi dengan upaya menjaga ketahanan keuangan yang semakin baik. Utang Luar Negeri Indonesia secara keseluruhan pada Mei 2022 telah menurun di angka USD 406,3 Miliar atau 33,7 persen dari PDB (turun USD 3,8 miliar dibanding April 2022 yang mencapai USD 410,1 miliar).

Saat ini utang Pemerintah masih berada di level yang relatif rendah, yakni di kisaran 40,3 persen dari GDP. Persentase tersebut masih terbilang rendah jika kita bandingkan dengan negara lain seperti Thailand (53,7 persen), India (56,3 persen), Amerika Serikat (128,9 persen), dan Jepang (229,1 persen).

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Pasar Modal

Berbagai leading indicator lainnya juga memperlihatkan bahwa pemulihan akan terus berlanjut dengan prospek yang positif. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur terus berada di level ekspansif selama 11 bulan berturut-turut, indeks kepercayaan konsumen juga terus berada di area positif, dan penjualan ritel juga terus tumbuh.

Dari sisi pasar modal, IHSG juga terus mengalami tren yang positif, dimana secara year-to-date hingga 12 Agustus 2022 telah mengalami pertumbuhan 8,32% atau berada di level 7.129. Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa dunia usaha di berbagai sektor masih solid dan akan terus mengalami perkembangan yang baik.

“Terakhir, saya mengucapkan selamat kepada para peraih penghargaan di ajang Bisnis Indonesia Award ini. Semoga dengan adanya ajang penghargaan ini, dapat memacu semangat kita semua dalam mewujudkan berbagai upaya untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi,” tutup Menko Airlangga.

Infografis IMF Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Baik
Perbesar
Infografis IMF Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Baik (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya