Indonesia Surplus 27 Bulan Beruntun, Airlangga: Kita Waspada di Semester II 2022

Oleh Liputan6.com pada 15 Agu 2022, 16:15 WIB
Diperbarui 15 Agu 2022, 16:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan neraca perdagangan Indonesia surplus secara konsisten selama 26 bulan beruntun. (Dok Kemenko Perekonomian)
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan neraca perdagangan Indonesia surplus secara konsisten selama 26 bulan beruntun. (Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan pada Juli 2022, memperpanjang rekor selama 27 bulan berturut-turut. Kali ini, neraca perdagangan surplus sekitar 4,22 miliar.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), capaian ini diperoleh lantaran angka ekspor per Juli 2022 yang sebesar USD 25,57 miliar masih lebih tinggi dibanding nilai impor pada bulan sama tahun lalu, sebesar USD 21,35 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, surplus neraca dagang tersebut jadi bukti bahwa ekonomi nasional tetap bisa tumbuh menguat di tengah situasi global yang tidak kondusif.

"Tentu ini sangat positif karena hasilnya baik yang diumumkan. Ini tentu membuat fundamental ekonomi kita relatif kuat, dengan harga komoditas yang masih terjaga," ujar Airlangga di The Ritz-Carlton Jakarta, Senin (15/8/2022).

"Selama 27 bulan surplus itu juga tunjukan resiliensi daripada ekspor Indonesia ke pasar global. Sekaligus mendukung supply chain untuk pasar global," imbuh dia.

 

Kendati begitu, Airlangga menegaskan pemerintah tak mau berpuas diri. Pasalnya, masih banyak setumpuk pekerjaan rumah yang harus dihadapi pada semester II 2022 ini hingga tahun mendatang.

"Tahun depan kita tidak melihat banyak hal yang bisa merubah situasi hari ini. Namun tetap yang harus kita waspadai adalah di semester kedua. Tentu terkait dengan pangan yang sangat tergantung pada cuaca. Jadi itu yang harus kita pelajari," serunya.

"Demikian juga ketidakpastian di Eropa yang tentu akan mempengaruhi energi, termasuk komoditasnya di semester kedua," tegas Menko Airlangga.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ekspor Bulanan Juli 2022 Melemah, Tren Ketiban Durian Runtuh Tamat?

Proyeksi Neraca Perdagangan Indonesia
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (14/4/2022). Kenaikan harga komoditas global di tengah perang Rusia-Ukraina tetap menjadi pendorong utama terjadinya surplus yang besar karena mendorong kinerja ekspor Indonesia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor RI pada Juli 2022 sebesar USD 25,57 miliar. Meski secara tahunan atau year on year (YoY) itu melesat 32,03 persen dari USD 19,37 miliar, tapi itu melemah 2,20 persen secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Juni 2022 yang sebesar USD 26,15 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengingatkan, pelaku perdagangan dari Indonesia perlu mewaspadai tren ketiban durian runtuh atau windfall profit akibat melambungnya harga komoditas, yang kini mengalami siklus melambat.

"Perlu kita mewaspadai adanya windfall komoditas-komoditas yang menjadi ekspor impor andalan kita. Beberapa hal perlu dicatat, harga komoditas global saat ini beberapa komoditas utamanya terpantau mengalami penurunan harga," ujarnya, Senin (15/8/2022).

Mengacu pada Indeks Harga Komoditas Global, Setianto menjabarkan, tren untuk harga komoditas energi menunjukan tanda-tanda penurunan, dimana per Juli 2022 berada pada level 168,58.

Begitu juga untuk indeks harga komoditas makanan, dimana grafik menunjukan selama periode April-Juli 2022 terjadi adanya penurunan.

"Jadi pada Juli indeks 138,63, lebih rendah dibandingkan beberapa bulan terakhir," imbuhnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Harga Minyak

Neraca Perdagangan RI Alami Surplus
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setianto pun turut memantau perkembangan global harga minyak mentah yang mengalami pelemahan 10,03 persen secara bulanan pada Juli 2022. Senada, ekspor gas alam juga terpanykas 5,45 persen secara month to month pada bulan yang sama.

"Untuk minyak kelapa sawit per dolar per metrik ton, ini menunjukan penurunan cukup tajam di Juli 2022, USD 1.056,6 per metrik ton dibandingkan Juli 2021 yang harganya USD 1.062,99 metrik ton," papar dia.

Tren menurun juga dialami nikel, yang harganya anjlok 16,28 persen menjadi USD 21.000 per metrik ton secara bulanan per Juli 2022. Lalu harga gandum, yang mengalami penurunan jadi 382,5 USD per metrik ton (terpangkas 16,77 persen secara bulanan).

Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya