Jokowi Hadiri Temu Raya Alumni Kartu Prakerja di Sentul

Oleh Tira Santia pada 17 Jun 2022, 16:45 WIB
Diperbarui 17 Jun 2022, 16:45 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja, yang dilaksanakan di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja, yang dilaksanakan di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku senang lantaran Program Kartu Prakerja yang telah berlangsung 2 tahun bisa berjalan dengan baik. Hal itu terlihat dari antusiasme masyarakat Indonesia saat mendaftar, tercatat ada 115 juta orang hingga gelombang ke-32.

“Saya sangat senang sekali terhadap program Kartu Prakerja, dan saya sangat apresiasi yang daftar sudah 115 juta (orang) yang terverifikasi 84 juta (orang) yang diterima 12,8 juta. Besar sekali, angka yang tidak kecil 12,8 juta orang,” kata Jokowi dalam dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja, yang dilaksanakan Hybrid, di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).

Jokowi menceritakan kepada alumni Kartu Prakerja, program tersebut pertama kali diimplementasikan saat awal pandemi. Kendati begitu, program kartu prakerja bisa berjalan dengan baik karena menggunakan platform digital.

“Saat itu saya ingat awal Maret, kita masuk yang namanya covid-19 pertama kali. Kemudian satu bulan setelah itu 11 April dimulai, saat suasana covid-19. Bagaimana menyiapkan sebuah program tapi suasananya PSBB. Apakah bisa cara-cara ini kita lakukan jika kita tidak menggunakan platform digital, enggak mungkin,” ujarnya.

Menurutnya melalui platform digital, penyaluran uang peserta Kartu Prakerja bisa langsung diterima melalui rekening masing-masing peserta. Sehingga mekanismenya terbilang mudah dan cepat.

“Saya senang tidak ada yang lewat uang itu ke Kementerian atau Provinsi, Kabupaten/kota, ini langsung dari Menteri Keuangan transfer langsung ke peserta. Platform seperti ini hanya bisa dihasilkan anak muda, orangtua seperti saya tidak mungkin bisa menghasilkan platform ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jokowi pun berbincang dengan beberapa alumni Kartu Prakerja, membahas terkait pengalaman dan manfaat yang diperoleh alumni selama mengikuti program tersebut.

“Jadi, tahu soal kartu prakerja dari mana? Mendaftarnya seperti apa, dan pelatihannya apa yang dipilih,” tanya Jokowi ke alumni kartu prakerja.

“Saya tahunya dari internet. Kebetulan melihat itu saya tergerak untuk mencoba. Saya mencoba dari gelombang 1 tapi lulusnya di gelombang 13,” jawab Dhea dari Flores, NTT.

Mendengar jawaban tersebut, Presiden Jokowi menegaskan, bahwa program kartu prakerja itu tidak sembarangan dalam menentukan pesertanya.

“Artinya betul-betul terseleksi, tidak sembarang bisa masuk. Nyatanya daftar gelombang 1 keterima gelombang 13,” pungkas Jokowi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dinilai Efektif, Program Kartu Prakerja Ditiru Negara Lain

Sebanyak 8.000 peserta program Kartu Prakerja berkumpul di Sentul International Convention Center (SCIC), Bogor Jawa Barat.
Perbesar
Sebanyak 8.000 peserta program Kartu Prakerja berkumpul di Sentul International Convention Center (SCIC), Bogor Jawa Barat.

Keberhasilan program Kartu Prakerja di Indonesia mencuri perhatian dunia, termasuk Pemerintah Belanda yang tertarik terhadap program tersebut. Bahkan program Kartu Prakerja dinilai bisa menjadi percontohan dan diterapkan di negara-negara berkembang lainnya.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja bersama Presiden RI Joko Widodo, yang dilaksanakan Hybrid, di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).

“Dalam pertemuan di Davos Menteri Labor dari Belanda dengan Perdana Menteri juga mengatakan kartu Prakerja mereka ingin melihat dan ini bisa direplikasi di negara-negara berkembang yang lain bapak presiden,” kata Menko Airlangga.

Program Kartu Prakerja adalah salah satu program Government to People (G2P) yang paling masif ada dibandingkan di negara lain.

Airlangga juga melaporkan kepada Presiden Joko Widodo, dalam pertemuan UNESCO di Marrakesh, Maroko, Program Kartu Prakerja dipilih sebagai program yang digunakan untuk menghadapi tantangan the future of work yang terkait dengan transformasi digital, green economy yang membutuhkan tenaga adult lifelong learning.

“Dari hampir seluruh negara yang memaparkan yang paling siap dan sudah operasional Insyaallah dari Indonesia melalui kartu prakerja,” ujarnya.

Selama dua tahun pelaksanaannya, Program Kartu Prakerja saat ini telah mencapai gelombang ke-32 dan memiliki lebih dari 12,8 juta penerima manfaat yang tersebar di 514 kabupaten/kota se-Indonesia, dan 95 persen telah menerima insentif.

Dari data yang tercatat, penerima Kartu Prakerja 56 persen tinggal di desa, 49 persen adalah perempuan dan sekitar 3 persen adalah penyandang disabilitas.


Ekosistem

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja bersama Presiden RI Joko Widodo, di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Temu Raya Alumni Program Kartu Prakerja bersama Presiden RI Joko Widodo, di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jumat (17/6/2022).

Menurut Menko Airlangga, keberhasilan Program Kartu Prakerja adalah menggabungkan supply dan demand, sehingga seluruhnya dibentuk dalam ekosistem yang terus bergerak secara dinamis menggunakan database dan AI.

“Juga berterima kasih kepada Mitra dari Bank BNI 46 Pak Presiden. Seluruhnya ini ekosistem yang bergabung dengan BNI 46. Kartu pra kerja didukung oleh 171 lembaga pelatihan, 6 platform digital, 6 mitra pembayaran, 3 portal kerja dan 8 perguruan tinggi sebagai penilai dan pemantau,” ujarnya.

Selain itu, pasar yang dibentuk dari pelatihan Prakerja selama 2 tahun pasarnya ini adalah pasar pelatihan yang nilainya sekitar Rp 6 triliun selama 1 tahun. Sebelum kartu prakerja muncul, pasar ini kosong tidak ada pasar yang menangani digital education.

Lanjutnya, dari yang mengikuti Krtu Prakerja 30 persen yang sebelumnya menganggur kini telah bekerja atau berwirausaha, dan 90 persen itu peningkatan kompetensi produktivitas dan meningkatkan daya saing.

Kemudian, 66 persen menggunakan sertifikasi Krtu Prakerja untuk mendapatkan pekerjaan, 27 persen dari penerima belum pernah punya rekening tetapi 27 persen memilih menggunakan e-wallet, sehingga ini menjadi bagian dari program inklusi keuangan.

“Dari bantuan dana yang diberikan Rp 600.000 untuk 4 bulan, 92 persen untuk membeli pangan dan 70 persen untuk modal usaha,” pungkasnya.

 

Infografis: Jangan Percaya Janji Manis Joki Prakerja (Liputan6.com / Triyasni)
Perbesar
Infografis: Jangan Percaya Janji Manis Joki Prakerja (Liputan6.com / Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya