BRIN Kembangkan Smart Agriculture dengan Pemanfaatan Data

Oleh Arie Nugraha pada 29 Jun 2022, 12:50 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 12:50 WIB
Memanfaatkan Lahan Pertanian dengan Berinovasi di Masa Pandemi
Perbesar
Petani menyiapkan lahan persawahan sebelum ditanami bibit padi di Tangerang Selatan, Jumat (15/10/2020). Lahan pertanian yang terbatas bisa dimanfaatkan dengan menanam tanaman pangan yang berusia pendek dan memiliki nilai ekonomis. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Bandung - Peran sains data dan informasi di era industri 4.0 sangat dirasakan di bidang pertanian modern. Hal ini sebagai salah satu upaya mewujudkan metode pertanian cerdas melalui pemanfaatan teknologi.

Saat ini di Indonesia sebagian besar masih menggunakan teknologi tradisional yang mengandalkan kondisi kesuburan tanah. Padahal, dengan potensi tersebut Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi penghasil pangan terbesar di dunia jika dapat memanfaatkan teknologi maju.

"Data sains di bidang pertanian akan sangat berperan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan, air dan penyubur, sementara dari sisi populasi penduduk semakin meningkat," ujar Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Prawara dalam keterangan tertulis, Rabu (29/6/2022).

Budi mengatakan, Pusat Sains Data dan Informasi, berkontribusi dalam perkembangan smart agriculture yang berfokus pada berbagai riset dalam menghadirkan berbagai aplikasi yang dapat mendukungnya.

Menurut Budi, dengan memanfaatkan teknologi maju yang dapat mendukung produktivitas, efisiensi dan efektivitasnya. "Hal ini karena semua aktivitas manusia akan tergantung pada ketersediaan data dan informasi yang berkualitas," kata Budi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Model Deep Learning

Kementan Targetkan 8,2 Juta Hektare Sawah untuk 20 Juta Ton Beras
Perbesar
Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang, Kamis (3/12/2020). Kementerian Pertanian menargetkan pada musim tanam pertama 2020-2021 penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare menghasilkan 20 juta ton beras. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hal yang sama diungkap Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa. Menurutnya, produk pertanian saat ini masih dikerjakan secara manual, padahal ini menjadi sangat penting dari sisi atau penyedia pangan dan merupakan kebutuhan pokok.

"Dari berbagai permasalahan selama ini hanya dapat ditangani secara manual oleh orang-orang berpengalaman, sehingga kemampuan untuk menangani hal tersebut terbatas," ucap Esa.

Dengan adanya aplikasi maka pengamatan, analisis, dan identifikasi pertumbuhan tanaman pertanian sebut Eka, dapat dilakukan secara cepat dan akurat.

Itu dapat dilakukan karena aplikasi menggunakan model deep learning yang telah dilatih dengan data-data real hasil pengumpulan secara langsung

"BRIN menggelar webinar yang bertajuk Talk To Scientist dengan narasumber yang merupakan kolaborasi dari Pusat Riset Sains Data dan Informasi yang telah melakukan riset bersama pada beberapa tahun sebelumnya," sebut Eka.

 


Harapan

Harapannya dengan kehadiran bersama antara periset dan kolaborator dalam satu forum, dapat menguatkan bahwa kegiatan riset yang telah dilakukan.

Pertemuan ini dianggap Eka bermanfaat pada kondisi riil dan menjadi peluang untuk dapat dikomersialisasikan pada pihak ketiga seperti industri. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya