Harga Emas Turun usai Imbal Hasil Obligasi AS Naik

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 22 Jun 2022, 07:35 WIB
Diperbarui 22 Jun 2022, 07:35 WIB
Harga Emas Terus Bersinar di Tahun 2020, Penjualan Emas Antam Capai Rp 6,41 T
Perbesar
Untuk memperkuat nilai tambah produk emas, Antam terus melakukan inovasi produk dan penjualan.

Liputan6.com, Jakarta Harga emas bergerak sedikit melemah pada hari Selasa karena kenaikan imbal hasil Treasury AS dan taruhan kenaikan suku bunga yang agresif meredupkan daya tarik emas meskipun ada kemunduran dalam dolar.

Dikutip dari CNBC, Rabu (22/6/2022), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 1,834,19 per ounce pada 13:56. ET (1756 GMT). Emas berjangka AS turun 0,1 persen pada USD 1,838,8.

“Hasil treasury sedikit lebih tinggi dan ada sedikit pemantulan kembali di ekuitas AS, keduanya memberi tekanan pada emas. Namun, dolar turun dan menawarkan beberapa dukungan," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Daya tarik bullion melemah, benchmark Treasury AS 10-tahun naik.

Indeks dolar AS turun 0,3 persen, membuat emas batangan yang dihargakan dengan greenback lebih menarik bagi pembeli luar negeri.

Awal bulan ini, Federal Reserve AS mengumumkan kenaikan suku bunga terbesarnya sejak 1994. Setelah itu, bank sentral utama lainnya juga condong ke arah pengetatan kebijakan moneter yang agresif untuk menjinakkan inflasi yang melonjak.

 


Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Emas Antam Kembali Turun
Perbesar
Petugas menunjukkan sampel logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis, (23/7/2020). Usai cetak rekor ke posisi termahalnya di Rp 982 ribu, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Emas Antam) kembali turun Rp 5.000 menjadi Rp 977 ribu per gram pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Thomas Barkin dari The Fed mengatakan kenaikan suku bunga 50 atau 75 basis poin pada pertemuan kebijakan bank sentral AS berikutnya pada bulan Juli adalah kasus dasar yang baik.

"Emas sekarang terjebak di antara ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih tajam, tetapi juga inflasi tetap tinggi jika kebijakan moneter gagal melunakkan aktivitas ekonomi dan menurunkan inflasi," kata analis Standard Chartered dalam sebuah catatan.

Inflasi dan ketidakpastian ekonomi biasanya memacu pembelian safe-haven emas, tetapi kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang emas batangan yang tidak menghasilkan.

Ketua Fed Jerome Powell akan bersaksi di Washington D.C. akhir pekan ini.

"The Fed dalam pertemuan terakhir berada pada hawkishness maksimumnya" dan itu akan melambat ke depan, kata Streible dari Blue Line.


Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Tembus USD 1.900 per Ounce?

Pasar Saham Global Bergejolak, Harga Emas Ikut Turun
Perbesar
Aksi jual terjadi dan kekhawatiran terhadap situasi ekonomi China membuat harga emas turun 0,5 persen menjadi US$ 1.153,60 per ounce.

Harga emas diprediksi akan berada di level USD 1.800-USD 1.900 per ounce. Hal ini salah satunya ditopang oleh lonjakan inflasi yang akan menjad pendorong utama untuk kenaikan harga emas.

Selain inflasi, meningkatnya risiko resesi ekonomi juga dapat mendorong pembelian emas jika investor terus takut kehilangan aset lainnya.

"Emas telah melakukan 'pekerjaan yang spektakuler'. Tapi itu tidak berarti logam mulia tidak terkoreksi di sini dan kembali ke USD 1.800. "Itu tidak akan menjadi kekalahan tetapi koreksi sederhana," kata kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek, dikutip dari KItco, Senin (20/6/2022).

Pemikiran di balik proyeksi Melek adalah sikap Bank Senral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang gigih dan tidak akan menyerah pada kenaikan suku bunga agresif sebagai tanda pertama masalah ekonomi.

 "Kecurigaan saya adalah bahwa The Fed tidak akan berubah pikiran dalam waktu dekat," katanya. 

"Sangat mungkin akan ada banyak kenaikan yang lebih agresif dalam menghadapi kekuatan inflasi yang kuat, yang kemungkinan akan membawa harga emas kembali ke posisi terendah pada Mei lalu," tutur dia,

Ini berarti harga emas akan kembali ke kisaran USD 1.824-USD 1.808 dalam waktu dekat. 

"Masih berpikir kita bisa turun di bawah USD 1.800 pada akhir tahun. Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa Fed akan terkelupas pada tanda pertama masalah. Bisa jadi dalam situasi di mana pertumbuhan mulai melambat, tetapi kita tidak akan melihatnya. Pergerakan inflasi  yang signifikan akan terjadi hingga September atau Oktober," jelas dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya