RI Kaya Sumber Energi Baru Terbarukan, Tapi Pemanfaatan Cuma 0,3 Persen

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 26 Jun 2022, 17:30 WIB
Diperbarui 26 Jun 2022, 17:30 WIB
FOTO: Target Industri Panel Surya Dalam Negeri
Perbesar
Pekerja memeriksa intalasi panel surya di Gedung Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (27/9/2021). Kementerian Perindustrian mencatat importasi komponen PLTS sejak 2018 hingga 2020 mengalami penurunan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia sebagai paru-paru dunia turut menyimpan potensi sumber daya energi baru terbarukan (EBT) dalam jumlah besar. Namun sayang, pemanfaatannya masih sangat minim.

Kepala Sub Direktorat Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Martha Relitha Sibarani mencatat, Indonesia setidaknya punya 5 sumber energi baru dan 6 sumber energi terbarukan.

Akan tetapi, potensi energi baru terbarukan kategori terduga sejauh ini masih diperhitungkan. "Jadi bisa dikatakan, masih 0,3 persen potensi yang dikembangkan, amat sangat kecil," ujar Martha dalam sesi webinar, Minggu (26/6/2022).

Martha lantas coba buka catatan soal pemanfaatan potensi energi terbarukan di Tanah Air, yang bersumber dari panas bumi, air, bioenergi, surya, angin (bayu), serta arus dan gelombang laut.

Berdasarkan data per Desember 2021, Indonesia tercatat menyimpan 3.686 Giga Watt (GW) potensi energi terbarukan, atau sekitar 3.686.000 Mega Watt (MW). Namun, pemanfaatannya baru sekitar 11.585 MW.

Sebagai contoh, Indonesia sebagai negeri Khatulistiwa menyimpan potensi 3.295 GW energi surya yang berasal langsung dari panas matahari. Sayangnya, itu masih termanfaatkan sangat minim, 217 MW.

"Kalau kita bilang energi surya, ada di semua tempat. Tapi yang membedakan kualitasnya, ada yang cukup trick, ada yang masih bagus untuk dikembangkan," imbuh Martha.

Selain cahaya matahari, Nusantara juga dilimpahi sumber energi bayu atau angin yang besar. Adapun potensinya untuk jadi sumber energi sebesar 155 GW, namun baru termanfaatkan 154 MW saja.

"Potensi angin (>6 m/s) terutama terdapat di NTT, Kalsel, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Papua," beber Martha.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Diguyur PMN Rp 10 T, PLN Bakal Bangun Transmisi dan Pembangkit EBT di Pelosok

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo
Perbesar
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Rabu, 15 Juni 2022, yang dipimpin oleh M. Sarmudji, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. (Dok. PLN)

Sebelumnya, PT PLN (Persero) mendapat dukungan dari Komisi VI DPR RI untuk mendapatkan suntikan dana dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 10 triliun pada tahun 2023.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendorong rasio elektrifikasi nasional mencapai 100 persen dan juga untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengapresiasi dukungan Komisi VI DPR RI atas PMN ini. Ia mengatakan upaya untuk bisa membuat akses listrik yang merata bagi seluruh masyarakat perlu terus dilakukan.

"PMN ini akan direalisaskan untuk mewujudkan keadilan di sektor energi bagi seluruh rakyat, dengan menyediakan kelistrikan di daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan)," ujar Darmawan saat Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Rabu, 15 Juni 2022, yang dipimpin oleh M. Sarmudji, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

 


Rincian

Ia merinci, pengajuan PMN Rp 10 triliun ini akan dialokasikan sebanyak Rp 2 triliun untuk mengoptimalkan pasokan listrik di Jawa Madura Bali dengan pembangunan infrastruktur.

Sebanyak Rp 4,5 triliun akan dialokasikan PLN untuk membangun transmisi yang menghubungkan PLTA ke daerah terpencil di wilayah Kalimantan.

PLN juga menganggarkan Rp 3,5 triliun untuk membangun pembangkit energi baru terbarukan (EBT) berbasis PLTM, PLTA dan PLTMG dan transmisi yang menghubungkan kelistrikan di wilayah terpencil.

Darmawan menjelaskan saat ini, infrastruktur ketenagalistrikan yang digunakan untuk melayani daerah-daerah 3T membutuhkan biaya investasi per pelanggan yang sangat tinggi.

Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 25-45 juta per pelanggan. Darmawan menilai ini membuat pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi tidak feasible.

 

Banner Infografis Selamat Datang Era Mobil Listrik di Indonesia
Perbesar
Banner Infografis Selamat Datang Era Mobil Listrik di Indonesia. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya