18.439 Industri Sudah Kantongi Izin Operasi di Masa Pandemi

Oleh Maulandy Rizki Bayu Kencana pada 06 Jul 2022, 15:45 WIB
Diperbarui 06 Jul 2022, 15:45 WIB
PPnBM Diperpanjang, Industri Otomotif akan Membaik
Perbesar
Pekerja memeriksa kualitas komponen otomotif di pabrik PT Dharma Polimetal (Dharma Group), kawasan Delta Silicon, Cikarang. Perusahaan manufaktur komponen otomotif optimistis perpanjangan PPnBM dan tren penjualan kendaraan roda empat (4 wheeler/4W) yang mulai positif. (Liputan6.com/HO/Dharma)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sebanyak 18.439 perusahaan telah mengantongi Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) hingga 2 Juni 2022.

“Persentase laporan berkalanya 43,84 persen atau 10.281. Dari kegiatan tersebut ada 5.010 IOMKI yang dicabut dan satu dibekukan karena tidak patuh melakukan pelaporan,” kata Plh Direktur Ketahanan dan Iklim Usaha Industri Kemenperin Iken Retnowulan dikutip dari Antara, Rabu (6/7/2022).

Industri dengan IOMKI juga tercatat mampu menyerap 5,65 juta tenaga kerja. Iken menjelaskan IOMKI merupakan salah satu upaya kebijakan yang ditetapkan Kemenperin untuk meningkatkan daya saing industri di tengah pandemi COVID-19.

“Kebijakan IOMKI ini dianggap menggairahkan iklim usaha di Tanah Air. meskipun 2 tahun kini kita menghadapi COVID-19, nilai PMA Indonesia masih tetap tumbuh meski awalnya kontraksi,” ujarnya.

Kebijakan IOMKI memiliki empat klasifikasi yakni industri kritikal, industri esensial, industri esensial ekspor + domestik, dan industri non-esensial. Contohnya industri makanan, minuman, petrokimia, semen, dan bahan bangunan.

Lebih lanjut Iken menuturkan kinerja sektor industri pengolahan dengan nilai PMI-BI pada triwulan II 2022 mencapai 56,06 persen. Namun industri manufaktur masih menghadapi berbagai tantangan seperti pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa, dampak Free Trade Agreement (FTA) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), adanya ketergantungan bahan baku/penolong impor yang tinggi, serta pembiayaan sektor industri yang masih minim.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Tingkatkan Daya Saing

Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)
Perbesar
Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)

Oleh karenanya sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing, Kemenperin menerapkan berbagai kebijakan. Selain IOMKI, Kemenperin bersama kementerian terkait telah menetapkan tarif bea cukai yang menjadi instrumen pengembangan industri dalam peningkatan daya saing.

“Ada instrumen perdagangan dalam FTA guna menciptakan akses pasar di luar negeri dan menciptakan standarisasi serta meningkatkan investasi asing di dalam negeri,” jelasnya.

Pada tahun ini terdapat 9 FTA yang bisa dimanfaatkan Indonesia dengan rata-rata tarif 3,32 persen dan ada yang mencapai 0 persen.

Selain itu Kemenperin juga telah menetapkan kebijakan trade remedies yang efektif dalam membendung impor sejenis dan safeguards yang memberikan tenggang waktu bagi industri dalam negeri untuk memperbaiki performa.

“Kemenperin turut mendorong percepatan dan penanganan COVID-19 dengan percepatan vaksinasi booster untuk tenaga kerja industri,” kata Iken.


Berkat Hilirisasi, Ekspor Industri Manufaktur Terus Naik dan Dominan

Industri Komponen Otomotif Bersiap Tingkatkan Penetrasi 4W
Perbesar
Pekerja memeriksa produk dan kualitas komponen otomotif di pabrik PT Dharma Polimetal (Dharma Group), kawasan Delta Silicon, Cikarang, Jawa Barat. Perusahaan manufaktur Triputra Group menargetkan penjualan hingga 38.81 % atau senilai Rp 3,08 triliun pada 2021. (Liputan6.com/HO/Dharma)

Industri pengolahan masih memberikan kontribusi yang dominan terhadap nilai ekspor nasional, dengan capaian sebesar 74,46 persen sepanjang Januari-April 2022.

Selama empat bulan pertama tahun 2022, kinerja pengapalan produk sektor manufaktur menembus hingga lebih dari USD69,59 miliar atau naik 29,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

“Hal ini menunjukkan bahwa upaya dan kebijakan dalam pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik di tengah menghadapi berbagai tantangan dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (18/5/2022).

Menperin menegaskan, pihaknya bertekad untuk konsisten melaksanakan program hilirisasi industri yang bertujuan meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, di tengah harga komoditas yang kian menanjak. Sebab, selain memiliki andil dalam tumbuhnya kinerja ekspor nasional, percepatan hilirisasi sektor industri juga berdampak positif pada kesejahteraan rakyat. 

“Tingginya dominasi sektor industri manufaktur pada capaian nilai ekspor nasional juga menstimulasi peningkatan nilai surplus terhadap neraca perdagangan kita saat ini,” jelas Menperin.

Apalagi, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, sasaran ekspor Indonesia harus pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang tinggi. 

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada April 2022, yakni sebesar USD7,56 miliar.

Apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, surplus neraca perdagangan pada April naik 66,9 persen. Surplus neraca perdagangan itu diperoleh dari nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan nilai impor pada periode tersebut. BPS mencatat, nilai ekspor pada April 2022 sebesar USD27,32 miliar, sedangkan nilai impor mencapai USD19,76 miliar. 


Surplus April 2022

Penggunaan robot di industri manufaktur
Perbesar
Penggunaan robot di industri manufaktur (dok: Universal Robot)

Sementara itu, surplus April 2022 merupakan rekor tertinggi yang berhasil melampaui bulan Oktober 2021 dengan nilai sebesar USD5,74 miliar.

Bahkan, nilai ekspor bulan keempat itu juga menjadi capaian tertinggi sepanjang masa, yang sebelumnya tercipta pada Maret 2022 sebesar USD26,5 miliar. 

“Di bulan April 2022, ekspor industri pengolahan mencapai USD19,08 miliar atau naik 27,92% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren positif kenaikan ekspor dari sektor industri ini akan kami jaga sebaik mungkin, ditengah-tengah disrupsi rantai supply global karena konflik di Ukraina-Russia. Target kami, kinerja ekspor tahun 2022 bisa melampaui 2021” papar Agus. 

Menperin menyampaikan, guna terus memacu kinerja ekspor nasional, pemerintah proaktif melakukan berbagai program promosi di kancah internasional serta peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral. Momentum ini akan dimanfaatkan melalui kegiatan-kegiatan pada ajang Presidensi G20 Indonesia. 

“Maka itu, forum G-20 akan dioptimalkan untuk menggali berbagai potensi kerja sama dengan berbagai negara, termasuk di sektor industri,” ujar Agus.

Lebih lanjut, Presidensi G20 dinilai menjadi berkah bagi ekonomi Indonesia.  “Selain akan menciptakan lapangan kerja melalui kerja sama investasi, event tingkat tinggi tersebut juga berpeluang membuka keran ekspor bagi produk-produk industri kecil dan menengah (IKM),” imbuhnya. 

Infografis Polusi Udara di Dunia Menurun saat Pandemi Corona. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Polusi Udara di Dunia Menurun saat Pandemi Corona. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya