Inflasi AS Menjinak, Rupiah Sukses Pecundangi Dolar AS

Oleh Arief Rahman Hakim pada 11 Agu 2022, 10:41 WIB
Diperbarui 11 Agu 2022, 10:41 WIB
BCA Jan 2017
Perbesar
Pada 2017 diramalkan kurs rupiah akan bergerak menuju pelemahan dengan rata-rata 13.500 per dolar AS.

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah menguat pada Kamis pagi seiring rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan.

Rupiah pagi ini menguat 54 poin atau 0,36 persen ke posisi 14.817 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.871 per dolar AS.

"Penguatan rupiah ditopang rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang menunjukkan nilai inflasi AS bulan Juli sebesar 8,5 persen, lebih rendah dari bulan Juni," kata Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut Revandra, laporan inflasi tersebut membuat pasar menilai bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) berpeluang untuk lebih dovish dalam mengeluarkan kebijakan khususnya terhadap kenaikan suku bunga.

"Imbasnya, dolar mengalami pelemahan sehingga rupiah bisa mengalami penguatan," ujar Revandra. 

Laporan inflasi AS pada Juli lebih rendah dari perkiraan ekonom untuk Juli 8,7 persen dan inflasi bulan lalu yang mencapai 9,1 persen.

Pelaku pasar pun memangkas taruhan bahwa The Fed akan memberlakukan kenaikan 75 basis poin ketiga berturut-turut pada September, dan sebagai gantinya akan memilih kenaikan 50 basis poin.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Inflasi

Kurs Rupiah terhadap Dolar
Perbesar
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, lanjut Revandra, data-data ekonomi domestik yang relatif solid juga turut mendukung penguatan rupiah di tengah tren kenaikan inflasi di Tanah Air.

"Walaupun inflasi cukup tinggi, tapi pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sangat baik. Secara fundamental rupiah juga masih baik," kata Revandra.

Pada Rabu (10/8) lalu, rupiah ditutup melemah 18 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp14.871 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.853 per dolar AS.


Prediksi

Jangan dulu senang, Rupiah Masih Harus Tetap Waspada
Perbesar
Kurs rupiah yang sejak Rabu lalu menguat drastis, tak bisa menjadi alasan buatmu untuk tetap tenang.

Pada perdagangan Rabu, 10 Agustus 2022, Rupiah kembali ditutup melemah 18 poin walaupun sempat melemah 25 poin di level  14.870. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.853.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Kamis, 11 Agustus 2022.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang 14.850 hingga 14.910,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (10/8/2022).

Secara internal, hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang terus memanas baik di Eropa maupun Asia, membuat harga komoditas kembali melambung. 

Bahkan harga minyak mentah dan gas alam yang lonjakannya begitu besar, sehingga berdampak terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan yang lebih spesifik adalah naiknya harga gandum dan pupuk.

Meskipun begitu, Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga komoditas belum begitu berpengaruh terhadap inflasi di Indonesia karena harga-harga dalam negeri diatur oleh pemerintah. 

“Pemerintah menggunakan berbagai instrumen fiskal termasuk pajak, subsidi dan insentif untuk mengatasi kondisi ini," ujar Ibrahim. 

Di sisi harga komoditas bergejolak, Indonesia mendapatkan berkah dari lonjakan harga tersebut dan ini menjadi bagian terpenting bagi pendapatan negara yang sampai saat ini bisa menopang subsidi dan kompensasi serta bisa menjaga ritme harga BBM bersubsidi, walaupun negara-negara lainnya menaikan harga BBM.

Oleh karena itu, Pemerintah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi dan kompensasi energi pada 2022, yakni sebesar Rp 502 triliun. Meskipun demikian pemerintah masih memiliki nasib yang baik. Lantaran pada 2022 ini, penerimaan meningkat karena mendapat rejeki nomplok dari kenaikan harga komoditas.

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona
Perbesar
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya