Jurus Industri Penerbangan Bangkit dari Dampak Covid-19, Salah Satunya Minta Tarif Naik

Oleh Arief Rahman Hakim pada 30 Jun 2022, 20:02 WIB
Diperbarui 30 Jun 2022, 20:02 WIB
Masa Kenormalan Baru, Slot Penerbangan Belum Dimanfaatkan Secara Optimal
Perbesar
Sejumlah pesawat maskapai penerbangan terparkir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Indonesia National Air Carriers Association (INACA) melakukan sederet upaya guna membangkitkan sektor penerbangan dalam negeri. Mulai dari kampanye terbang sehat, hingga adanya penyesuaian tarif. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Indonesia National Air Carriers Association (INACA) melakukan sederet upaya guna membangkitkan sektor penerbangan dalam negeri. Mulai dari kampanye terbang sehat, hingga adanya penyesuaian tarif.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengungkapkan sektor penerbangan tanah air kini mulai kembali bangkit. Ia pun mengisahkan sejumlah upaya yang dilakukan.

“Sejak awal-awal pandemi, sekitar Agustus 2020 lalu kami secara gencar melalukan kampanye untuk membangkitkan sektor penerbangan melalui Safe Travel Campaign ke sejumlah kota seperti Bali, Yogyakarta, Medan, dan Padang bersama para maskapai anggota INACA yaitu, Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia dan Lion Group,” kata Denon dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/6/2022).

Ia menambahkan kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari stakeholder terkait. Diantaranya Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Pengelola Bandara yaitu PT. Angkasa Pura I dan II, AirNav selaku pengelola navigasi udara.

Serta keterlibatan industri perhotelan yaitu Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Dimana kampanye memiliki tujuan meningkatkan rasa percaya diri masyarakat untuk kembali terbang.

“Penerapan protokol kesehatan secara ketat oleh maskapai penerbangan dan pengelola bandara, menjadi faktor pendorong masyarakat untuk kembali bepergian. Itu yang kami kampanyekan sejak awal Covid-19,” katanya.

Tidak hanya itu, Denon juga melakukan pendekatan dan diskusi solutif kepada Pemerintah Daerah (Pemda), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot). Tujuannya agar tidak melakukan penutupan akses penerbangan bagi maskapai yang ingin melayani jasa penerbangan. Menurutnya, hal ini demi kepentingan bersama sehingga aksesibilitas tetap terbuka bagi masyarakat.

“Awal Pandemi ada beberapa daerah yang menutup akses udara, sehingga anggota INACA tidak bisa memberikan layanannya. Untuk ini kami melakukan pendekatan kepada para kepala daerah dan alhamdulillah mereka mengizinkan anggota kami untuk menerbangi daerah itu yang tentunya dengan melaksanakan protokol kesehatan yang sangat ketat,” katanya.

 


Penyesuaian Tarif

Libur Nataru, Aturan Terbaru Perjalanan Wajib Vaksin 2 Dosis
Perbesar
Penumpang melintas di aera cek in pesawat terbang di terminal 3, Bandara Soetta, Tangerang, Banten, Rabu (15/12/2021). Pemerintah mewajibkan pelaku perjalanan jauh harus sudah mendapatkan vaksin Covid-19 2 dosis atau dosis lengkap. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selanjutnya, Denon mengatakan langkah penting lainnya yang juga telah dilakukan oleh pihaknya adalah melakukan pendekatan yang sangat intensif dan pro aktif kepada regulator. Yakni Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan.

Dalam diskusinya ini bertujuan untuk melakukan penyesuaian tarif yaitu melalui biaya tuslah bahan bakar (fuel surcharge).

“Saat kenaikan harga avtur dunia, kami dari INACA langsung melakukan pendekatan dengan regulator dan usulan kami disetujui. Dimana perusahaan makapai bisa menerapkan biaya tuslah bahan bakar (fuel surcharge) hingga 10 persen di atas tarif batas atas (TBA),” katanya.

Terobosan

Denon memastikan kedepannya pihaknya akan terus berupaya melakukan trobosan, dan juga pendekatan yang intensif kepada berbagai pihak.

Ini masih berkaitan dengan upaya memperjuangkan nasib maskapai di Tanah Air agar bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Salah satunya adalah pada Kamis (30/6) ini INACA akan melakukan pertemukan dengan sejumlah pihak dan lessor maskapai untuk membicarakan Recovery Plan Industri Penerbangan di Indonesia,” tutupnya.

 


Gandeng Boeing

Garuda Indonesia Tutup 97 Rute Penerbangan
Perbesar
Pesawat Garuda berada di landasan pacu Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Banten. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indonesia National Air Carrier Association (INACA) dan Boeing Company akan terus bekerja sama untuk membangkitkan industri penerbangan di Tanah Air.

Sebab, Pandemi Covid-19 masih menghantui pertumbuhan ekonomi Indonesia dan hal ini cukup berdampak pada sektor penerbangan, sehingga dibutuhkan dukungan semua pihak agar bisa bertahan dan keluar dimasa sulit ini.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto saat membuka Fleet Planning Workshop Certificate Luncheon di Jakarta, Rabu (12/1/2022).

Sekjen INACA menjelaska, Pandemi Covid--19 yang telah berlangsung selama kurang lebih 2 tahun telah berdampak sangat besar pada sektor transportasi udara di Indonesia.

Akibat adanya pembatasan mobilisasi masyarakat untuk menghambat penyebaran virus Corona berimbas pada menurunnya jumlah penumpang pesawat, dan akhirnya berdampak pada revenue pendapatan maskapai penerbangan.

"Karena itu, kami bersama Boeing Company telah menyelenggarakan Fleet Planning Workshop yang diikutin oleh 58 peserta dari perwakilan perusahan penerbangan dan berjalan lancar dan sukses. Kami akan terus bekerja sama membuat kegiatan bersama sehingga dapat membangkitkan industri penerbangan," kata Bayu.

Oleh karena itu, INACA telah menandatangani MoU bersama dengan pihak Boeing untuk lima acara lainnya pada tahun 2022 yang mencakup beberapa aspek dari Keselamatan hingga Operasi dan acara terdekat adalah Simposium Keselamatan yang direncanakan pada 22 -- 23 Maret mendatang.

"INACA tetap optimis jika Covid-19 akan segera berakhir dan industri penerbangan akan kembali bangkit. Dengan dukungan dari Boeing Company kita akan bersama-sama membangkitkan penerbangan di Tanah Air. Di mana dalam Whitepaper INACA bekerjasama dengan Universitas Pajajaran, menyebutkan bahwa penerbangan domestik Indonesia akan mulai rebound pada tahun 2022 dan optimal seperti sebelum pandemi pada tahun 2024. Sedangkan penerbangan internasional diprediksi mulai rebound tahun 2023 dan optimal tahun 2026," ungkap Bayu.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya