Rupiah Berpotensi Loyo pada Jumat 5 Agustus 2022

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 04 Agu 2022, 21:17 WIB
Diperbarui 04 Agu 2022, 21:17 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (4/8/2022) Rupiah kembali ditutup melemah 21 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 25 poin di level Rp 14.932. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.911.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan Jumat, 5 Agustus 2022.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.920 hingga Rp 14.970," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Agustus 2022.

Ibrahim memaparkan, secara internal hal ini dipengaruhi pasar yang terus memantau perkembangan utang Indonesia yang terus mengalami kenaikan walaupun Pemerintah memastikan utang negara sebesar Rp 7.123 triliun dalam batas aman dan wajar. 

"Meski jumlah utang tersebut meningkat Rp 121 triliun dibanding Mei 2022 sebesar Rp 7.002 triliun. Sedangkan rasio utang terhadap PDBdalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal,” ujar Ibrahim.

Adapun utang pemerintah didominasi instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dengan porsi sebesar 88,46 persen. Hingga akhir Juni 2022, penerbitan SBN yang tercatat sebesar Rp 6.301,88 triliun. 

Penerbitan ini juga terbagi menjadi SBN domestik dan SBN valuta asing (valas). SBN Domestik tercatat sebanyak Rp 4.992,52 triliun yang terbagi menjadi Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 4.092,03 triliun serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 900,48 triliun.

Sementara itu, SBN Valas yang tercatat adalah sebesar Rp 1.309,36 triliun dengan rincian SUN sebesar Rp 981,95 triliun dan SBSN senilai Rp 327,40 triliun.

Berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (Rupiah), yaitu 70,29 persen. Selain itu, saat ini kepemilikan oleh investor asing terus menurun sejak 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir 2021 yang mencapai 19,05 persen, dan per 5 Juli 2022 mencapai 15,89 persen.

Walaupun pemerintah memberikan sinyal aman terhadap utang pemerintah namun pelaku pasar sedikit goyah, karena kondisi pasar global yang terus tertekan akibat resesi teknikal di beberapa benua salah satunya AS dan Eropa serta ketegangan China dan Taiwan akibat kedatangan Pelosi.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dolar AS Menguat

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya pada Kamis, setelah data menunjukkan kenaikan mengejutkan di industri jasa AS pada Juli, sementara komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve minggu ini juga mendukung greenback.

Data yang dirilis Rabu menunjukkan industri jasa AS secara tak terduga meningkat pada Juli di tengah pertumbuhan pesanan yang kuat, mendukung pandangan ekonomi tidak dalam resesi meskipun output merosot pada paruh pertama tahun ini.

Selain itu, sejumlah pembuat kebijakan The Fed, termasuk Presiden Fed San Francisco Mary Daly dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari pada Rabu, menekankan perjuangan untuk mengendalikan inflasi yang melonjak akan terus berlanjut. Bahkan jika terkait kenaikan suku bunga. dapat secara signifikan membatasi kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, Bank sentral Inggris diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, terbesar sejak 1995, menjadi 1,75 persen, level tertinggi sejak akhir 2008 pada awal krisis keuangan global.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Rupiah Masih Keok Lawan Dolar AS

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya,  nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan pada Kamis pagi ini. Pelemahan rupiah berlangsung sejak awal pekan seiring pesan hawkish (kebijakan pengetatan moneter) dari pejabat bank sentral AS The Federal Reserve.

Rupiah pagi ini melemah 7 poin atau 0,05 persen ke posisi 14.919 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.912 per dolar AS.

"Dolar AS berpotensi lanjutkan tren penguatannya akhir-akhir ini di tengah optimisnya data ekonomi AS serta pesan yang hawkish dari pejabat Federal Reserve," kata analis Monex Investindo Futures Faisyal dikutip dari Antara, Kamis (4/8/2022).

Semalam, data Index Sevices PMI AS yang dilaporkan oleh Institute for Supply Management (ISM) untuk periode Juli menunjukkan naik ke level 56,7 dari periode sebelumnya di 55,3 dan ekspektasi pasar untuk di level 53,5.

Sementara itu untuk jumlah pesanan pabrik AS di periode Juni juga tumbuh 2 persen, lebih tinggi dari periode sebelumnya yang direvisi naik menjadi tumbuh 1,8 persen dan perkiraan pasar untuk pertumbuhan 1,3 persen.

Sentimen lain yang dapat mendukung penguatan dolar AS adalah pernyataan yang dipandang cenderung hawkish dari trio pejabat The Federal Reserve.

 


Kebijakan Moneter

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan bahwa masih ada jalan untuk mencapai kebijakan moneter yang lebih ketat. Bullard mengatakan bahwa masih ingin suku bunga mencapai 3,75 persen hingga 4 persen pada tahun ini.

Selain Bullard, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dan Presiden Fed Richmond Thomas Barkins juga bergabung dengan pesan yang cenderung hawkish.

Rully memprediksi hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp14.860 per dolar AS hingga 14.915 per dolar AS.

Pada Rabu (3/8) lalu, rupiah ditutup melemah 23 poin atau 0,15 persen ke posisi 14.912 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.889 per dolar AS.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya