Rupiah Berpeluang Menguat pada Perdagangan Senin 15 Agustus 2022

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 12 Agu 2022, 21:30 WIB
Diperbarui 12 Agu 2022, 21:30 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Rupiah menguat 97 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan akhir pekan, Jumat, 12 Agustus 2022 meski sempat naik 105 poin di level Rp 14.668 per dolar Amerika Serikat. Sebelumnya rupiah bergerak di kisaran 14.765.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menuturkan, rupiah berpeluang fluktuatif pada perdagangan Senin, 15 Agustus 2022.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 14.650-Rp 14.720," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat, (12/8/2022).

Ada sejumlah sentimen yang bayangi rupiah jelang akhir pekan ini.  Dari eksternal, dolar AS sedikit lebih rendah pada Jumat, menyusul kerugian 1 persen pada hari sebelumnya ketika data menunjukkan inflasi AS tidak sepanas yang diantisipasi pada bulan Juli, mendorong para pedagang untuk memutar kembali ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan oleh Federal Reserve.

Selain itu, komentar semalam dari pejabat the Fed di jalur pengetatan kebijakan membuat investor tidak yakin atas suku bunga di masa depan. Presiden the Fed San Francisco Mary Daly mengatakan dia terbuka untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin pada September, mencatat inflasi masih tetap di sekitar level tertinggi 40 tahun, Reuters melaporkan.

Presiden the Fed Chicago Charles Evans juga mengatakan minggu ini Fed perlu menaikkan suku setidaknya 3,25 persen menjadi 3,5 persen pada akhir tahun, untuk memerangi inflasi. Suku bunga acuan AS saat ini antara 2,25 persen hingga 2,5 persen.

"Komentar mereka mengimbangi optimisme atas penurunan tak terduga dalam inflasi harga produsen AS pada bulan Juli, data menunjukkan pada hari Kamis. Ini terjadi setelah pembacaan pada hari Rabu menunjukkan inflasi harga konsumen AS tetap statis hingga Juli, setelah naik secara eksponensial pada awal tahun," tutur dia.

Sementara kedua pembacaan menyebabkan kemunduran dalam indeks dolar, investor tetap tidak yakin atas jalur kebijakan moneter AS tahun ini, mengingat ada lebih banyak data inflasi dan ketenagakerjaan sebelum pertemuan the Fed berikutnya. Imbal hasil Treasury juga naik minggu ini.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Sentimen Internal

BCA Jan 2017
Perbesar
Pada 2017 diramalkan kurs rupiah akan bergerak menuju pelemahan dengan rata-rata 13.500 per dolar AS.

Dari sentimen internal, defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan dapat mencapai tingkat yang lebih rendah sekitar 3,8 persen dari proyeksi pemerintah terakhir di 3,9 persen dari Produk Domestic Bruto (PDB). Peneyebabnya adalah kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global menambah penerimaan negara secara signifikan pada tahun ini.

Penerimaan negara yang meningkat tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk menambah subsidi energi sehingga kenaikan harga di dalam negeri tidak setinggi di banyak negara lainnya.

"Pembengkakan subsidi pun tidak akan terlalu besar. Pasalnya, harga minyak dunia ke depan diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari harga bensin dunia yang telah turun kencang dibandingkan dengan harga minyak dunia dalam sebulan terakhir," ujar dia.

Adapun, Kementerian Keuangan mencatat surplus APBN telah mencapai Rp.106,1 triliun per Juli 2022 atau mencapai 0,57 persen dari PDB. 

 

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kondisi Surplus APBN

Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Capaian tersebut meningkat dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp.73,6 triliun atau 0,39 persen dari PDB.Kondisi surplus APBN pada Juli 2022 terjadi karena pendapatan negara mencapai Rp.1.551 triliun dan belanja negara Rp.1.444,8 triliun. Pendapatan negara tercatat tumbuh hingga 21,2 persen (year-on-year/YoY) dan belanja negara naik 13,7 persen (YoY).

Keseimbangan primer pada Juli 2022 tercatat surplus Rp.316,1 triliun, naik dari posisi Juni 2022 yakni Rp.259,6 triliun. Selain itu, keseimbangan primer pun tercatat berbalik membaik dari posisi Juli 2021 yang masih negatif Rp.143,6 triliun.

Sementara itu, pemerintah telah mengucurkan anggaran sebesar Rp.104,8 triliun untuk subsidi energi pada Semester Pertama 2022. Anggaran ini digunakan untuk membayar kompensasi untuk Pertamina dan PLN agar harga energi tak naik.


Pembukaan Perdagangan

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat pada Jumat pagi didukung data inflasi produsen Amerika Serikat yang melambat.

Kurs rupiah pagi ini menguat 29 poin atau 0,2 persen ke posisi 14.737 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.766 per dolar AS."Nilai tukar rupiah masih berpotensi menguat hari ini terhadap dolar AS karena indikasi inflasi AS mulai melambat," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra dikutip dari Antara, Jumat (12/8/2022).

Data inflasi produsen AS pada Juli semalam menunjukkan penurunan tingkat inflasi yang selaras dengan data inflasi konsumen AS yang dirilis sehari sebelumnya.

Data inflasi produsen AS tercatat sebesar -0,5 persen (mom) pada Juli. Angka itu lebih rendah dari konsensus sebesar 0,2 persen (mom).

Menurut Ariston, data tersebut meningkatkan ekspektasi bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) mungkin tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga acuannya pada September sehingga mendorong pelemahan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya. Di pasar berkembang, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya