Naikkan Suku Bunga Perdana Sejak 2011, Ini Pengakuan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 22 Jul 2022, 13:00 WIB
Diperbarui 22 Jul 2022, 13:00 WIB
Ilustrasi bendera Uni Eropa di kantor pusatnya di Brussels (AP Photo)
Perbesar
Ilustrasi bendera Uni Eropa di kantor pusatnya di Brussels (AP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam upaya menekan inflasi, Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) akhirnya mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuan dengan besaran setengah persen atau 50 basis poin. Kenaikan ini merupakan langkah pertama sejak 2011.

Dilansir dari CNN Business, Jumat (22/7/2022) kenaikan suku bunga acuan ini mulai berlaku pada 27 Juli. Langkah ini terpaksa dilakukan oleh Bank Sentral Eropa untuk meredam rekor inflasi. Saat ini hampir seluruh dunia termasuk Eropa mengalami inflasi dampak dari melonjaknya harga energi dan pangan.

Pada Juni 2022, inflasi tahunan Uni Eropa melonjak menjadi 9,6 persen.

Bank Sentral Eropa mendorong suku bunga acuannya naik 50 basis poin, membawa suku bunga deposito ke nol.

Bank Sentral Eropa sebelumnya telah mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga dengan margin yang lebih kecil, kemudian memutuskan perlu langkah lebih agresif berdasarkan peninjauan risiko inflasi yang diperbarui.

"Inflasi yang tidak diinginkan terus tinggi dan diperkirakan akan tetap di atas target kami untuk beberapa waktu," kata Presiden ECB Christine Lagarde dalam sebuah konferensi pers.

"Mulai sekarang kami akan membuat keputusan kebijakan moneter berdasarkan data-dependent," lanjut Lagarde.

"Kami akan beroperasi bulan demi bulan dan langkah demi langkah. Apa yang terjadi pada bulan September akan tergantung pada data apa yang kami miliki untuk bulan tersebut," tambahnya.

ECB juga meluncurkan alat pembelian obligasi baru yang bertujuan untuk membatasi biaya pinjaman di negara-negara dengan utang tinggi di zona euro, seperti Italia dan Yunani. 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Presiden Bank Sentral Eropa : Tidak Akan Ada Resesi Tahun Ini dan Tahun Depan

Negara-Negara Eropa Kembali Perketat Pembatasan
Perbesar
Polisi mengendarai mobil patroli mereka di jalan perbelanjaan yang biasanya ramai di pusat kota Amsterdam, 20 Desember 2021. Negara-negara di Eropa mempertimbangkan pembatasan yang lebih ketat guna membendung gelombang baru infeksi COVID-19 yang didorong oleh varian omicron. (AP Photo/Peter Dejong)

Sementara itu, Bank Sentral Eropa belum merilis langkah-langkah penanganan resesi.

Pada bulan Juni, dikatakan bahwa mereka memperkirakan output meningkat sebesar 2,8 persen tahun ini dan sebesar 2,1 persen pada tahun 2023.

"Skenario dasar, tidak ada resesi, baik tahun ini maupun tahun depan," kata Lagarde, meskipun dia mengakui adanya awan gelap di atas ekonomi Eropa.

Risiko resesi dapat membatasi kemampuan ECB untuk terus menaikkan suku bunga, yang membantu memerangi inflasi tetapi juga memperlambat perekonomian.

ECB disebut berjalan jauh di belakang rekan-rekannya.

Setelah memangkas suku bunga menjadi nol pada awal pandemi, The Federal Reserve atau Bank Sentral AS telah menaikan suku bunga sejak Maret 2022, menaikkan suku bunga acuannya secara bertahap selama beberapa bulan terakhir untuk menangani inflasi yang tak terkendali. 

Selain kenaikan inflasi, Eropa juga masih menghadapi tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai pasokan energi, yang membuat ramalan inflasi di masa depan menjadi sulit.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Ramalan Nomura: AS, Inggris, Eropa Hingga Jepang Bakal Resesi 12 Bulan Kedepan

Rak Supermarket di Inggris Kosong Melompong
Perbesar
Pengunjung berbelanja dekat rak kosong supermarket Tesco di Manchester, Minggu (12/9/2021). Pengecer, produsen dan pemasok makanan juga melaporkan gangguan karena kekurangan pengemudi truk terkait pandemi dan dampak Brexit telah mempersulit banyak orang Eropa untuk bekerja di Inggris (AP /Jon Super)

Kepala ekonom di perusahaan keuangan jepang Nomura, Rob Subbaraman meramal bahwa sejumlah negara ekonomi besar di dunia akan jatuh ke dalam resesi dalam 12 bulan ke depan, karena bank sentral bergerak untuk secara agresif memperketat kebijakan moneter untuk melawan lonjakan inflasi. 

Pernyataan Subbaraman menandai ramalan terbaru dari banyak prediksi bank-bank besar di dunia terkait resesi ekonomi.

"Saat ini bank sentral, banyak dari mereka telah beralih ke mandat tunggal, dan itu untuk menurunkan inflasi. Kredibilitas kebijakan moneter adalah aset yang terlalu berharga untuk hilang. Jadi mereka akan menjadi sangat agresif," kata Subbaraman, yang juga merupakan kepala riset pasar global Asia ex-Japan, dikutip dari CNBC International.

"Itu berarti kenaikan tarif muatan depan. Kita sudah memperingatkan selama beberapa bulan tentang risiko resesi. Sekarang kita melihat banyak negara maju yang benar-benar bakal jatuh ke dalam resesi," ujarnya kepada CNBC Street Signs Asia.

Selain Amerika Serikat, Nomura juga memperkirakan resesi akan terjadi di negara-negara Eropa atau zona euro, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada tahun depan.

Subbaraman menyebut, bank-bank sentral di seluruh dunia mempertahankan kebijakan moneter yang longgar terlalu lama, dengan harapan inflasi akan bersifat sementara.

"Satu hal lagi yang saya tunjukkan bahwa, ketika ada banyak ekonomi yang melemah, Anda tidak dapat mengandalkan ekspor untuk pertumbuhan. Itulah alasan lain mengapa kita menganggap risiko resesi ini sangat nyata dan kemungkinan akan terjadi," jelasnya. 

Infografis IMF Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Baik
Perbesar
Infografis IMF Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Baik (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya