Ketika Perusahaan Eropa Diambang Ketidakpastian karena Covid-19 di China

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 21 Jun 2022, 15:05 WIB
Diperbarui 22 Jun 2022, 23:26 WIB
Kota Terlarang di Beijing Kembali Dikunjungi Wisatawan
Perbesar
Seorang perempuan mengendarai sepedanya dengan seorang anak duduk di kursi belakang melewati Kota Terlarang di Beijing, China, Selasa (7/6/2022). Pemerintah melonggarkan beberapa pembatasan Covid-19 dengan sebagian besar museum gedung bioskop, dan pusat kebugaran diizinkan beroperasi hingga 75 persen dari kapasitas. (WANG Zhao / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak perusahaan asal Eropa yang memikirkan kembali investasi mereka di China, ketika pembatasan terkait Covid-19 yang ketat memicu gangguan hingga berdampak pada operasi.

Sementara sebagian besar negara telah dengan mantap mencabut pembatasan Covid-19, China tetap berkomitmen pada strategi nol-Covid-nya, memberlakukan lockdown dan pengujian massal untuk menekan semua infeksi.

Tetapi strategi ini telah memukul bisnis dan menghambat rantai pasokan.

Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (21/6/2022) 60 persen responden dalam survei yang dilakukan Kamar Dagang Uni Eropa terkait bisnis mengatakan semakin sulit untuk melakukan aktivitas tersebut di China, yang sebagian besar karena pembatasan Covid-19.

"Kami berharap China benar-benar sadar," kata wakil presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China Bettina Schoen-Behanzin, kepada kantor berita asal Prancis, AFP.

"(Kami berharap) mereka menemukan cara untuk keluar dari strategi Covid-19 tanpa toleransi ini karena menyebabkan ketidakpastian yang sangat besar dan ini pasti tidak baik untuk investasi," ujar dia.

Kamar Dagang Uni Eropa melakukan survei terhadap lebih dari 600 perusahaan anggotanya pada bulan Februari dan Maret 2022, tepat ketika lockdown ketat diberlakukan di beberapa daerah untuk menekan wabah Covid-19 terburuk di China dalam dua tahun  - dari pusat bisnis Shanghai hingga provinsi penghasil roti di utara Jilin.

Selain lockdown Covid-19 di China, badan itu juga melakukan tindak lanjut pada April 2022 untuk melihat dampak perang Rusia-Ukraina.

Dari survei itu, ditemukan bahwa 92 persen perusahaan anggota Kamar Dagang Uni Eropa terkena masalah rantai pasokan, dan tiga perempat mengatakan operasi mereka terkena dampak negatif dari Covid-19.

Selain itu, 60 persen responden mengatakan pada bulan April bahwa mereka telah menurunkan proyeksi pendapatan untuk tahun 2022.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Covid-19 Sulitkan Perusahaan Eropa Rekrut Staf dari Luar Negeri

Jerman Catat Rekor 80.000 Kasus COVID-19 Baru Sehari
Perbesar
Orang-orang menunggu untuk melakukan tes covid-19 di pusat kota Essen, Jerman, Rabu (12/1/2022). Jerman melaporkan lebih dari 80.000 kasus virus corona dalam sehari yang merupakan tertinggi sejak pandemi pada Rabu. (AP Photo/Martin Meissner)

Perang Ukraina juga mempengaruhi optimisme bisnis dan perusahaan Eropa - sepertiga dari perusahaan yang disurvei mengutip ketegangan geopolitik sebagai alasan pasar China menjadi kurang menarik.

"Peran yang dimainkan China selama dua tahun terakhir dalam memperkuat pendapatan global perusahaan-perusahaan Eropa tampaknya akan berkurang," demikian tertulis dalam laporan yang dirilis Kamar Dagang Uni Eropa pada Senin (20/6).

"Dan peristiwa baru-baru ini telah membuat banyak orang mempertanyakan berapa banyak telur yang ingin mereka simpan di keranjang mereka dari China," lanjut laporan itu.

Langkah-langkah penahanan Covid-19 juga menghambat kemampuan perusahaan Eropa untuk merekrut karyawan internasional dan lokal.

Kamar Dagang Uni Eropa menemukan bahwa 58 persen perusahaan dalam surveinya menghadapi kesulitan dalam merekrut staf internasional dan lokal, menunjuk pada pengendalian Covid-19 dan "banyak prosedur visa hingga izin kerja yang terus berubah dan batasan ekstrem pada perjalanan masuk dan keluar dari China" .


Pembatasan Covid-19 Tak Kunjung Henti, Perusahaan Eropa Bisa Tinggalkan China?

FOTO: Jutaan Warga Beijing Jalani Tes COVID-19 Massal
Perbesar
Seorang pekerja yang mengenakan pakaian pelindung dan membawa megafon memegang selembar dengan kode QR untuk orang-orang yang mengantre untuk tes virus corona COVID-19 di tempat pengujian pada hari ketiga pengujian massal untuk jutaan penduduk di Distrik Chaoyang, Beijing, China, 15 Juni 2022. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

China adalah negara ekonomi terbesar kedua di dunia dengan pasar yang besar, bagaimanapun, menyulitkan perusahaan multinasional meninggalkan negara itu.

"Perusahaan, bisnis tidak meninggalkan China, karena pasarnya terlalu besar, pasarnya terlalu penting, dan pasti ada banyak peluang pertumbuhan di depan," kata wakil presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China Bettina Schoen-Behanzin.

"Tetapi mereka melokalisasi, mereka berada di darat, dan mereka memikirkan kembali jejak mereka di China, di Asia," tambahnya.

"Mereka sedang bergeser, terutama investasi masa depan," ungkap Schoen-Behanzin.

Namun, jika pembatasan Covid-19 di China masih berlarut-larut dalam setahun ke depan, Schoen-Behanzin mengingatkan, perusahaan Eropa bisa mulai kehilangan kemampuan untuk menunggu.

"Dunia tidak menunggu China," ujar dia.

"Jika tidak ada perubahan, maka pasti perusahaan akan mulai memikirkan rencana lainnya dan mereka jelas akan pergi ke pasar lain," sebut Schoen-Behanzin.

Infografis Boleh Lepas Masker Kode Keras Pandemi ke Endemi Covid-19
Perbesar
Infografis Boleh Lepas Masker Kode Keras Pandemi ke Endemi Covid-19 (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya