Cabai Rawit hingga Bawang Merah Jadi Biang Kerok Inflasi Juni 2022

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 01 Jul 2022, 10:45 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 10:45 WIB
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Hingga Rp 120 Ribu per Kilogram
Perbesar
Pedagang memasukan cabai rawit merah ke dalam bungkusan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (20/6/2021). Harga cabai rawit merah di pasar-pasar DKI Jakarta naik menjadi rata-rata Rp108.043 per kilogram (kg). Bahkan, di beberapa pasar harga cabai tembus Rp120 ribu per kg. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juni 2022 terjadi inflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan (month to month). Bila dilihat menurut komponen, harga cabai hingga bawang merah turut memainkan peran pada capaian tersebut.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, penyumbang terbesar angka inflasi pada bulan lalu berasal dari harga bergejolak, dimana secara mont to month memberikan andil sebesar 0,44 persen.

"Sedangkan komoditas utamanya yang memberikan andil besar kepada harga komponen bergejolak adalah cabai merah, cabai rawit dan bawang merah," ujar Margo, Jumat (1/7/2022).

Selain komponen harga bergejolak, Margo melanjutkan, komponen inti juga memberikan andil pada inflasi Juni 2022 sebesar 0,12 persen.

"Kalau dilihat komoditas penyumbangnya berasal dari upah asisten rumah tangga, sabun deterjen berupa bubuk atau cair, dan kontrak rumah," terang dia.

Sementara komponen ketiga yang menyebabkan inflasi di Juni adalah harga yang diatur pemerintah, memberikan andil 0,05 persen. Hal ini disebabkan karena kenaikan tarif angkutan udara, dan rokok kretek filter.

Bila dihitung secara tahunan (year on year/YoY), inflasi Juni 2022 melesat hingga sebesar 4,35 persen. Lagi-lagi, komponen harga bergejolak jadi penyumbang terbesar pada kenaikan tersebut.

"Ini berasal dari minyak goreng, cabai merah, bawang merah dan cabai rawit. Namun demikian, belum banyak komoditas impor yang bertransmisi ke konsumen. Jadi pergerakan harga impor tadi belum terlihat secara signifikan ke harga komponen bergejolak," tutur Margo.

 

 

 

 

 

 


Inflasi Juni 2022 Capai 4,35 Persen, Tertinggi sejak 5 Tahun Terakhir

Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok di Awal Ramadhan
Perbesar
Pedagang menunggu pembeli di Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (6/4/2022). Di awal bulan puasa Ramadhan, harga sejumlah bahan pokok merangkak naik. Kenaikan harga kebutuhan pokok mulai terasa sejak dua pekan terakhir untuk komoditi seperti cabai, telur, gula, hingga daging. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, angka inflasi secara tahunan atau year on year (YoY) pada Juni 2022 sebesar 4,35 persen. Capaian itu jadi yang tertinggi sejak 5 tahun terakhir.

Kepala BPS Margo Yuwono memaparkan, dengan melihat kondisi perkembangan global dan cuaca yang terjadi, maka inflasi Juni 2022 secara month to month sebesar 0,61 persen. Atau, terjadi peningkatan indeks harga konsumen (IHK) dari 110,42 di Mei 2022 menjadi 111,09.

 "Sedangkan tingkat inflasi pada tahun kalender menjadi 3,19 persen, dan inflasi tahun ke tahun pada bulan Juni mencapai 4,35 persen," kata Margo, Jumat (1/7/2022).

Kalau dilihat dari penyumbang inflasinya, ia melanjutkan, di Juni ini berasal dari komoditas cabai merah, cabai rawit bawang merah dan telur ayam ras.

"Inflasi kita secara year on year sebesar 4,35 persen, ini inflasi tertinggi sejak Juni 2017. Dimana pada saat itu inflasi kita sebesar 4,37 persen," sambung Margo.

 


85 Kota Inflasi

FOTO: Inflasi Indonesia Diklaim Terendah di Dunia
Perbesar
Aktivitas perdagangan di Pasar Senin, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengklaim inflasi Indonesia menjadi yang paling rendah dibandingkan negara lain. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bila diukur secara nasional pada 90 kota, sebanyak 85 kota mengalami inflasi dan 5 kota lainnya mengalami deflasi.

Margo mengungkapkan, penyebab lonjakan inflasi ini sesuai dengan data BMKG, dimana hujan masih turun sepanjang Juni kemarin. Terutama di wilayah sentra produksi hortilkultura.

"Turunnya dengan curah hujan yang di atas normal, sifatnya lebat. Tentu saja itu akan mengganggu beberapa sentra produksi, khususnya untuk produk hortikultura," ungkap dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya