Mendag Anggota WTO Berkumpul di Swiss, Bahas Fleksibilitas Kekayaan Intelektual Produk Medis

Oleh Tira Santia pada 17 Jun 2022, 11:45 WIB
Diperbarui 17 Jun 2022, 11:45 WIB
FOTO: Ekspor Impor Indonesia Merosot Akibat Pandemi COVID-19
Perbesar
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan impor barang dan jasa kontraksi -16,96 persen merosot dari kuartal II/2019 yang terkontraksi -6,84 persen yoy. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengikuti Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-12 Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) di Jenewa, Swiss pada pekan ini. Dalam konferensi tingkat menteri WTO ini dibahas mengenai tantangan yang bisa terjadi sebagai dampak dari pandemi Covid-19. 

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko B. Witjaksono, saat mewakili Menteri Perdagangan dalam KTM ke-12 WTO ini mengatakan, anggota WTO sepakat untuk menjaga sistem perdagangan multilateral.

“Indonesia optimis bahwa KTM ke-12 WTO dapat menghasilkan respons yang konkret dan mencapai satu titik kesepakatan, khususnya terkait dengan penanganan pandemi yang krusial di seluruh dunia,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/6/2022).

Anggota WTO menaruh perhatian besar untuk merespons serta mengatasi krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 dan upaya untuk mengatasi pandemi di masa mendatang. Salah satu upaya yang dibahas yaitu fleksibilitas kekayaan intelektual bagi produk medis guna menjamin rantai pasokan global.

Pembahasan isu tematik pada KTM ke-12 WTO telah berlangsung sejak 13 Juni 2022 dan terus didorong untuk mencapai kesepakatan. Selain respons terhadap pandemi, isu tematik lain yang dibahas antara lain mengenai perundingan sektor pertanian, subsidi perikanan, moratorium bea masuk atas transmisi elektronik, dan reformasi WTO.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Reformasi WTO

Proyeksi Neraca Perdagangan Indonesia
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (14/4/2022). Kenaikan harga komoditas global di tengah perang Rusia-Ukraina tetap menjadi pendorong utama terjadinya surplus yang besar karena mendorong kinerja ekspor Indonesia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ditegaskan Djatmiko, WTO juga berperan penting dalam menjawab tantangan sebagai organisasi internasional yang relevan dengan perdagangan global saat ini melalui reformasi WTO.

Reformasi WTO menjadi salah satu agenda utama pada KTM ke-12 WTO tentang perlunya mereformasi organisasi dan meningkatkan fungsi WTO untuk kepentingan semua anggota dan sistem perdagangan multilateral. Dalam pertemuan tematik, mayoritas anggota menyampaikan komitmennya dalam menjaga kredibilitas sistem perdagangan multilateral.

“Indonesia percaya bahwa seluruh anggota WTO harus bekerja secara konstruktif untuk memfasilitasi proses inklusif reformasi kelembagaan WTO, terutama untuk memulihkan sistem penyelesaian sengketa WTO. Hal ini merupakan faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan anggota atas sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan (rule-based system),” ujarnya.

Pada pertemuan Kepala Delegasi, Dirjen WTO, Ngozi Okonjo-Iweala meminta agar dalam waktu yang singkat ini anggota dapat bekerja lebih keras untuk menemukan konvergensi atas perbedaan pandangan dan diharapkan mencapai suatu kesepakatan yang bermanfaat bagi anggota WTO dalam pertemuan tingkat menteri ini.

KTM ke-12 WTO yang rencananya berlangsung pada 12–15 Juni 2022, diperpanjang hingga 16 Juni 2022 untuk memfasilitasi adanya capaian pada isu-isu utama pembahasan.


WTO: Krisis di Ukraina Pangkas Pertumbuhan Perdagangan Global

Neraca Perdagangan RI
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina telah memberikan pukulan telak bagi ekonomi global.

Diperkirakan ini akan mengurangi perkiraan pertumbuhan perdagangan global untuk 2022 dari 4,7 persen yang diperkirakan Oktober lalu menjadi antara 2,4 persen dan 3 persen.

Proyeksi tersebut berdasarkan model simulasi ekonomi global, dibuat oleh Sekretariat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam sebuah catatan yang dikeluarkan pada Senin (12/4).

Menurut model yang sama, krisis dapat menurunkan pertumbuhan PDB global sebesar 0,7-1,3 poin persentase, membawanya ke suatu tempat antara 3,1 persen dan 3,7 persen untuk tahun 2022.

Konflik telah mendorong harga pangan dan energi, dan mengurangi ketersediaan barang yang diekspor oleh Rusia dan Ukraina, kata catatan Sekretariat.

Rusia dan Ukraina keduanya merupakan pemasok penting produk-produk penting, terutama makanan dan energi, menurut catatan tersebut.

Kedua negara memasok sekitar 25 persen gandum, 15 persen jelai, dan 45 persen ekspor produk bunga matahari secara global pada 2019. Rusia sendiri menyumbang 9,4 persen dari perdagangan bahan bakar dunia, termasuk 20 persen pangsa ekspor gas alam.

Rusia adalah salah satu pemasok global utama paladium dan rhodium, yang merupakan elemen penting dalam produksi catalytic converter untuk mobil.

Sementara itu, produksi semikonduktor sangat bergantung pada neon yang dipasok oleh Ukraina.

 


Dampak Terberat

Gangguan pada pasokan bahan-bahan ini dapat memukul produsen mobil pada saat industri baru saja pulih dari kekurangan semikonduktor, WTO menyoroti.

Eropa, tujuan utama ekspor Rusia dan Ukraina, kemungkinan akan mengalami dampak ekonomi terberat. Pengurangan pengiriman biji-bijian dan bahan makanan lainnya juga akan menaikkan harga barang-barang pertanian.

Afrika dan Timur Tengah adalah wilayah yang paling rentan, karena mereka mengimpor lebih dari 50 persen kebutuhan sereal mereka dari Ukraina dan/atau Rusia. Secara total, 35 negara di Afrika mengimpor pangan dan 22 mengimpor pupuk dari Ukraina, Rusia atau keduanya.

Beberapa negara di Afrika Sub-Sahara menghadapi potensi kenaikan harga hingga 50-85 persen untuk gandum, sebagai akibat dari dampak krisis pada pengiriman biji-bijian, kata catatan itu.

"Krisis saat ini kemungkinan akan memperburuk kerawanan pangan internasional pada saat harga pangan secara historis sudah tinggi karena pandemi COVID-19 dan faktor lainnya," demikian peringatannya.

Infografis Dampak Larangan Ekspor CPO dan Produk Turunannya. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Dampak Larangan Ekspor CPO dan Produk Turunannya. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya