Sri Mulyani Beri Sinyal Anggaran Subsidi 2023 Bakal Makin Jumbo

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 08 Agu 2022, 18:15 WIB
Diperbarui 08 Agu 2022, 18:15 WIB
Pertamax Cs Turun Harga
Perbesar
Petugas mengisi BBM pada sebuah mobil di SPBU, Jakarta, Sabtu (5/1/2019). PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM non subsidi yakni, Pertalite Rp 150 per liter, Pertamax Rp 200 per liter dan Pertamax Turbo Rp 250 per liter. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sinyal, pemerintah akan tetap mempertahankan anggaran subsidi jumbo pada 2023.

Alokasi tersebut akan dilimpahkan untuk sejumlah komoditas yang secara harga keekonomian kian bergejolak, seperti subsidi BBM dan gas LPG.

Bahkan, ia membuka kemungkinan angkanya bakal lebih besar dibandingkan alokasi anggaran subsidi tahun ini, yang sekitar Rp 502 triliun.

"Subsidi dan kompensasi yang tahun ini diperkirakan mencapai Rp 502 triliun, tahun depan juga masih akan sangat besar. Nanti angka finalnya akan disampaikan Bapak Presiden," ujar Sri Mulyani dalam sesi keterangan pers usai Sidang Rapat Kabinet, Senin (8/8/2022).

"Artinya, tahun depan perlu beberapa subsidi dari beberapa barang yang diatur pemerintah masih akan dicoba untuk distabilkan, dan dengan konsekuensi subsidi yang meningkat," sebut dia.

Pemerintah pada tahun anggaran 2022 mampu memberikan subsidi besar Rp 502 triliun karena adanya windfall penerimaan dari tingginya harga komoditas. Namun, Sri Mulyani mengatakan, benefit tersebut tampaknya akan sulit terulang tahun depan.

Kita memprediksikan dari sisi pajak akan mendapatkan Rp 279 triliun penerimaan yang berasal dari komoditas. Ini mungkin tidak akan berulang atau tidak akan setinggi ini untuk tahun depan. Pasalnya, berkah komoditas diprediksi tak lagi dirasakan negara pada 2023.

"Kita memprediksikan dari sisi pajak akan mendapatkan Rp 279 triliun penerimaan yang berasal dari komoditas. Ini mungkin tidak akan berulang atau tidak akan setinggi ini untuk tahun depan," ungkapnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Penerimaan Cukai

Menkeu dan BI Raker Dengan Banggar DPR
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelum rapat kerja Badan Anggaran DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/5/2022). Rapat membahas pembicaraan pendahuluan RAPBN tahun anggaran 2023 dan rencana kerja pemerintah tahun 2023. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Senada, dari sisi bea cukai, pemerintah memperkirakan negara akan mendapat Rp 49, triliun untuk 2022. Terutama untuk komoditas yang membayar bea keluar pada komoditas energi.

"Ini mungkin juga tidak akan terulang pada level setinggi ini, karena kalau kita lihat tahun ini harga-harga dari minyak mencapai di atas USD 100 per barel. Tahun depan diperkirakan akan melemah pada level USD 90," kata Sri Mulyani.

"Untuk harga-harga seperti batu bara yang mencapai USD 244 tahun depan diperkirakan akan lebih lemah pada level USD 200. Sedangkan untuk CPO pada USD 1.350 diperkirakan akan menurun di bawah USD 1.000. Ini semua harus dipertimbangkan di bawah estimasi penerimaan negara tahun depan," tandasnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Subsidi Capai Rp 502 Triliun, Moeldoko Minta Masyarakat Hemat Pakai BBM

Pertamax Cs Turun Harga
Perbesar
Petugas mengisi BBM pada sebuah motor di salah satu SPBU, Jakarta, Sabtu (5/1/2019). PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM non subsidi masing-masing Dexlite Rp 200 per liter, dan Dex Rp 100 per liter. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, selama ini, pemerintah bekerja keras agar masyarakat tidak terbebani dengan kenaikan harga-harga komoditas, imbas dari ketidakpastian global. Salah satunya, dengan memberikan subsidi BBM dan gas yang nilainya mencapai Rp 502 triliun.

"Jadi, bapak/ibu yang naik sepeda motor, itu negara menyubsidi Rp 3,7 juta dalam satu tahun. Bagi yang naik mobil, negara menyubsidi Rp 19,2 juta setahun," kata Moeldoko dikutip dari siaran persnya, Senin (8/8/2022).

"Untuk itu, saya mohon kita berhemat dalam menggunakan BBM," sambung dia.

Dia menuturkan, Indonesia sedang menghadapi ujian berat berupa ancaman kriris pangan, energi, dan ketidakpastiaan global. Moeldoko menyebut kondisi ini dapat memicu terjadinya krisis ekonomi.

"Indonesia yang menjadi bagian global, sedang dihadapkan pada kondisi yang tidak normal. Terlebih, saat ini banyak negara menghadapi krisis ekonomi yang bisa memberikan dampak terhadap krisis lainnya," jelas dia.

Moeldoko menyampaikan, berdasarkan data IMF, setidaknya ada 60 negara yang perekonomiannya diperkirakan akan ambruk. Dari 60 tersebut, sebanyak 42 negara di antaranya dipastikan sudah menuju ambruk.

"Kita harus bersyukur, Indonesia masih dalam keadaan baik. Ketahanan pangan dan energi masih terjaga. Ekonomi terus tumbuh meski inflasi naik di angka 4 persen lebih. Tapi kita juga harus waspada," tutur Moeldoko.


Negara Tak Kuat

Uji Coba Beli Pertalite Pakai MyPertamina
Perbesar
Petugas melakukan pengisian bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, akan melakukan uji coba pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Pertalite dan Solar, secara terbatas bagi pengguna yang sudah terdaftar pada sistem MyPertamina, mulai 1 Juli mendatang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diberikan pemerintah sudah sangat besar yakni, mencapai Rp 502 triliun. Menurut dia, tidak ada negara mana pun yang kuat memberikan subsidi sebesar itu.

"Perlu kita ingat subsidi terhadap BBM sudah terlalu besar dari Rp170 (triliun) sekarang sudah Rp502 triliun. Negara manapun tidak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu," kata Jokowi dalam acara Zikir dan Doa Kebangsaan di halaman Istana Merdeka Jakarta, Senin 1 Agustus 2022.

"Tapi alhamdulilah kita sampai saat ini masih kuat. Ini yang perlu kita syukuri," sambungnya.

Dia menyampaikan bahwa harga bensin di negara lain mencapai Rp 31.000 sampai Rp 32.000 per liter. Sedangkan, harga Pertalite di Indonesia Rp7.650 per liter.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya