Vaksinasi Kurang Masif, Ternak Terkena Wabah PMK Harus Dimusnahkan?

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 30 Jun 2022, 18:45 WIB
Diperbarui 30 Jun 2022, 18:45 WIB
FOTO: Penjualan Hewan Kurban di Tengah Wabah Virus PMK
Perbesar
Sejumlah hewan kurban yang dijual sedang memakan rumput di Cipulir, Jakarta, Selasa (28/6/2022). Menjelang Hari Raya Idul Adha, penjualan hewan kurban seperti sapi, kerbau, dan kambing kembali bergeliat meski sedang mewabah virus penyakit mulut dan kuku (PMK). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa menilai, program vaksinasi PMK (penyakit mulut dan kuku) untuk hewan ternak yang saat ini dilakukan pemerintah belum masif. Menurut data terakhir per 30 Juni 2022 ini, vaksin penyakit mulut dan kuku yang sudah disebarkan baru sebanyak 172.192 dosis.

Andreas menganggap jumlah tersebut masih jauh dari mencukupi jika dibanding dengan area penyebaran virus, dimana menurut data sudah bertambah menjadi 223 kabupaten dan kota.

"Mengatasinya sudah sangat sulit. Dalam arti bagaimana mengatasi dengan hanya sekadar vaksinasi, enggak bisa. Untuk itu, kalau mau totally mengatasi, ya stamping out. Artinya hewan yang terkena penyakit ini dimusnahkan," ujar dia kepada Liputan6.com, Kamis (30/6/2022).

Kendati begitu, Andreas masih berharap program vaksinasi PMK bisa lebih digiatkan. Pasalnya, proses pemusnahan massal hewan ternak yang sudah terjangkit virus cenderung mustahil dilakukan.

"Kalau di negara-negara lain untuk mengatasi PMK kan mereka melakukan stamping out, jadi dimusnahkan hewan yang terkena. Di Indonesia tidak memungkinkan. Walaupun beberapa anggota DPR usul juga terkait dengan stamping out, tapi itu sulit, karena biayanya akan sangat tinggi," bebernya.

Merujuk pada data penyebaran PMK di lebih dari 200 kabupaten dan kota, Andreas merasa stamping out memang tidak akan efektif lagi dilakukan.

"Lalu yang bisa dilakukan, vaksinasi sudah barang tentu. Tapi vaksinasi kita sementara kan masih terkendala dengan vaksinnya. Jadi ini yang perlu segera diatasi pemerintah agar ternak-ternak bisa divaksinasi," tuturnya.

"Sekarang ini yang paling efektif memang vaksinasi, enggak bisa yang lain," tegas Andreas.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Perkembangan Terbaru Wabah PMK: Menyerang 297 Ribu Ekor Ternak, Vaksinasi Berjalan 168.347 Dosis

FOTO: Penjualan Hewan Kurban di Tengah Wabah Virus PMK
Perbesar
Pedagang memberi makan hewan kurban yang dijual di Cipulir, Jakarta, Selasa (28/6/2022). Menjelang Hari Raya Idul Adha, penjualan hewan kurban seperti sapi, kerbau, dan kambing kembali bergeliat meski sedang mewabah virus penyakit mulut dan kuku (PMK). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, penyebaran virus PMK (penyakit mulut dan kuku) hingga Kamis, 30 Juni 2022 telah menyerang 297.029 ekor hewan ternak.

Virus PMK sendiri telah menyebar di 19 provinsi dan 222 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, dengan jumlah kematian hewan ternak sebanyak 1.768 ekor.

Memitigasi hal tersebut, Kementan terus gencar menyebarkan vaksin PMK untuk para peternak agar hewan peliharaannya aman dikonsumsi, terlebih jelang Hari Raya Idul Adha 2022.

Melansir update data siagapmk.id, Kamis (30/6/2022), penyebaran vaksinasi PMK sudah menyentuh 168.347 ekor.

Hasilnya, 97.608 ekor berhasil sembuh. Sementara 2.600 ekor hewan ternak harus dilakukan pemotongan bersyarat, dan masih tersisa 195.053 kasus/ekor lainnya yang belum sembuh.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Nasrullah mengatakan, pihaknya menggunakan strategi vaksinasi cincin (ring vaccination), yang artinya menentukan area vaksinasi pada radius 1 km, 3 km dan 10 km di luar titik wabah.

"Strategi ini diambil dengan tujuan melindungi hewan rentan dengan nilai ekonomi tinggi dan masa hidup produksi lebih lama seperti ternak bibit dan perah. Serta untuk membatasi penyebaran dari hewan-hewan yang sering dilalulintaskan," terang Nasrullah.

Itu dilakukan guna mencegah pemberian vaksin kepada hewan ternak yang sudah terinfeksi, namun masih dalam masa inkubasi.

 


Wilayah Penyebaran

FOTO: Vaksinasi PMK untuk Hewan Ternak di Bogor
Perbesar
Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Bogor bersiap melakukan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) kepada sapi di salah satu peternakan warga di Mulya Sari, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/6/2022). Provinsi Jawa Barat mendapatkan jatah 120 ribu dosis vaksin untuk mencegah penularan PMK dari Kementerian Pertanian. (merdeka.com/Arie Basuki)

Adapun penyebaran vaksin PMK terbesar berada di Jawa Timur, sebanyak 85.082 ekor. Provinsi tersebut jadi prioritas lantaran penyebaran virus telah menyerang 115.478 ekor hewan ternak.

Jawa Barat jadi wilayah penyebaran terbanyak kedua, dengan 32.042 dosis vaksin. Diikuti Jawa Tengah dengan 16.074 dosis vaksin PMK.

Proses vaksinasi perdana sendiri mulai dilaksanakan pada 14 Juni 2022 di Jawa Timur. Vaksinasi berikutnya mulai dilakukan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah selang sehari setelahnya. Kemudian Kabupaten Sumedang di Jawa Barat pada 20 Juni 2022.

Sejauh ini, sapi masih jadi hewan ternak yang paling banyak terserang PMK, dengan jumlah sakit mencapai 289.768 ekor. Angka kematiannya mencapai 1.742 ekor, kesembuhan 95.048 ekor, dan sisa kasus sebanyak 190.397 ekor.

Hewan berikutnya yang banyak terserang yakni kambing dengan kasus sakit sebanyak 1.268 ekor, dan angka kematian 6 ekor. Lalu kerbau dengan kasus sakit 5.009 ekor, mati 14 ekor.

Selanjutnya, domba dengan jumlah kasus sakit 968 ekor dan mati 6 ekor, serta babi dengan kasus sakit 16 ekor dan tanpa adanya kematian.

 

Infografis Imbauan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Imbauan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya