BI Klaim Pelemahan Rupiah Tak Seburuk Ringgit Malaysia

Oleh Liputan6.com pada 23 Jun 2022, 16:20 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 16:21 WIB
FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Tumpukan mata uang Rupiah, Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. Bank Indonesia (BI) mengklaim, pelemahan nilai tukar Rupiah atau depresiasi masih lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Malaysia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) mengklaim, pelemahan nilai tukar Rupiah atau Depresiasi masih lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lainnya di tengah tekanan geopolitik dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Tercatat, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14 secara year to date (ytd).

Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, capaian tersebut lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang kawasan Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Seperti India 5,17 persen, Malaysia 5,44 persen, dan Thailand 5,84 persen.

"Depresiasi Rupiah masih lebih baik ketimbang mata uang sejumlah negara berkembang lainnya," ujarnya dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI - Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Perry menjelaskan, depresiasi Rupiah tersebut sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pasokan valas domestik tetap terjaga dan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap positif.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi kurs Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

"Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," tutupnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Rupiah Diprediksi Melempem Jelang Rilis Suku Bunga Acuan BI

FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Kamis 23 Juni 2022 diproyeksikan melemah menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Kurs rupiah pagi ini masih bergerak menguat 25 poin atau 0,16 persen ke posisi 14.838 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.863 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah mungkin masih dalam tekanan terhadap dolar AS hari ini menjelang pengumuman keputusan moneter BI," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra dikutip dari Antara, Kamis (23/6/2022).

Menurut Ariston, banyak analis memperkirakan BI akan bertahan di suku bunga acuan yang lama karena melihat kondisi inflasi Indonesia yang terkendali dan Indonesia sedang dalam kondisi pemulihan ekonomi.

"Namun demikian, banyak juga yang khawatir bila perbedaan suku bunga acuan BI dan The Fed yang tidak jauh akan memicu pelemahan nilai tukar rupiah lebih dalam lagi terhadap dolar AS," ujar Ariston.

Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya di depan Senat AS berkomitmen akan menurunkan inflasi AS yang sangat tinggi dengan melakukan pengetatan moneter yang agresif.


Resesi

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, lanjut Ariston, isu resesi yang mengemuka juga bisa menekan nilai tukar rupiah.

"Dengan semakin banyaknya bank sentral dunia yang menaikkan suku bunga acuan, dikhawatirkan akan melambatkan pertumbuhan ekonomi karena penurunan permintaan," kata Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak melemah ke arah Rp14.880 hingga Rp14.900 per dolar AS dengan support di level Rp14.820 hingga Rp14.800 per dolar AS.

Pada Rabu (22/6) lalu, rupiah ditutup melemah 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.863 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.813 per dolar AS. 

Infografis Nilai Tukar Rupiah
Perbesar
Infografis Nilai Tukar Rupiah (Liputan6.com/Trie Yas)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya